Posted by: amgy | December 11, 2012

TOLERANSI DAN PERMASALAHANNYA
Analisis terhadap fenomena kehidupan beragama

Adeng Muchtar Ghazali
Dasar Pemikiran
Dalam pendekatan budaya, sosial dan politik, istilah toleransi merupakan simbol kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik atau saling berkonfrontasi untuk kemudian bahu-membahu membela kepentingan bersama, menjaganya dan memperjuangkannya. Demikianlah yang bisa kita simpulkan dari celotehan para tokoh budaya, tokoh sosial politik dan tokoh agama diberbagai negeri, khususnya di Indonesia . Maka toleransi itu adalah kerukunan sesama warga negara dengan saling menenggang berbagai perbedaan yang ada diantara mereka. Sampai batas ini, toleransi masih bisa dibawa kepada pengertian syariah islamiyah. Tetapi setelah itu, sejalan dengan perkembangan dan dinamika kehidupan masyarakat, maka pengertian toleransi bergeser semakin menjauh dari batasan-batasan Islam, sehingga cenderung mengarah kepada sinkretisme agama-agama, bahkan dinilai “semua agama sama baiknya”. Tentu saja, prinsip ini menolak kemutlakan doktrin agama-agama, yang menurut doktrin Islam menyatakan bahwa kebenaran hanya ada dalam Islam. Kalau pun ada perbedaan antara kelompok Islam dengan kelompok non muslim, maka segera dikatakan bahwa perkara agama adalah perkara yang sangat pribadi sehingga dalam rangka kebebasan, setiap orang merasa berhak berpendapat tentang agama ini, mana yang diyakini sebagai kebenaran.
Tuntutan terhadap toleransi beragama tidak hanya berasal dari pertimbangan-pertimbangan teologis maupun relijius, tetapi juga merupakan tuntutan yang dikedepankan ketika keseluruhan struktur masyarakat berada dalam situasi kritis, kemudian berbagai teori dikembangkan untuk membangun sebuah masyarakat baru, meninggalkan sistem sosial lama yang tradisional agar lebih bebas menciptakan masyarakat baru yang lebih modern. Oleh karena itu, membicarakan toleransi beragama atau toleransi dan kebebasan beragama dengan sendirinya menggiring kita masuk ke dalam wilayah pemikiran konstitusional dan sosial pada permulaan zaman modern.
Penggunaan istilah modern dalam konteks toleransi dan kebebasan beragama, sebagaimana pandangan Schumann di atas, memiliki pengertian tersendiri. Menurutnya, istilah “modern” harus dikaitkan dengan society dan bukan pada lingkup kemajuan ilmu pengetahuan mutakhir. Tetapi yang dibicarakan disini dalam konteks progress, yang berarti kemajuan dan bukan modernitas. Seseorang yang menggunakan teknologi maju tidak selalu berarti menjadi manusia modern. Para diktator yang mempertahankan cara hidup kuno dan tradisional seringkali mempergunakan peralatan-peralatan maju. Namun tidak dengan sendirinya mereka dianggap sebagai manusia modern. Istilah modern mengandung pengertian kepada “perubahan sikap mental dan cara berfikir”. Modernitas berkaitan dengan kemanusiaan dan bukan teknologi. Oleh karena itu, persoalan toleransi dan kebebasan beragama membawa pada persoalan mendasar tentang kemanusiaan atau antropologi. Melalui pertimbangan ini, maka persoalan kebebasan dan toleransi beragama menjadi permasalahan teologis.
Supaya tercipta kerukunan, maka persoalan toleransi beragama harus didekati dari dua aspek, yaitu dari aspek praktis dan teoritis. Secara praktis, toleransi berkenaan dengan kehidupan nyata, bahwa kehidupan masyarakat adalah majemuk yang didalamnya semua anggotanya diterima meski memiliki agama, kepercayaan, dan afiliasi yang berbeda. Ini adalah awal dari kelahiran konsep kewarganegaraan modern. Sedangkan aspek teoritisnya, berkaitan dengan penekanan utama dari gerakan pencerahan yang bertujuan membentuk sebuah masyarakat baru. Hal ini bisa terwujud jika seluruh anggota masyarakat memberikan kontribusi dengan keyakinan dan dedikasi yang tulus.
Sebagai masyarakat yang majemuk termasuk didalamnya masalah keberagamaan, sudah seharusnya masyarakat lebih terbuka dan dewasa dalam berfikir, dan semangat lebih toleran dalam hidup bersama. Di sinilah makna sebenarnya dari toleransi beragama, yaitu suasana sejuk, saling memelihara, dan mendukung dalam suasana kemajemukan. Toleransi semakin baik, maka terbangun dialog konstruktif dan berdayaguna yang mampu menumbuhkan sikap dan atmosfir keberagamaan yang semakin terbuka, plural, dan inklusif. Pemahaman keagamaan para penganut agama akan semakin kritis dan bertanggung jawab; sebaliknya, pemahaman yang eksklusif, tertutup, dan bahkan sempit, justru menyebabkan saling menjauh antara satu dengan yang lain, bahkan tidak menutup kemungkinan muncul konflik dan menyuburkan sentimen keagamaan. Sangat disayangkan, yang seharusnya agama membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi manusia, sering dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompok.
Olaf Schumann menyebutkan adanya lima dimensi toleransi antarumat beragama yang satu sama lainnya saling berkaitan, yaitu :
1. Dimensi praktis sosial; keterbukaan untuk menerima secara empatetis keberadaan dan aktifitas umat beragama lain di segala lapangan kehidupan yang diarahkan oleh ajaran-ajaran etis-moral masing-masing agama.
2. Dimensi ritual religius; keterbukaan untu menerima secara empatetis cara-cara dan bentuk-bentuk ekspresi ritual simbolik kehidupan beragama dari umat beragama lain.
3. Dimensi doktrinal/ajaran; keterbukaan memahami secara empatetis pernyataan-pernyataan dan klaim-klaim doktrinal/akidah yang dipercaya umat beragama lain, yang bersumber dari kitab suci dan tradisi-tradisi keagamaan masing-masing yang terus mengalami aktualisasi dan perkembangan.
4. Dimensi perziarahan kehidupan beriman; keterbukaan untuk mengakui secara timbal balik bahwa setiap umat beragama sedang menempuh ziarah atau perjalanan kehidupan beriman, yang dimulai dari generasi-generasi perdana setiap umat yang bersangkutan dalam sejarah di dalam konteks sosial masing-masing, dan dilanjutkan secara kreatif dan dinamis oleh setiap umat beragama kontemporer dalam konteks sosial masing-masing.
5. Dimensi spiritualitas dan religiositas; setiap pihak dalam relasi antar umat beragama perlu mengalami perjumpaan yang akrab dan intim dengan Realitas lain yang transenden, Realitas Spiritual, yang menjadi pusat batiniah yang dari dalamnya muncul motivasi untuk hidup dalam kebajikan dan cinta kepada sesama manusia – motivasi yang membuat toleransi antarumat beragama menjadi suatu tugas panggilan spiritual.
Melalui aktualisasi ke dalam dunia sosial-historis, lima dimensi agama di atas menjadi fungsional, yaitu bisa mempengaruhi atau memberi dampak pada masyarakat. Tercipta atau tidaknya toleransi antarumat beragama dapat memberikan dampak teretentu pada masyarakat yang bergantung pada dua faktor, yaitu faktor internal dalam agama itu sendiri, dan faktor eksternal di dalam masyarakat.
Setelah menganalisis dasar-dasar teologis dan sosial tentang toleransi sebagaimana dikemukakan di atas, maka bagi umat beragama, khususnya umat Islam berkewajiban, baik secara moral maupun sosial, untuk melakukan tindakan-tindakan toleransi. Sepantasnya, penanaman nilai-nilai, pembiasaan tindakan-tindakan rukun dan toleran, harus menjadi warna dalam pergaulan sosial, termasuk ditanamkan (salah satunya) melalui pendidikan formal. Sebab, pendidikan bisa menjadi alat yang paling tepat untuk menghindari nirtoleransi, dan melalui pendidikan pula bisa mengajar orang-orang tentang hak-hak dan kebebasan bersama untuk saling menghormati dan melindungi. Tentu saja, dalam proses pendidikannya, diperlukan metode dan materi pembelajaran kerukunan dan toleransi yang sistimatis dan rasional, sehingga nilai-nilai kerukunan dan toleransi antar umat beragama bukan hanya tindakan-tindakan berdasarkan kepentingan “stabilitas keamanan” semata, tetapi jauh dari itu, tindakan kerukunan dan toleransi harus berdasarkan atas ‘kesadaran dalam beragama’.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyoroti beberapa faktor yang menjadi penyebab sekaligus hambatan terwujudnya toleransi, terutama menyoroti dari kalangan internal penganut agama yang berpengaruh terhadap pergaulan antar umat beragama.
Pemahaman Agama
Seringkali persoalan keagamaan yang muncul adalah terletak pada problem penafsiran, atau pemahaman, bukan pada benar tidaknya agama dan wahyu Tuhan itu sendiri . Sehingga, masalah kerukunan keagamaan termasuk didalamnya dialog antar umat beragama harus menjadi wacana sosiologis dengan menempatkan doktrin keagamaan sebagai dasar pengembangan pemuliaan kemanusiaan. Menurut Ninian Smart, bertambahnya pengetahuan atau pemahaman akan berakibat melunakkan permusuhan, dan dalam tahap ini berarti meningkatkan kesepakatan.
Dalam hubungannya dengan pemikiran di atas, kita bisa melihat kondisi kehidupan beragama sekarang ini, konflik antar umat beragama misalnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Fenomena ini tidak hanya didasarkan atas perbedaan agama, tetapi juga terjadi antara orang atau antar kelompok di lingkungan agama yang sama akibat perbedaan pemahaman. Oleh karenanya, kerukunan yang perlu dibangun bukan hanya kerukunan antar agama semata, melainkan juga kerukunan antar orang atau kelompok dalam agama yang sama.
Di samping pemahaman agama yang berbeda, kiranya konflik berwajah agama perlu dilihat dalam kaitan-kaitan politis, ekonomi, ataupun sosial budayanya. Seandainya dapat dibenarkan bahwa konflik itu murni konflik bernuansa agama, maka kerukunan sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi. Padahal, sejatinya semua agama menyentuh keluhuran martabat manusia. Agama lah yang membangun nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan hak asasi manusia. Makin mendalam rasa keagamaan seseorang, maka makin mendalam pula rasa keadilan dan kemanusiaannya. Seandainya tidak demikian, bukanlah agama, apalagi manusia beragama.
Klaim Kebenaran (truth claim)
Setiap agama memiliki kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Dalam tataran sosiologis, klaim kebenaran berubah menjadi simbol agama yang dipahami secara subyektif personal oleh setiap pemeluk agama. Nampaknya, setiap orang memang sulit melepaskan kerangka (frame) subyektivitas ketika keyakinan pribadi berhadapan dengan keyakinan lain yang berbeda. Sekalipun alamiah, namun setiap manusia mustahil menempatkan dua hal yang saling berkontradiksi satu sama lain dalam hatinya. Oleh karena itu, setiap penganut agama tidak harus memaksakan inklusivismenya pada orang lain, yang menurut kita eksklusif.
Standar Ganda (Double Standars)
Hugh Godard , seorang Kristiani yang ahli teologi Islam di Nottingham University, Inggris, memberikan contoh bahwa “hubungan Kristen dan Islam kemudian berkembang menjadi kesalahpahaman, bahkan menimbulkan suasana saling menjadi ancaman di antara keduanya, adalah suatu kondisi berlakunya “standar ganda” (double standars). Orang-orang Kristen maupun Islam selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, sedangkan terhadap agama lain mereka memakai standar lain yang lebih bersipat realistis dan historis. Misalnya, dalam masalah teologi, ada standar yang menimbulkan masalah klaim kebenaran : “agama kita adalah agama yang paling sejati karena berasal dari tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia. Agama lain mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah dirusak, dipalsukan oleh manusia”. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya. Lewat standar ganda inilah, kita menyaksikan munculnya prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh suasana hubungan antar umat beragama.
Dalam hubungannya dengan itu, Arthur J. D’Adamo, seorang ilmuwan sekuler (ahli Matematika abad 20 ini), menyatakan bahwa “berbagai kompleksitas hubungan antar umat beragama ini, dengan berbagai standar ganda, sering dianggap sebagai tanda ketidakkritisan cara berfikir agama, atau dalam istilahnya disebut sebagai religion’s way of knowing. Oleh karena itu, “cara mengetahui agama” ini dianggap sebagai akar konflik-konflik teologis, yang menurutnya berawal dari sebuah standar tentang agamanya sendiri – bahwa kitab sucinya itu yang merupakan sumber kebenaran – yang sepenuhnya diyakini. Sehingga, standar-standar : (1) bersipat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran, tanpa kesalahan sama sekali; (2) bersipat lengkap dan final – dan karenanya memang tidak diperlukan kebenaran dari agama lain; (3) meyakini kebenaran agamanya sendiri dianggap sebagai satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan ataupun pembebasan; dan (4) meyakini bahwa seluruh kebenaran itu diyakini orisinal berasal dari Tuhan, tanpa konstruksi manusia. Keempat standar ini semuanya diterapkan kepada agamanya sendiri sebagai “standar ideal”. Sebaliknya, standar lain yang sepenuhnya terbalik, lebih realistis dan historis, diterapkan kepada agama lain. Sebagai konsekuensinya, melalui religion’s way of knowing ini, jadilah agama kita sebagai “agama yang paling sempurna di dunia ini”.
Menurut Nurcholish Madjid, bahwa untuk menghindarkan diri dari penilaian standar ganda dalam melihat agama lain, yaitu dengan cara kita membaca agama kita dengan sisi-sisi ideal dan membandingkan agama lain dengan sisi-sisi real. Pada dasarnya setiap agama memiliki sisi-sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang sangat dibanggakan oleh penganut suatu agama jika mereka mulai mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Namun demikian, setiap agama pun memiliki sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungannya atau kesalahankesalahan sejarah yang bisa dinilai dari sudut pandangan sekarang sebagai memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal lain agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas suatu agama – baik yang agung maupun yang memalukan – dengan realitas agama lain yang agung dan memalukan itu.
Berdasarkan perkembangan kehidupan beragama dewasa ini, maka yang perlu dikembangkan adalah suatu teologi dan dialog inklusif sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan sikap-sikap pluralistis di antara agama. Tanpa sikap inklusivitas tidak mungkin berkembang sikap-sikap pluralis. Salah satu sikap pluralistis adalah bersedianya berdialog, dan sebagai tujuan dari dialog antar agama adalah, salah satunya, “kesalingpahaman”. Misinya adalah mengkomunikasikan pandangan masing-masing dalam rangka menjembatani ketidaktahuan dan kesalahpahaman antara satu dan lain agama. Membiarkan setiap penganut agama mengungkapkan pandangan teologis mereka dengan ekspresi bahasa mereka sendiri.
Membesar-besarkan Perbedaan
Tantangan agama-agama dewasa ini, adalah menjadi problema atau hambatan bagi suasana dan perkembangan dialog dan kerukunan antar umat beragama. Dalam melihat dan memahami perkembangan kehidupan agama dan keberagamaan sekarang, pada umumnya cenderung melihat perbedaannya ketimbang persamaannya. Namun demikian, kecenderungan melihat perbedaan itu pun tidak perlu disalahkan karena setiap orang beriman senantiasa ingin mencari, menggenggam dan membela kebenaran yang diyakininya berdasarkan pengetahuan dan tradisi yang dimilikinya. Sikap demikian sangat terpuji selama tidak menimbulkan situasi sosial yang destruktif. Secara empiris adalah suatu kemustahilan jika kita mengidealisasikan munculnya kebenaran tunggal yang tampil dengan format dan bungkus tunggal, lalu ditangkap oleh manusia dengan pemahaman serta keyakinan yang seragam dan tunggal pula. Oleh karena itu, tantangan yang selalu dihadapi antara lain adalah bagaimana merumuskan langkah konstruktif yang bersipat operasional untuk mendamaikan berbagai agama yang cenderung mendatangkan pertikaian antar manusia dengan mengatas namakan kebenaran Tuhan.
Usaha itu tidak hanya diarahkan pada hubungan antar pemeluk agama secara eksternal, melainkan terlebih dahulu diarahkan pada hubungan intra umat beragama. Seseorang akan sulit bersikap toleran terhadap agama lain jika terhadap sesama pemeluk agama yang sama saja sulit untuk menghargai perbedaan paham yang muncul. Pada sisi lain, seringkali kita jumpai pula, konflik antara pemeluk agama semakin tidak jelas manakala kepentingan agama sudah berbaur dengan kepentingan etnis, politis dan ekonomis . Lihat, misalnya dalam beberapa kasus, seperti di Maluku, Sampit, Poso, dan peristiwa-peristiwa “yang berbau” konflik dan kekerasan atas nama agama lainnya, ataupun kekerasan karena perbedaan pandangan (madzhab) dalam satu agama. Fakta kekerasan ini pada dasarnya bisa dirujukkan pada beberapa alasan berikut:
1. Kurangnya pemahaman atas ajaran keagamaan yang menanamkan nilai-nilai toleransi terhadap pandangan dan keyakinan orang lain.
2. Kondisi sosio-ekonomi masyarakat yang rentan gesekan dan perpecahan, ditambah lagi persoalan keyakinan adalah persoalan yang sangat sensitif.
3. Kebijakan pemerintah yang kurang memfasilitasi fakta pluralitas keyakinan dan kehidupan keberagamaan secara umum.

Beberapa konflik dan kerusuhan sebagaimana sering terjadi di tanah air telah menjadi problema kebangsaan yang tak pernah surut dalam sejarah bangunan Indonesia, dan sekaligus tak pernah berakhir di ujung penyelesaian. Untuk itu, perlu diapresiasi masalah-masalah kebangsaan ini dengan melihat beberapa hal di bawah ini :
1. Masalah integrasi; keragaman masyarakat Indonesia yang bisa memicu konflik, tak hanya terbatas pada perbedaan suku dan budaya, tetapi juga perbedaan agama. Untuk itu, diperlukan kesadaran komunitas bagi setiap elemen dan identitas manusia Indonesia untuk bersatu;
2. Masalah legitimasi politik kekuasaan; sejak orde lama sampai sekarang, masalah legitimasi sering diasosiasikan sebagai legitimasi dari atas (Tuhan). Sekalipun melalui kesepakatan DPR/rakyat, tetapi sering dipandang sebagai “restu atas”, atau takdir Tuhan. Implikasinya, legitimasi yang dinikmati oleh pemegang kekuasaan tidak dapat digugat bahkan diperlakukan sebagai subversif. Tidak heran, di masyarakat terjadi polarisasi antara ‘in group’ (minna) dan ‘out group’ ( minhum);
3. Masalah identitas; krisis yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia adalah krisis spiritual, iman dan cinta. Krisis ini terjadi karena masyarakat Indonesia sudah terkooptasi oleh kehidupan modern – meminjam istilah filsafat perennial – “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”-nya. Masyarakat cenderung melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensinya itu, tidak pasda “pusat spiritualitas” dirinya, sehingga ia lupa siapa dirinya.
Tantangan lain yang dihadapi sekarang ini berkaitan dengan munculnya “ketidakpercayaan” manusia kepada agama formal (organized religions). Akhir-akhir ini muncul istilah New Age, zaman Baru, dimana ada usaha meninggalkan agama-agama yang terorganisasi (organized religions) yang dipandangnya cenderung miskin akan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Muncul dalil dari John Naisbitt dan istrinya Aburdene untuk menyimpulkan dalam satu statemen: “spirituality, yes; organizes religion, no!”. Bagi para penganut New Age, agama-agama formal (organized religions) tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal, sehingga ritus-ritus formal dan label-label yang membungkusnya akan semakin ditinggalkan orang. Thomas Jefferson dan Albert Einstein adalah dua tokoh terkemuka sebagai penganut aliran semacam deisme alami ini.
Kemunculan New Age, berawal dari penilaiannya bahwa kebangkitan peradaban Barat kosong dari nilai-nilai spiritualitas dan lepas dari tuntunan ajaran-ajaran keagamaan Kristen, yang menjadi agama resmi saat itu. Karena itu, gerakan New Age berpaling dari agama-agama Barat untuk kemudian mengarahkan kepada agama-agama Timur semisal Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, agama asli Amerika, dll. Namun demikian, karena agama-agama Timur yang formal itu juga terkadang cenderung tidak toleran terhadap keyakinan yang dipegang oleh pemeluk agama yang berbeda, maka gerakan New Age tidak terbatas hanya pada satu keyakinan saja, tetapi mencampur adukkan pemikiran-pemikiran esoteris agama-agama formal itu. Salah satu fenomena New Age yang paling ekspresif, adalah menjadikan istilah “Tao” sebagai istilah kepustakaannya, suatu istilah yang mencoba melakukan perpaduan rasionalitas Barat dengan kearifan Timur. Seolah-olah Tao menjadi bagian dari bahasa Inggris untuk menunjukkan “kearifan”. Tidak heran muncul judul-judul buku yang berparadigma Tao, seperti The Tao of management, the Tao of Leadershif, dll. Dalam refleksi keagamaan ditemukan pula the Tao of Jesus (1994), the Tao of Islam (1993) tulisan seorang ahli sufi Sachiko Murata.
Bagi setiap muslim, penting untuk mernghadirkan ajaran-ajaran agama kepada mereka untuk bisa membuktikan bahwa betapa pentingnya peran keyakinan akan ketuhanan (menanamkan nilai-nilai ilahiyah, sebab kehidupan manusia yang otentik adalah yang tetap dan menjaga terus “tali” yang menghubungkan kemanusiaannya dengan nilai-nilai ketuhanan. Demikian juga halnya, agama dituntut melahirkan ajaran-ajaran yang lebih menyentuh nilai-nilai kemanusiaan tidak bersipat artifisial, bombastis dan verbalisme, yang sebenarnya hanya “di langit” saja. Demikian pula sebaliknya, ajaran agama tidak bisa hanya mewajibkan para penganutnya untuk secara formal menjalankan ritus-ritus yang diwajibkan, yang jika dilakukan diberi ganjaran (reward) dan jika diabaikan diberi siksa (punishment). Agama justru harus dihadirkan sebagai suatu kesadaran yang menjadi bagian dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sebab, pada dasarnya ajaran itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan.
Untuk itu, kenyataan dan tantangan yang kita hadapi adalah terjadinya kesenjangan antara ajaran dan pelaksanaan. Banyak orang yang mengaku dan menganut agama tetapi tidak beragama, dalam pengertian lain, banyak yang mengakui kewajiban dan pelarangan agama, tetapi tidak melaksanakan dan melanggarnya. Persoalannya, apakah “kesalahan” itu ada pada agama atau penganutnya? Nurcholish Madjid mempertegas, bahwa “jika agama tidak dapat mempengaruhi tingkah laku pemeluknya, maka apalah arti pemelukan itu?” Kenyataannya, banyak orang yang sangat serius memeluk agamanya tanpa peduli tuntutan nyata keyakinannya itu dalam amal perbuatan dan tingkah laku. Sementara, sering ditemukan adanya orang-orang yang memiliki komitmen positif pada masalah sosial, tanpa memperdulikan pada keyakinannya “kesalehan tanpa iman” (piety without faith).
Menghidupkan Kembali Dialog Kerukunan
Di Indonesia, dialog antar umat beragama mulai mendapat perhatian sejak tahun 1960-an, terutama setelah berdirinya Orde Baru. Musyawarah kerukunan beragama yang diprakarsai oleh Depag telah berlangsung pada tahun 1967. Kemudin berbagai pertemuan di tingkat pemuka agama berlangsung di banyak daerah, sekitar masalah kerukunan dan toleransi beragama. Dialog yang diselenggarakan atas prakarsa tokoh agama/lembaga keagamaan terjadi, antara lain di Jawa Barat, khususnya di Sukabumi (misalnya tahun 1967, 1968, dan 1971), atas prakarsa Panglima Divisi Siliwangi di Garut (1967) dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1973). Mukti Ali, semasa menjabat Menteri Agama, paling gencar mengupayakan terciptanya dialog antarumat beragama. Semboyannya yang terkenal adalah “dialog dan bukan apolog”. Untuk mengembangkan kerukunan, pemerintah pernah menyelenggarakan semacam proyek yang disebut “Proyek Pelita Dialog Antarumat Beragama” yang dipusatkan di ibukota-ibukota propinsi (1972-1975).
Dialog diperlukan dalam rangka mengenal dengan tepat budaya dan kebiasaan satu sama lain, sehingga dapat membangun hubungan yang lebih toleran. Dialog tidak hanya berguna untuk membina persatuan, melainkan juga dibutuhkan demi pemerkayaan dan pengakaran iman dari setiap pemeluk agama. Perjumpaan dengan agama lain dapat mendorong untuk memperdalam keyakinan kita sendiri dan memurnikannya.Perjumpaan tersebut akan mengarahkan orang pada refleksi pribadi untuk melihat kembali pengalaman penghayatan agamanya secara lebih kritis.
Toleransi mesti dibangun atas dasar pemahaman dan pengakuan bahwa kita semua orang beragama adalah orang yang sama-sama berjuang mencari dan menemukan Tuhan, sumber dan tujuan hidup manusia beragama. Sekalipun pada kenyataannya berbeda, tetapi keperbedaan ini tidak menjadikan di antara manusia beragama asing bahkan bermusuhan. Oleh karena itu, sebagai manusia beragama yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menuju Tuhan, sekalipun melalui jalan yang berbeda, maka sebaiknya dikembangkan saling mengenal, saling tahu, saling mengerti, dan saling menghormati. Dengan demikian, dialog yang berlangsung dengan baik bukan saja bisa mencegah kesalahfahaman dan permusuhan, melainkan lebih dari itu, dapat saling mendukung keberadaan agama masing-masing dan dapat memperkaya pemahaman dan penghayatan iman dari masing-masing umat beragama. Dialog mendorong umatnya untuk membina kerukunan hidup.
Dialog tidak hanya perlu dilakukan antar agama, tetapi bisa dilakukan antar internal agama. Tidak bisa dipungkiri, kesalahpahaman dan perbedaan pemahaman bisa terjadi dikalangan mereka yang satu agama. Misalnya, antara Muslim yang satu dengan Muslim lainnya. Atau, antara Jemaat Kristen Protestan yang satu dengan Jemaat Kristen Protestan lainnya; antara kelompok pemeluk agama Buddha dengan kelompok Buddhis yang lain, dan sebagainya. Di lingkungan umat Islam, misalnya, ada Islam Suni, Islam Syi’ah, Islam Muhammadiyah, Islam Persis, LDII, dan lain sebagainya. Di lingkungan Jemaat Kriten Protestan ada kelompok-kelompok yang berbeda pandangan , baik yang tergabung dalam Dewan Gereja maupun yang berada diluarnya, seperti Adven, Pantekosta, Kristian Sain, Mormon, dan lain-lain. Di lingkungan Gereja Kristen Katolik, ada Katolik Roma dan Katolik Ortodoks. Di lingkungan agama Hindu (Hindu Dharma) ada aliran Vaiskava (pemuja Wisnu), aliran Saiva (pemuja Siwa), dan aliran Satria (pemuja Dewi). Demikian pula di lingkungan agama Buddha, ada aliran Mahayana dan aliran Theravada.
Pada tahap selanjutnya, dialog dibangun atas dasar kemauan bersama, bukan atas desakan sosial atau politik. Kemauan bersama akan membangun konsensus yang kuat yang dilatarbelakangi oleh dimensi kultural-relijius. Dasar inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai kemauan sosial pemeluk agama. Sebab, hanya dengan langkah ini, terapi dan antisipasi sosial akan memberikan implikasi positif terhadap konstruk relasi sosial antar pemeluk agama. Setidaknya, ada tiga hal penting yang memperkuat konstruk relasi tersebut. Pertama kesadaran relijius. Hal ini akan memperkokoh pandangan umum bahwa inti ajaran agama adalah kedamaian dan penyerahan diri kepada Tuhan. Kedua kesadaran rasional. Bekal ini sangat efektif membangun jaringan kerjasama di atas landasan common platform dan framework menuju kualitas keberagamaan sesama pemeluk dan antar pemeluk agama. Ketiga kesadaran sosial dan kultural. Harus diakui bahwa realitas sosial dan kultural berujung pada satu kesimpulan, pluralitas yang mencerminkan kehidupan sejati umat manusia.
Ketiga hal tersebut di atas harus terinternalisasi di kalangan pemeluk agama, dan sekaligus merupakan dasar hidup seseorang, baik sebagai seorang pemeluk agama maupun sebagai bagian dari kelompok warga masyarakat yang beradab. Oleh karenanya, model dialogis antar pemeluk agama tidak akan menjadi ruang yang sempit bagi potret kehidupan umat beragama.
Jelaslah, bahwa dialog antar umat beragama adalah satu bentuk aktivitas yang menyerap ide keterbukaan. Dialog ini amat penting dikarenakan trauma historis dan politis yang panjang begitu menyelimuti kehidupan pemeluk agama. Dialog antar agama bukanlah melakukan deviasi terhadap ajaran-ajaran dasar masing-masing agama. Dialog mencerminkan tiga kesadaran sekaligus yaitu kesadaran relijius, rasional, dan kesadran sosial-kultural. Dari sikap dialogis ini, diharapakan menuju kepada sikap praksis. Artinya, sedapat mungkin dialog yang dibangun membuahkan kerangka kerja riel di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Jadi, dialog tidak hanya berhenti dalam skala wacana dan perdebatan semata, tetapi juga “membumi” dalam menjawab realitas kehidupan sosial. Dalam hal ini dapat dicermati apa yang dicanangkan oleh aliansi NU dan Muhammadiyah beberapa waktu lalu seputar pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai musuh bersama bagi seluruh umat beragama, adalah suatu langkah praksis yang terpuji, dan patut didukung oleh semua pihak. Di sini akan kelihatan bahwa kemauan bersama untuk menggalang kekuatan bersama tumbuh dan berkembang dari arus bawah, atau tepatnya, agama mampu tampil dan angkat bicara dalam persoalan sosial, khususnya beberapa hal yang dipandang sebagai patologi sosial. Tentunya, tidak hanya korupsi, tetapi juga, judi, miras, prostitusi, pengangguran, kemiskinan, pendidikan, dan sebagainya. Langkah ini merupakan lanjutan dialog yang pernah dilakukan. Sembari membangun kualitas keberagamaan masing-masing pemeluk agama, ternyata agama dapat diberdayakan menuju terciptanya garansi sosial kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang berkualitas, aman, tertib, dan harmonis.
Memang, saat ini semakin banyak dilakukan pengkajian tentang kerukunan hidup umat beragama. Pola-pola pembinaan kerukunan dengan paradigma yang kurang mengakar dan kurang komprehensif sehingga menghasilkan kerukunan yang tipis “hanya di kulit”, rapuh dan semu harus mulai ditinggalkan, digantikan dengan paradigma dan pola-pola yang lebih mengakar dan komprehensif. Problema sosial keagamaan akan terus mengalir, bahkan untuk kasus-kasus tertentu rawan konflik seperti pendirian rumah ibadah, penyiaran agama, bantuan luar negeri, perkawinan beda agama, perayaan hari besar keagamaan, penodaan agama, dan kegiatan aliran sempalan.
Berkaitan dengan upaya-upaya pengembangan atau idealisasi kerukunan umat beragama pada masa kini dan selanjutnya, tampaknya kewajiban kita semua sebagai sivitas akademi UIN untuk mematangkan dan sekaligus mencontohkan bagaimana menjalani hidup ini dengan penuh kerukunan. Wallahu a’lam

Kepustakaan :
Adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, Pustaka Setia, Bandung, 2005
__________, Agama dan Keberagamaan dalam Konteks Perbandingan Agama, Pustaka Setia Bandung, 2004
__________(ed), Otonomi Pendidikan, Lembaga Penelitian UIN SGD Bandung, 2008
Ahmad Norma Permata, (ed), Metodologi Studi Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000
Antonius Atoshoki, dkk, Relasi dengan Tuhan, PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta, 2006 (cetakan keempat)
A. Munir Mulkhan, salah satu tulisannya: “Humanisme Agama-agama Dalam Al-Qur’an”, termuat dalam buku Andito (ed)
Ahmad Barizi, “Membangun Kesadaran dan Kearifan Universal”, dalam Harmoni, Jurnal Multikultural & Multireligius, Vol. III, Nomor 9, Januari-Maret 2004, Puslitbang Kehidupan Beragama, Badan Litbang & Diklat Keagamaan Depag RI
Andito,ed, Atas Nama Agama, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998
Budhy Munawar Rahman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Paramadina, Jakarta, 2001
Einar M. Sitompul, Gereja Menyikapi Perubahan, BPK Gunung Mulia, Jakarta,
Grose & Hubbard (ed), Tiga Agama Satu Tuhan, Terjemahan Santi Indra Astuti, Mizan, Bandung, 1998
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996
Muhammad Wahyuni Nafis (editor), dalam mengantarkan buku Rekonstruksi dan Renungan : Religius Islam, Paramadina, Jakarta, 1996
Nurcholish Madjid, “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No.1 Vol.IV, Th. 1993
__________, Tradisi Islam, Peran Dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, Paramadina, Jakarta, 1997
Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
UNESCO-APNIEVE, Belajar Untuk Hidup Bersama Dalam Damai Dan Harmoni, Kantor Prinsipal Unesco untuk Kawasan Asia-Pasifik, Bangkok, dan Universitas Pendidikan Indonesia, 2000

Posted by: amgy | March 18, 2011

AGAMA IBRAHIM DALAM PENDEKATAN STUDI AGAMA-AGAMA

Adeng Muchtar Ghazali

A. Pengertian

Nama “Ibrahim” banyak menarik perhatian para sarjana. Ada yang mengatakan bahwa nama itu diambil dari suatu kata-kata dalam bahasa Semitik kuno di Babilonia yang mengandung arti “menyeberang” atau “mengembara”. Karena itu anak turunnya pun disebut bangsa Habiru atau Ibrani (Arab: Ibrani, Inggris: Hebrew), yang menunjukkan pengertian sebagai bangsa pengembara atau nomad. Dan kata-kata Arab ‘Ibrani’ adalah satu akar dengan kata-kata ‘abara’ yang artinya “menyeberang” atau “melintas”. Disebut orang Habiru atau Ibrani, karena Ibrahim mengembara, meninggalkan tumpah darahnya, yaitu Kaldea di kawasan Babilonia (di lembah Mesopotamia atau dua sungai, yaitu Efrat dan Tigris, Irak sekarang).[1]

Sedangkan dalam Encyclopedia of Religion, nama Ibrahim (atau, nama Ibrani :Avraham) menunjukkan leluhur bangsa Ibrani dari garis Ishak dan Ya’qub serta leluhur bangsa Arab dari garis Isma’il.[2]

Ibrahim pertama kali mengembara menuju ke utara dan untuk beberapa lama tinggal di kota Harran, sebuah kota dekat perbatasan Irak dan Turki sekarang ini. Karena dimusuhi oleh penduduk setempat, sehubungan tantangannya kepada syirik, ia mengembara lagi menuju ke barat sampai akhirnya di Palestina selatan atau Kana’an, menetap dan berkeluarga di sana, sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di suatu tempat yang dinamai menurut namanya sendiri atau nama suku yang dilahirkannya, yaitu Hebron, tidak di al-Quds atau Yerusalem. Dari sudut kedekatan kebahasaan itu sudah nampak pertalian erat antara bangsa-bangsa Semit, khususnya Arab dan Ibrani.[3]

Dalam pandangan Islam (Alqur’an) Ibrahim adalah satu-satunya nabi, selain Muhammad, yang namanya disebut dalam shalat. Karena mengandung makna kesejarahan wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul, maka nama Ibrahim didalam Alquran disebut sebanyak 69 kali dalam 24 surat. Sekalipun demikian, nama Musa lebih banyak lagi, disebut sebanyak 136 kali, tetapi, tidak sebagaimana Ibrahim, nama Musa tidak disebut sebagai nama atau judul sebuah surat.[4]

Dalam sejarah kenabian Islam, Ibrahim berputrakan Isma’il dan Ishaq. Isma’il lahir dari istrinya Hajar, seorang bekas budak wanita Mesir hadiah Fir’aun. Diberi nama “Isma’il” (diarabkan dari bahasa Ibrani, eshma-El, Allah telah mendengar), karena Ibrahim meyakini kelahiran anaknya itu adalah berkat do’anya yang telah didengar Allah. Sedangkan Ishaq, yang beberapa tahun lebih muda daripada Isma’il, lahir dari istri Ibrahim pertama, yaitu Sarah. Dinamakan “Ishaq” (diarabkan dari nama Ibrani izaak yang artinya “tertawa”) karena konon Sarah tertawa ketika menerima berita suci dari Malaikat bahwa dia akan mengandung meskipun lanjut usia. Dari Isma’il hanya memiliki turunan seorang nabi, yaitu Muhammad SAW, sedang dari keturunan Ishaq tampil banyak nabi dan rasul. Para nabi dan rasul yang banyak tampil di Palestina itu adalah keturunan nabi Ya’qub, anaknya Ishaq, cucunya Ibrahim. Ya’qub inilah yang digelari “Isra-El” (Israil) yang artinya “Hamba Allah”, atau “seorang pemuda yang berjalan diwaktu malam untuk memperjuangkan tegaknya kebesaran Allah”[5], maka keturunannya disebut “Bani Israil” (Anak-turun Israil).[6]

Nabi Ya’qub atau Israil punya anak dua belas orang, sepuluh dari istri pertamanya dan dua dari istri keduanya. Dari yang sepuluh itu, dua yang terkenal yaitu Yehuda dan Levi, dan dua anak dari istri keduanya, yaitu Yusuf dan Benyamin, juga sangat terkenal karena mereka mewarnai sejarah Bani Israil. Adalah Yusuf, yang dalam Islam disebut seorang nabi, karena suatu peristiwa lalu berada di Mesir, dalam lingkungan istana, menjabat sebagai menteri pangan. Sementara itu, nabi Ya’qub dan keluarganya tinggal di Kanaan sampai akhirnya berimigrasi ke Mesir bergabung dengan anaknya, Yusuf, yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi. Di Mesir itulah anak turun nabi Ya’qub atau Bani Israil berkembang biak, dan dalam jangka waktu ratusan tahun lahirlah suatu kelompok etnis, kultural dan keagamaan, yang dikenal sebagai bangsa Yahudi. Mereka tumbuh dan berkembang dalam dua belas suku, mengikuti jalur garis keturunan dua belas anak-anak nabi Ya’qub (Israil).[7]

Dalam sistem keimanan Islam, Ibrahim disebut sebagai “Bapak Para Nabi” (Abul-anbiya). Dalam tiga tradisi agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam sering dijuluki sebagai “Bapak Orang Beriman”.[8] Dengan demikian, membicarakan tradisi Agama Ibrahim – sebagai titik temu agama-agama Semitik Yahudi, Kristen, dan Islam) – dewasa ini telah menjadi suatu kepentingan yang tidak bisa dihindari lagi, bahkan merupakan keharusan. Ketiga agama ini telah berada dalam suatu kondisi sosiologis yang saling mempertemukan satu sama lain.

Agama-agama Semit dari garis keturunan Ibrahim menyatakan diri mereka sebagai karunia yang diturunkan dari surga pada suatu masa tertentu dalam sejarah.[9] Dan Alqur’an menampilkan beberapa tokoh (orang Yahudi dan Kristen) sebagai “mereka yang telah diberi Kitab Suci”, atau “ahli Kitab”, atau “orang-orang yangn menyampaikan peringatan”.[10]

Dalam konteks itu, maka sudah pasti Muhammad Rasulullah memiliki kesamaan hakiki dari segenap pesan kenabian. Dan ini merupakan bukti lanjut bahwa seruannya sama dengan seruan Musa dan Isa – bahkan sama dengan seruan para nabi lainnya. Dengan demikian, kenabian adalah suatu misi yang tidak bisa dipecah-pecahkan. Kita tak boleh mempercayai sebagian di antara mereka dan menolak sebagian lainnya tanpa “mengingkari” sumber wahyu itu sendiri. Memang seruan para nabi itu pertama-tama diutus pada bangsanya sendiri, serta menyampaikan perintah Tuhan menurut bahasa mereka sendiri, tapi seruan mereka bersipat universal, bukan lokal. Jadi, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lain sebagainya adalah nabi-nabi universal.[11]

Hanya saja, menurut Arnold Toynbee[12], dalam perjalanan sejarahnya, ketiga agama wahyu yang muncul dari akar yang sama itu, memiliki suatu tendenasi ke arah eksklusivisme dan intoleransi. Mereka mengklaim sebagai satu-satunya pemilik validitas ultim. Terutama Kristen, sedemikian eksklusif sehingga para pengikut mereka sering merasa cukup untuk memandang agama lain sebagai sesuatu yang tumbuh dari kesalahan, dosa dan niat jahat. Dari situ mereka mentransfer kemutlakan yang merupakan sipat eksklusif dari Yang Ilahi dan Abadi kepada sistem keimanan mereka sendiri, tanpa melihat bahwa kemutlakan Ilahiah ini dapat juga dipahami dalam bentuk-bentuk pemikiran maupun peribadatan yang sepenuhnya berbeda.

Istilah “Abrahamic Religion”, atau agama Ibrahim, adalah sebutan teoritis kepada Yahudi, Kristen, dan Islam, dimana Ibrahim (Abraham) dipandang sebagai leluhur bagi ketiga agama tadi. Oleh karena itu, pembahasan tentang Abrahamic Religion akan membicarakan tentang pandangan tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam tentang Ibrahim, serta pandangan ketiga agama itu tentang “pendiri”nya, yakni Musa, Yesus (Isa), dan Muhammad.

B. Ibrahim (Abraham)

Menurut David Gordis, Seminari Teologi Yahudi yang juga Presiden Hebrew College Brookline, bahwa dalam tradisi Yahudi, Ibrahim merupakan yang pertama dari ketiga bapa bangsa (patriarkh), bersama Ishaq dan Ya’qub. Ibrahim adalah tokoh yang memperkenalkan paham monoteisme, sebagaimana terungkap dalam kitab Kejadian, tapi secara lebih rinci dikembangkan dalam literatur Midrash[13], yang mencakup pandangan satu Tuhan yang ditemukan Ibrahim, penolakannya pada pemujaan berhala, dan kepergian Ibrahim dari tanah kelahirannya serta politeisme yang berkembang di sana. Ibrahim, tidak saja membuka lembaran baru dalam sejarah bangsa Israel dan masyarakat Yahudi, tetapi ia pun memulai sejarah dunia yang baru, yakni pandangan monoteistis sebagai sebuah proses yang dimulai dari Ibrahim hingga Musa dan turunnya Taurat.[14]

Dalam pandangan Muzammil Siddiqi, Direktur Masyarakat Islam di Orange County yang juga dosen  di Departemen Kajian-kajian Agama California State University, bahwa dalam Islam Ibrahim tidak disebut sebagai pendiri agama Islam, Ibrahim adalah seorang nabi yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan pesan Allah. Namun, sebagai seorang Nabi ia menempati posisi sentral. Namanya banyak disebut dalam al-Qur’an : Ia dujuluki sebagai awwal al Muslimin, prototipe Muslim sejati, seorang yang taat kepada Allah. Ia juga disebut sebagai hanif, seorang monoteis teguh yang tidak menyimpang dari kepercayaannya. Al-Qur’an menyebutnya juga sebagai khalil, sahabat Tuhan, dan ummah, kata yang biasanya merujuk pada masyarakat Muslim. Maka, sosok Ibrahim mewakili seluruh masyarakat kaum beriman, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Qur’an S.22 : 78 : “Ikutlah agama ayahmu Ibrahim”. Bahkan, dalam arti tertentu, kedatangan Muhammad sendiri adalah untuk menegaskan kembali pesan-pesan Ibrahim.[15]

Menurut George B. Grose, seorang pendeta the Presbyterian Church Amerika, bahwa dalam banyak hal, tidak ada perbedaan esensial antara Yudaisme, Kristen, dan Islam tentang Ibrahim. Ibrahim adalah figur awal dalam sejarah monoteisme, sahabat Tuhan (2 Taw. 20 : 7; Yak. 2 : 23). Dalam Ibrahim seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati (Kej. 12 : 3). Orang-orang Kristen disebut keturunan Ibrahim melalui Kristus (Gal. 3 : 29), yang merupakan salah satu tema utama Paulus. Ia menggambarkan Ibrahim sebagai seorang pahlawan iman, Bapa kita dalam iman; dan jika kita memiliki  iman seperti Ibrahim, maka kita akan diselamatkan (Rm. 4; Gal. 3 : 9). Jadi tema keselamatan muncul karena iman Ibrahim.

Dari ketiga pandangan agama itu, dapat diambil kesimpulan bahwa nama Ibrahim menjadi sosok yang sentral dalam keyakinan agama dan sama-sama mengakui bahwa Ibrahim adalah perintis paham monoteisme. Ia pun dipandang sebagai leluhur dari ketiga tradisi Yahudi, Kristen dan Islam.

C. Musa

Menurut tradisi Yahudi, Musa adalah nabi utama yang tidak ada duanya. Hanya Musa-lah satu-satunya nabi yang memiliki pengalaman berhubungan langsung dengan Allah. Menurut Gordis,[16] bahwa peristiwa penampakan Allah di Gunung Sinai (Keluaran 19-20) – sekaligus produk hubungan tersebut – yakni pemberian Taurat – yang menjadikan Musa sebagai leluhur  bangsa Yahudi. Peristiwa Sinai merupakan peristiwa sentral dalam Alkitab Ibrani[17] bagi kaum Yahudi, suatu peristiwa yang mendekatkan kita pada mitos sentral yakni mitos dalam artian kisah yang membentuk masyarakat Yahudi. Kisah itu bermula dengan kepergian keturunan Ibrahim menuju Mesir, dilanjutkan dengan kisah Keluaran dari Mesir – sebuah kisah tentang pembebasan masyarakat – dan memuncak pada peristiwa-peristiwa sekitar pewahyuan Allah kepada manusia di Gunung Sinai melalui Musa. Peristiwa-peristiwa ini tercermin dalam kalender Yahudi, khususnya pada masa Paskah (Yahudi) dan Shavuot. Musa adalah figur sentral pada dua perayaan tersebut. Ia adalah pembebas, pemimpin, dan nabi yang menjadi alat bagi pemberian Taurat,yang menjadikan bangsa Yahudi sebagai bangsa Taurat atau ahli kitab. Kitab Taurat dibaca setiap hari Sabbath di sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi).

Menurut pandangan Kristen, sebagaimana Grose[18] tuturkan, bahwa Musa adalah seorang nabi dan pemberi hukum bagi umat Kristen, dan figur yang hadir bersama-sama dengan Elia pada peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat.17 : 1-8; Mrk 9 : 2-8; Luk.9 : 28-36). Grose lebih lanjut menegaskan, bahwa bagi kalangan Kristen, Musa – dalam Perjanjian Lama – merupakan figur besar sesudah Ibrahim. Untuk urusan hukum moral, Musa sangat esensial bagi kalangan Kristen. Dalam sejarah dibuktikan bahwa ketika Gereja mengalahkan Mercion (pertengahan abad kedua) yang ingin menghapuskan Perjanjian Lama, tidak ditujukan kepada isi hukum itu, atau terhadap Musa selaku perumus atau pembawa hukum tersebut.[19]

Menurut pandangan Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Muzzamil Siddiq, bahwa samahalnya dengan Ibrahim, Al-Qur’an menuturkan episode kehidupan Musa di berbagai tempat. Tampaknya, Musa merupakan nabi terpenting kedua dalam al-Qur’an. Ia disebut kalim Allah, seseorang yang menyembah Allah dan kepadanya Allah berbicara secara langsung (Q.S.4 : 164). Dialognya dengan Allah di gunung Sinai, pemberian kitab Taurat, dan ketidakmampuannya berhadapan langsung dengan Allah dikisahkan dalam Al-Qur’an.[20]

Nabi Musa, memang ditugaskan oleh Tuhan untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan dan perbudakan oleh Firaun. Bocah Musa sendiri memang dilahirkan dari ayah-ibu dari Bani Israil, namun ia dibesarkan dalam istana raja Mesir, dan nama Musa itupun diberikan Fir’aun (sebuah nama Mesir, bukan nama Ibrani). Bahasa Mesir kuna yang diarabkan menjadi “musa” itu berarti “air”, karena jabang bayi itu ditemukan istri Fir’aun di sungai Nil – dihanyutkan oleh ibunya sendiri atas perintah Tuhan demi menyelematkan bayi itu – yang kemudian diselamatkan oleh istri Fir’aun dan diangkatnya sebagai anak sendiri. Dan Musa sendiri menyadari bahwa ia bukanlah orang Mesir, melainkan dari kalangan Bani Israil yang ditindas Fir’aun itu. Ia tahu dari ibu kandung sendiri, yang secara mu’jizat berhasil menjadi “baby sitter” dan penyusunya di istana.[21]

Dalam pandangan Yudaisme, hukum Musa diberikan untuk sepanjang masa, sampai hari kiamat, tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan padanya, dan tidak ada yang dikurangi darinya.[22]

Dalam pandangan Islam, Musa dan Muhammad memiliki beberapa kemiripan : Musa meninggalkan Mesir dan mengungsi (ke Tanah Midian, Kel.2 : 15); nabi Muhammad juga melakukan hijrah. Musa pergi melihat semak-semak yang terbakar dan tiba-tiba mendapat wahyu Allah, menjadi seorang nabi, Muhammad juga demikian. Secara keseluruhan, Al-Qur’an berulangkali menyebutkan lima nabi besar : Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus, dan Muhammad.[23]

Dari ketiga pandangan agama itu, Yahudi dan Islam memiliki kesamaan pandangan, terutama dalam hubungannya dengan dosa “unsur-unsur ketuhanan” dalam diri nabi, dibandingkan dengan Kristen. Yahudi dan Islam selalu memelihara dan menjaga agar tidak ada atribut keilahian dilekatkan pada sosok Musa. Ini menunjukkan bahwa Islam dan Yudaisme sama-sama menekankan  bahwa ketuhanan dan kemanusiaan bukan hal serupa, sementara Kristen mendekatinya secara berbeda lewat figur Yesus. Dalam Yudaisme, begitu juga Islam, Musa bukanlah tokoh untuk dipuja. Untuk kalangan Yahudi, makam Musa pun tidak diketahui, bahkan perayaan Paskah dalam Keluaran tidak menyebut nama Musa, hal ini untuk mengurangi resiko pemujaan pada manusia yang dapat mengganggu ide dasar monoteisme.[24]

Sementara, dalam pandangan Kristen, sebagaimana dipahami oleh Grose, bahwa umat manusia – termasuk para nabi – dalam banyak hal merupakan “mitra kerja” Allah, sebab, bukankah seseorang memperoleh nikmat tertentu karena bekerja bersama Allah? Nikmat itu adalah suatu rahmat, sebuah pemberian. Dengan Musa, aspek rahmat muncul. Maka Allah menurunkan sepuluh hukumnya (Kel.20 : 2). Jadi, seluruh peristiwa bermula dari rahmat bergerak menuju hukum. Inilah kehidupan religius dalam pandangan Kristen.[25]

Sedangkan dosa asal menjadi salah satu pembeda Yudaisme, juga Islam dengan Kristen. Dalam Kristen, manusia berbuat dosa  karena ia adalah pendosa; sedangkan dalam Yudaisme dan Islam, manusia adalah seorang pendosa karena ia berbuat dosa. Manusia tidak dilahirkan sebagai seorang pendosa.[26]

D. Isa (Yesus)

Yesus adalah seorang Yahudi dalam wilayah pendudukan kerajaan Romawi di Propinsi Palestina. Dengan latar belakang Yahudinya, Yesus adalah pewaris sebuah tradisi yang telah lama mapan, yakni tradisi monoteisme dan ide bimbingan agama melalui hukum dan nabi. Pada masa Yesus, telah ada sebuah komunitas monoteistik lebih dari seribu tahun yang menyembah Tuhan Esa di Bait Allah atau di Sinagog. Pada masa Yesus ini pula, Palestina merupakan tempat pergolakan masalah politik dan agama dan pertentangan antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam komunitas Yahudi untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.[27]

Di samping pertentangan-pertentangan itu, terdapat pemikiran Yahudi tentang ide Messiah, seorang pembebas yang akan lahir dan melepaskan bangsa dari penindasan, dan kemudian membangun pemerintahan yang adil. Sebagaimanahalnya Dawud pada periode awal sejarah Yahudi, seorang Messiah, “orang yang diurapi”, akan mendirikan kerajaan keadilan. Oleh karena itu, terdapat harapan dan penantian besar pada sebagian besar komunitas Yahudi.[28]

Semua murid awal Yesus berbangsa Yahudi, namun hal ini tidak berlangsung lama, karena gerakan Yesus menyebar dikalangan bangsa bukan Yahudi. Tokoh kuncinya adalah Paulus. Paulus bukanlah salah satu dari murid Yesus, malahan, setelah kematian Yesus, ia adalah salah seorang penentang utama Yahudi terhadap gerakan Yesus. Namun, sekitar sepuluh tahun setelah penyaliban Yesus, Paulus tampaknya mengalami semacam pengalaman konversi yang dramatis (Kisah Rasul 9 : 1-19; 6-16; dan 26 : 12-18). Dari seorang yang suka mengganggu pengikut Yesus, berubah menjadi pengikut gerakan itu, bahkan dengan antusias.[29]

Paulus adalah yang berusaha paling gigih untuk keluar dari batas “keyahudian” dengan kata-katanya ketika menulis surat kepada orang-orang Yahudi, “tak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi”. Dalam surat kepada orang-orang Romawi, disamping ia menegaskan kenabian Yesus kepada Bani Israel, berkata : “Aku katakan kepadamu, hai orang-orang kafir, bahkan aku adalah rasulnya orang kafir” (Rom XI, 13). Ia juga menegaskan, “aku ini orang Yahudi keturunan Ibrahim, dari suku Benyamin. Tuhan tidak pernah menolak bangsa yang ia telah pilih (XI. 1-2). Dengan begitu, Yesus adalah realisasi dari aliansi baru, yang diumumkan oleh Jeremia di mana hukum suci tidak tertulis di batu akan tetapi dalam hati (Heb. X : 16).[30]

Paulus sama sekali tidak merasa malu bahwa ia keturunan Yahudi. Justru sebaliknya ia sangat bangga dan tetap sangat cinta kepada bangsanya sendiri. Sekalipun demikian, nampaknya Paulus melihat peralihannya kepada agama Kristiani sebagai suatu “break”, bukan hanya suatu perubahan, melainkan suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5,17). Padahal pada waktu itu, perbedaan antara ajaran Kristen dan ajaran Yahudi belum terlalu besar. Mereka sama-sama mempunyai ajaran mengenai Allah, penciptaan, penyelamatan dan dosa, pembenaran serta rahmat Allah. Semua itu, oleh orang Kristen diambil alih dari ajaran Yahudi. Yang baru ialah bahwa Yesus adalah “Kristus” dan “Tuhan”. Dan hal itu dapat dilihat sebagai “pemenuhan” dari harapan Yahudi.[31]

Peralihan Paulus dari Yahudi ke Kristen adalah merupakan tindakan “pertobatan”. Dalam Gal. 1 dan 23, Paulus berkata : “Ia yang dahulu menganiaya mereka (yakni orang Kristen), sekarang memberitakan iman”. Dalam Gal.1,13 ia menegaskan kembali, “tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya”.; juga, “aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menmganiaya jemaat Allah (1 Kor 15,9). Dengan demikian, “peralihan” ini, yakni dari seorang penganiaya kepada seorang beriman Kristiani, disebut “pertobatan Paulus”.[32] Dan pertobatan Paulus itu dipandang betul-betul sebagai tindakan Allah langsung.[33]

Oleh karena itu, berdasarkan analisis Goddard, bahwa Paulus adalah orang yang bertanggung jawab terhadap dua perkembangan utama dalam gerakan Kristen:

Pertama, ia menyadari bahwa arti Yesus tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi, tetapi bersipat universal, sehingga dengan giat ia membawa risalah Yesus kepada bangsa bukan Yahudi. Keputusan inilah yang menyebabkan terjadinya keretakan yang pertama dikalangan pengikut Yesus, terutama berkaitan dengan, apakah keputusan Paulus itu benar atau tidak, sehingga muncul keputusan para pemimpin gerakan Kristen pada konsili di Jerusalem, yang membenarkan keputusan Palus.

Kedua, Paulus melakukan perjalanan misi di luar wilayah Jerusalem dan Palestina, menjelajahi seluruh wilayah Mediterania Timur hingga mencapai Roma. Dimanapun ia berjalan, menyampaikan pesan signifikan Yesus, sehingga berhasil membentuk komunitas kecil atau gereja-gereja yang terdiri atas orang-orang yang telah menerima pesan tersebut.[34]

Bagi seorang penganut Trinitas yang ekstrim, Tuhan memang hanya Esa tetapi Dia hanya dapat menjadi Esa jika “Dia Bertiga”, dan tidak ada Tuhan Yang Esa kecuali di dalam dan melalui Trinitas Tuhan Yang Esa, tanpa Trinitas, atau bebas dari segala pengungkapan hipostatik, bukanlah Tuhan yang benar, sebab tanpa pengungkapan ini Keesaan tidak ada artinya. Tentu saja, Yudaisme dan Islam mengemukakan keberatan-keberatan terhadap doktrin Trinitas, karena, “Anak itu dilahirkan dan bahwa Dia adalah Tuhan; tetapi Tuhan tidak dilahirkan, Dia adalah Mutlak. Roh Kudus itu mubncul dan bahwa ia diutus dan bahwa ia Tuhan; tetapi Tuhan tidak muncul dari sesuatu pun, juga ia tidak diutus. Bapa itu Tuhan dan bahwa dia beranak; Tuhan mencipta, tetapi dia tidak beranak, sebab jika demikian maka akan ada dua Tuhan. Lagipula bagaimana dapat anak dan Roh Kudus itu masing-masing identik dengan Tuhan dan tidak identik antara satu sama lainnya?” [35]

Yesus adalah Kristus, dan nama Yesus menunjuk kepada Yesus dari Nasaret, artinya Yesus sebagai manusia yang hidup dan wafat di dunia ini. Kata “Yesus” menunjuk kepada kemanusiaan Yesus. Sedangkan kata “Kristus” adalah kata dengan latar belakang Yahudi, yang oleh Paulus diambil dari Gereja purba di Palestina. Dalam surat Paulus, nama Kristus biasa dipergunakan, dipakai lebih dari 370 kali dalam Corpus Paulinum. Bagi Paulus, nama tersebut sudah hampir menjadi nama diri, dan amat kerap dikatakan Yesus-Kristus atau Kristus-Yesus. Namun demikian, Paulus sebanarnya tidak mengenal pengakuan “Yesus adalah Kristus”.[36]

Karena Paulus berkata, baik “Kristus Yesus” maupun “Yesus Kristus”, dan karena ia masih tetap juga memakai nama “Yesus”, maka jelaslah bahwa “Kristus” tidak menggantikan “Yesus”. Artinya, “Kristus” tidak seluruhnya menjadi nama diri. Sekalipun tidak pernah ada keterangan atau teori mengenai nama “Kristus”, tetapi yang pasti bahwa Kristus berkaitan seluruhnya dengan Yesus, yang hanya mempunyai arti dalam hubungan dengan Yesus. Dengan lain kata nama “Kristus” mengungkapkan iman kristiani, yakni iman akan Yesus. Dalam Rom 1,7 Paulus berkata “Tuhan Yesus Kristus”; juga dalam Rom 10,9 dikatakan bahwa “Yesus adalah Tuhan”; dan dalam Flp 2,11 mengatakan “Yesus Kristus adalah Tuhan”.[37]

Jika Kristus, di satu pihak, adalah pendiri suatu agama dunia, di lain pihak ia adalah seorang nabi Yahudi yang di utus ke Israel dan membaktikan dirinya untuk Israel. Dalam pandangan Islam, sebagaimana ditekankan dalam Al-Qur’an, Yesus berfungsi sebagai regenerator, ia adalah nabi mulia yang menekankan dimensi batin, dan dalam hal ini dia hendaknya diterima oleh Israel sebagaimana Isaiah.[38]

Kristus adalah Tuhan, tetapi Tuhan bukan hanya Yesus dan pemahaman saya pun tidak menangkap secara tuntas arti kata tersebut.Kristus adalah satu-satunya pengantara, tetapi Ia bukan monopoli orang-orang Kristen dan, kenyataannya, Ia hadir dan bekerja dalam setiap agama autentik, apa pun bentuk dan namnya. Kristus adalah simbol, dengan mana orang Kristen menyebut dirinya; simbol dari Misteri yang tetap transenden tetapi sekaligus tetap imanen manusiawi.[39]

E. Muhammad

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah pada tahun 571 M. ketika tentara Abessinia yang menyerbu Arabia dikalahkan. Ia memiliki julukan nama, yakni “Ahmad”, “Mustafa”, “‘Abdallah”, “‘Abu’l Qasim”, dan “al-Amin”. Nama dan julukannya, masing-masing menyatakan sipat dari hamba yang diridhai-Nya. Muhammad dan Ahmad mengandung arti “orang yang diagungkan dan yang dipuji”; Mustafa, “orang yang terpilih”; ‘Abdallah, “hamba yang sempurna dari Allah”; al-Amin, “orang yang dipercaya”, dan dikemudian hari sebagai ayah Qasim Abu’l-Qasim; ia tidak saja sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai sahabat Allah dan rahmat bagi dunia : “Kami mengutus kau semata-mata sebagai rahmat bagi seru sekalian alam” (Q.S.21 : 107).[40]

Menurut Grose, bahwa Muhammad, sesuai dengan yang dinyatakan Alquran, tidak dipanggil untuk memperkenalkan agama baru, melainkan untuk memperbarui agama Allah sesungguhnya yang telah terdistorsi selama berabad-abad di kalangan masyarakat Arab dan di kalngan lain. Diperlukan pula koreksi dalam agama Kristen dan Yudaisme. Jadi, ia adalah pengoreksi politeisme Arab, juga Yahudi dan Kristen, ia juga menyerang pemujaan berhala dimanapun ia menemukannya.[41]

Muhammad adalah pembaru monoteisme, yang dengan jelas membedakan antara Yang Ilah dengan yang manusiawi; inilah esensi Islam yang dibawanya( Tauhid); Yudaisme pun demikian, membedakan Yang Ilah dengan yang manusiawi.[42] Disebut pembaru, karena setelah ribuan tahun berlalu, pesan monoteistik Ibrahim sirna dari tanah Arab dan mayoritas bangsa ini segera tenggelam ke dalam kemusyrikan yang tidak terperikan nistanya. Mereka telah melupakan kebenaran dan tersungkur ke perut kekufuran (al-Jahiliyyah) yang merupakan latarbelakang langsung kelahiran Islam.[43]

Sekalipun bangsa Arab ketika Muhammad lahir dalam keadaan politeistis dan kemusyrikan, satu-satunya pengecualian, disamping sejumlah kecil orang-orang Kristen dan Yahudi yang berdomisili di Arab, masih tersisa segelintir orang yang tetap ingat akan agama purba (pendahulu) Ibrahim, mereka itu oleh Alquran disebut kaum hanif atau kaum hunafa.[44] “Agama Hanif” adalah agama Ibrahim; dan, Islam, melalui Muhammad, merupakan agama yang mengembalikan dirinya pada agama hanif.[45]

Goddard menambahkan, bahwa ada beberapa individu yang cenderung kepada monoteistis, yang dikenal dengan hanif, sebuah istilah yang sulit diterjemahkan ke dalam bahas Inggris, tetapi biasanya diartikan dengan kaum monoteis Arab. Namun, kaum hanif tidak masuk agama Yahudi ataupun Kristen, malahan mereka tetap menjadi penganut agama Arab yang monoteistik itu. Maka, kata “Allah”, sebuah kata Arab kuno dan berarti “tuhan” (“t” kecil) yang tinggi, di dalam pikiran kaum hanif dipahami sebagai satu-satunya “Tuhan” (“T” besar). Bagaimanapun, sebelum masa Muhammad, kaum Yahudi, Kristen, dan Hanif adalah kaum minoritas di Arabia.[46]

F. Agama Ibrahim : Agama monoteis

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa semua agama Ibrahim prinsip dasar kepercayaannya adalah monoteistis, yakni bahwa masing-masing agama : Yahudi, Kristen, dan Islam bertuhankan satu. Namun demikian, beberapa penstudi agama atau para sarjana telah mencatat adanya kecenderungan pada agama-agama yang berkembang dalam wilayah monoteisme. Para sarjana itu antara lain Albright (1957), Bellah (1964), Spencer (1893, Taylor (1871), yang pada umumnya memegang prinsip teori evolusi bahwa : “ketika masyarakat-masyarakat semakin tua, menjadi besar, dan lebih kosmopolitan, mereka cenderung memuja lebih sedikit Tuhan yang memiliki scope lebih luas”.[47] Menurut Herbert Spencer (1820-1903), bahwa monoteisme absolut sangat jarang. Ia menyatakan, “monoteisme murni hanya diterima oleh kaum unitarian dalam coraknya yang telah maju, dan oleh mereka yang disebut sebagai kaum etis”. Agama-agama monoteistis tidak mampu mempertahankan kemurniannya, seperti agama Yahudi yang pada dasarnya bersipat monoteistis, banyak memperoleh suntikan politeisme; juga Kristen secara parsial bersipat politeistis. Bahkan, kepercayaan pada setan, dipahami sebagai wujud supernatural yang independen, mengimplikasikan politeisme yang tetap hidup.[48]

Dalam perspektif ‘Agama Ibrahim’, bahwa Yahudi, Nasrani (Kristen), dan Islam, ketiga-tiganya datang dari Tuhan melalui seorang rasul dan nabi pilihan, ketiga-tiganya membawa misi sama : tauhid (monoteisme). Yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani diturunkan melalui Isa (Yesus) dan Islam melalui Muhammad. Kedekatan ketiga agama tersebut semakin tampak jika dilihat secara geneologis ketiga utusan (Musa, Isa dan Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim (Abraham), dan sama-sama mengakui Ibrahim sebagai “the foundation father’s” bagi agama tauhid (monoteisme).[49]

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, faham ketuhanan Kristen, merupakan sebuah keyakinan yang memiliki akar pada tradisi monoteistik agama Yahudi yang telah lama mapan dan dalam konteks pendudukan Romawi atas Palestina, keyakinan itu didasarkan atas kehidupan dan ajaran seorang tokoh yang dapat menyingkirkan berbagai aliran pemikiran Yahudi pada saat itu hingga tokoh itu di salib. Namun, penyaliban itu bukan merupakan akhir gerakan Yesus, karena setelah itu, risalah tentang Yesus yang bangkit mulai disebarkan oleh para murid Yesus, bahkan di tangan Paulus, ia mulai dipahami sebagai risalah yang bersipat universal.[50]

Oleh karena itu, menurut Frtichof Schuon[51] yang menegaskan bahwa monoteisme menjadi prinsip dasar kepercayaan agama Ibrahim. Namun, bila menggunakan analisis esoterik dan eksoteris tentang “Kebenaran dan Kehadiran Tuhan”. Wujud penyelamat dari Yang Mutlak adalah Kebenaran atau Kehadiran. Dengan menggunakan analisis ini, antara Islam dan Yahudi di satu sisi, dengan Kristen di sisi lain, menjadikan berbeda diantara agama Ibrahim itu. Kristus pada hakikatnya adalah perwujudan dari kehadiran Ilahi, tetapi juga kebenaran itu sendiri. Dalam agama Kristen, unsur Kehadiran datang lebih dulu sebelum unsur Kebenaran; unsur yang pertama, karenanya, menyerap yang kedua, dalam pengertian bahwa Kebenaran disatukan dengan perwujudan Kristus – Kebenaran Kristen menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan.

Berbeda dengan Islam, juga Yahudi, yang didasarkan pada dalil bahwa “Kebenaran Yang Mutlak” itulah yang menyelamatkan. Batasan eksoterik dari pandangan ini adalah bahwa Kebenaran sajalah yang menyelematkan, bukan Kehadiran. Agama Kristen sebaliknya, didasarkan pada dalil bahwa Kehadiran Ilahi itulah yang menyelamatkn. Batasan ekoteriknya adalah, sebaliknya, dalil bahwa hanya unsur Kehadiran saja yang dapat menyelamatkan, dan bukan unsur Kebenaran itu sendiri.[52]

Terlepas dari kenyataan itu, Goddard menegaskan bahwa, karakteristik keyakinan Kristen pada dasarnya adalah monoteisme, demikian pula halnya Yahudi. Antara Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki ajakar monoteisme yang kuat. Yesus dan muridnya adalah orang Yahudi, jadi mereka merupakan kaum monoteis yang kuat, karena berasal dari kepercayaan monoteis selama berabad-abad. Namun, sebagai akibat penyaliban Yesus, di mana para pemimpin beberapa aliran pemikiran Yahudi terlibat, maka hubungan antara komunitas Yahudi dengan gerakan Yesus segera menegang. Pertama, setelah kematian Yesus, para pengikut Yesus tetap beribadah di Sinagog Yahudi dan di Bait Allah, Jerusalem, tetapi, yang kedua, setelah mereka dikenal sebagai orang Kristen dan telah memutuskan untuk mengenalkan Yesus pada bangsa non-Yahudi, mereka mulai menempuh jalan sendiri.[53]

Sebagai bantahan orang-orang Kristen yang menganggap kepercayaan ketuhanannya  tidak monoteisme lagi, maka orang Kristen menegaskan bahwa, ketuhanan dalam agama Kristen sebagai ‘Tritunggal’ atau ‘Trinitas’ yang sering dipandang sebagai politeistis, adalah karena kesalahpahaman atau karena ‘ketidaktahuan’. Ke-Tritunggal-an itu dapat dianalogkan dengan manusia, bahwa dalam kemanusiaan yang satu itu ada pikiran dan ruh sekaligus. Sebagai pribadi, pikiran dan ruh itu berada dalam kemanusiaan kita yang satu. Demikian pula, ke-Tritunggal-an itu ibarat api memiliki panas dan terang, di mana wujud api bersama dengan terang dan panasnya adalah satu, sebagaimana halnya matahari beserta panas dan sinarnya adalah satu. Demikian juga Bapa, Putra dan Ruh adalah Allah yang Mahaesa itu sendiri. Bapa, Putra dan Ruh Kudus adalah satu adanya, sebab kita tidak dapat mengatakan Allah tidak memiliki Fikiran (Firman) dan Ruh (Hayat). Allah bersama dengan FikiranNya dengan Ruh-Nya adalah satu adanya. Jadi, tidak bisa dipisahkan antara “Bapa” (Wujud), “Putra” (Fikiran, Firman) dan “Ruh Kudus” (Hidup); ke-Tritunggal-an itu sebagai Keberadaan Wujud Ilahi, Fikiran dan HidupNya.[54]

Perbedaan sipat dan dasar monoteistis pada Agama-agama Ibrahim (Yahudi, Nasrani, dan Islam), sekalipun berasal dari sumber dan asal yang sama, tetapi karena memiliki proses perkembangan dan kesejarahan yang berbeda, dimana ‘proses’ itu sangat mempengaruhi dan menentukan pemikiran dan dinamika para penganut ketiga masing-masing agama itu, maka perbedaan di antara ketiganya tidak bisa dihindari. Situasi kultural, politis, dan situasi-situasi lainnya sangat mempengaruhi terhadap perkembangan keagamaan, dimanapun ia berada.

G. Agama Ibrahim : Agama Misi

Yudaisme adalah agama misionaris, bahkan merupakan “agama misionaris terbesar pertama”. Klaim ini didasarkan pada empat hal :

Pertama, doktrin-doktrin Yahudi mengemukakan suatu tujuan untuk menyelamatkan seluruh dunia.

Kedua, para penulis Yahudi maupun Romawi menguji secara ekstensif, dan biasanya sangat berhasil, penyebaran agama Yahudi, khususnya dalam diaspora Yunani-Romawi.

Ketiga, pertumbuhan rata-rata populasi Yahudi, khususnya  di dalam diaspora, merupakan dukungan kuat terhadap asumsi rata-rata konversi yang tinggi.

Keempat, para penulis Kristen terdahulu biasanya mengemukakan jumlah yang besar pengikut baru Yahudi.[55]

Dalam konteks agama misi atau dakwah ini, Max Muller membagi enam agama besar menjadi “agama misionari/dakwah” dan “non-misionari/bukan dakwah”. Ternyata, agama Yahudi tidak dikelompokkan sebagai agama misionari. Agama-agama yang bukan misionari itu adalah agama Yahudi, Brahman, Zoroaster; sedangkan yang terbilang kepada agama misionari itu adalah agama Buddha, Kristen, dan Islam.[56]

Atas dasar pengertian A. Mukti Ali[57] tentang agama misionari /dakwah adalah “yang penyiaran kebenarannya dan menjadikan orang lain memeluk agama”, maka, pengelompokkan Muller tentang agama Yahudi sebagai agama non-misionari, kemungkinan berdasarkan analisis perkembangan agama Yahudi yang tidak menampakkan usaha-usaha mengajak orang untuk mengikuti keyakinan agamanya, tetapi lebih menampakkan pada sikap-sikap politis untuk mempertahankan dan meluaskan wilayah dan pengaruhnya sebagai negara Israel. Hal ini sejalan dengan pengamatan Roger Garaudy, bahwa yang muncul dan berkembang dari tradisi Yahudi adalah gerakan “Zionisme”nya untuk memperpanjang tradisi kesukuan, dan bukan tradisi kenabian, sebagaimana yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim.[58]

Menurut analisis Garaudy, agama Yahudi telah memberikan konstribusi untuk memanusiakan manusia, yakni kesadaran tentang norma mutlak, moral dan akal melalui tiga sumbangan besar :

Pertama, tema Aliansi antara manusia dengan Tuhan; manusia harus siap setiap saat untuk melayani panggilan Tuhan, menyerahkan diri kepada-Nya tanpa syarat, seperti sikap Nabi Ibrahim, dan pengorbanannya; sikap Ibrahim itulah yang menjadikannya “bapak keimanan”.

Kedua; tema Keluaran (Exodus), artinya kekuasaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia dari segala penghambaan, sehingga merelatifisir segala kekuasaan, seperti budak-budak yang menolak mengikuti Firaun, raja yang mengangkat dirinya sebagai tuhan.

Ketiga, tema Injil; artinya kumpulan perintah Tuhan kepada manusia untk merealisasikan kerajannya, dengan menghormati hukum, yakni Hukum Aliansi.[59]

Dalam Perjanjian Lama, mengidentifikasikan orang-orang Yahudi  sebagai “Orang-orang Pilihan Tuhan”, dan dipandang sebagai corak pertama yang signifikan dari monoteisme, hal itu juga menyatakan maksud Yahweh untuk memperluas kesempatan teersebut kepada dunia, sebagaimana Isa 49 : 6 menjelaskan hal ini “Aku akan memberitahu sebuah cahaya kepada bangsa-bangsa, bahwa keselamatanku mampu menjangkau penghujung bumi”, dan kemudian dalam Isaiah (66 : 18-19), Tuhan mengemukakan rencananya untuk “mengumpulkan seluruh bangsa dan seluruh lidah” dan mengirim misi-misi “hingga pantai-pantai yang jauh yang tidak terdengar oleh kebisuanku ataupun terlihat oleh keagunganku; dan mereka akan menyatakan keagunganku di antara bangsa-bangsa”.[60] Dengan begitu, maka lahirlah sejarah manusiawi yang sesungguhnya.

Para penulis Yahudi abad I menyebutkan bahwa terdapat misi-misi terhadap orang-orang non-Yahudi. Karenanya, Josephus mencatat pengaruh yang luas dari Yudaisme terhadap kultur umum diaspora : “Kehebatan manusia itu sendiri memiliki sebuah kecenderungan besar selama kurun waktu yang lama untuk mengikuti kewajiban-kewajiban agama kita; karena tidak ada satu pun negeri orang-orang Yunani, barbarian atau siapa pun juga, dimana kebiasaan kita pada hari ketujuh tidak lagi dapat dijumpai, dan puasa yang kita lakukan serta menyalakan pelita, dan banyak lagi larangan-larangan yang harus kita patuhi untuk tidak memakan makanan tertentu, tidak lagi dipatuhi” (Against Apion 2.40).[61]

Philo (20 S.M-50), seorang teolog Yahudi Alexanderia yang terkenal, menulis secara panjang lebar tentang konversi-konversi dan misi-misi non_Yahudi. Dia menyebutkan bahwa kebanyakan dari mereka melakukan konversi dengan cara meninggalkan Mesir sebagai bagian dari Eksodus (On the Life of Moses 1.27.147). Demikian juga para penulis Yunani dan Romawi seringkali menyebut-nyebut keberhasilan upaya-upaya misi Yahudi. Dio Cassius (163-235) menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi “mampu menarik pegikut baru dari kalangan warga pribumi (Romawi).[62]

Sebagian besar  sumber-sumber Kristen terdahulu menyebutkan kuatnya upaya-upaa misi Yahudi, mencatat jumlah pengikut baru yang besar dan mereka yang takut pada tuhan menghadiri sinagog-sinagog, dan seringkali menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai para pesaing serius terhadap misi-misi Kristen.[63]

Agama-agama misi, bisa jadi atau tidak, memiliki misionaris-misionaris profesional. Yang menjadikan suatu agama sebagai sebuah agama misi adalah karena adanya keterlibatan anggota masyarakat umum dalam menyebarkan agama di kalangan keluarga, teman, tetangga, dan kenalan. Hal ini sebagaimana Max Weber tegaskan bahwa “penyebaran agama Yahudi, sebagaimana halnya dengan apa yang dilakukan oleh kaum Kristen pada masa pos-apostolik, berkembang secara sukarela dan melalui upaya pribadi, tidak melalui otoritas-otoritas pemerintah”. Ia menambahkan tentang keberhasilan penyebaran agama Yahudi dengan mengidentifikasikan kemunculan Yudaisme sebagai sesuatu yang bersipat ganda : “kesucian etis dan kekuatan konsepsi tentang Tuhan”. Yahweh dihadirkan sebagai sebuah kesadaran, bersipat responsif, kebaikan, yang secara moral memiliki kekuasaan dan scope yang tidak terbatas.[64]

Misi yang pertama kali dilakukan oleh orang-orang Kristen terdahulu diikuti oleh sebuah pola yang didefinisikan dengan baik selama beberapa generasi penyebaran agama Yahudi. Berkaitan dengan ini, Paul menyatakan bahwa “mereka yang mengalami konversi tidak bisa menjadi Kristen tanpa menjadi Yahudi lebih dulu.[65]

Paul dan Barnabus, dan juga rasul-rasul lainnya, yang meninggalkan Palestina untuk mencari pengikut-pengikut baru di seluruh penjuru negeri merupakan misionaris-misionaris profesional. Tetapi tidak seperti para pendeta Budhis, tujuan mereka bukanlah untuk merekrut pemeluk agama lain ang taat, akan tetapi untuk memasukkan daftar massa ke dalam sebuah komitmen yang eksklusif dan luas. Selama jangka waktu yang sangat lama, para sejarawan menerima klaim yang menyatakan bahwa konversi Kaisar Constantine (285-337) menjadi sebab kemenangan Kristen. Ia tidak menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, tidak pula melarang paganisme.[66]

Misi-misi seringkali memerlukan kaum profesional ketika penyebaran sebuah keyakinan bertentangan dengan batas-batas wilayah sosial. Karena konversi merupakan sebuah jaringan fenomena, keyakinan pun tidak lagi tersebar ketika jaringan-jaringan melemah. Hal ini didasarkan pada :

Pertama, ikatan-ikatan sosial harus dibangun antara kaum misionaris dengan beberapa anggota masyarakat yang dijadikan sebagai sasaran misi, dan upaya-upaya ini harus menghasilkan konversi-konversi.

Kedua, parta pengikut baru ini harus melaksanakan misi terhadap yang lain, menyebarkan agama melalui jaringan-jaringan mereka. Jadi, keberhasilan utama dari sebuah misi sebagian bergantung pada dengan siapa kaum misionaris menjalin ikatan-ikatan sosial-apakah dengan masyarakat umum, sub kelompok atau kasta ataupun sekelompok elit tertentu.[67]

Dua abad lebih Agama Kristen mengalami pertumbuhan melalui jaringan-jaringan sosial, tapi Muhammad (570-632) membangun Islam menjadi sebuah gerakan besar hanya dalam beberapa tahun. Sebagaimana halnya Kristen, dan berbeda halnya denan Yudaisme, Islam menyingkirkan asal-usul identitas etnisnya, menjadikan agama terbuka bagi semua orang yang menerima ajaran-ajarannya serta menautkan diri pada hukum moralnya.[68]

Islam dan Kristen juga menggunakan taktik-taktik yang hampir sama dalam upaya-upaya mereka untuk menarik pemeluk baru dengan cara memadukan unsur-unsur kepercayaan dan praktik masyarakat setempat. Sebagaimana halnya dengan orang-orang Kristen abad pertengahan yang berusaha menarik para petani pagan dengan cara mengkonsentrasikan kembali tempat-tenmpat ibadah mereka dan menghormati tahun-tahun lokal serta roh-roh, Islam pun demikian. Sebenarnya, seluruh wilayah Kristen Afrika Utara, dimana awal mula kuil-kuil pagan ter-Kristen-kan, yang dipadukan dengan Islam.[69]

 


Posted by: amgy | March 29, 2008

Tipologi Sikap Beragama


Tipologi Sikap Beragama

Komarudin Hidayat menyebutkan adanya lima tipologi sikap keberagamaan, yakni “eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, eklektivisme, dan universalisme”. Kelima tipologi ini tidak berarti masing-masing lepas dan terputus dari yang lain dan tidak pula permanen, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai sebuah kecenderungan menonjol, mengingat setiap agama maupun sikap keberagamaan senantiasa memiliki potensi untuk melahirkan kelima sikap di atas.[1]

Sekalipun ada perbedaan tipe-tipe teologis beragama dengan para penstudi agama lain, seperti Panikkar, yang menyebutkan tiga tipologi : eksklusif, inklusif, dan paralelisme, tetapi secara esensial penyebutan-penyebutan tipologis itu mengandung pada makna dan pengertian yang sama. Oleh karena itu, kita akan membahas tipologi-tipologi beragama itu.

1. Eksklusivisme

Sikap eksklusivisme akan melahirkan pandangan ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya, sedangkan agama lain sesat dan wajib dikikis, atau pemeluknya dikonversi, sebab agama dan penganutnya terkutuk dalam pandangan Tuhan.[2] Sikap ini merupakan pandangan yang dominan dari zaman ke zaman, dan terus dianut hingga dewasa ini.[3] Tuntutan kebenaran yang dipeluknya mempunyai ikatan langsung dengan tuntutan eksklusivitas. Artinya,kalau suatu pernyataan dinyatakan, maka pernyataan lain yang berlawanan tidak bisa benar.

Menurut Nurcholish Madjid[4], sikap yang eksklusif ini ketika melihat agama bukan agamanya, agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan  bagi para pemeluknya. Paradigma ini merupakan pandangan yang do-minan dari zaman ke zaman dan terus dianut hingga dewasa ini : “Agama sendirilah yang paling benar, yang lain salah”.

Bagi agama Kristen, inti pandangan eksklusivisme adalah bahwa Yesus adalah satu-satu jalan yang sah untuk keselamatan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Juga, dalam ayat lain (Kisah Para Rasul 4,12) disebutkan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.[5]

Menurut Budhy Munawar Rachman[6], untuk contoh Islam, sekalipun tidak ada semacam kuasa gereja dalam agama Kristen, khususnya Katolik yang bisa memberi fatwa menyeluruh seperti contoh di atas, banyak penafsir sepanjang masa yang menyempitkan Islam pada pandangan-pandangan eksklusif. Beberapa ayat yang biasa dipakai sebagai ungkapan eksklusifitas Islam itu antara lain :

Hari ini orang kafir sudah putus asa untuk mengalahkan agamamu. Janganlah kamu takut kepada mereka; takutlah kepada-Ku. Hari ini Ku-sempurnakan agamamu bagimu dan Ku-cukupkan karunia-Ku untukmu dan Ku-pilihkan Islam menjadi agamamu ((Q.S.5:3).

Barangsiapa menerima agama selain Islam (tunduk kepada Allah) maka tidaklah akan diterima dan pada hari akhirat ia termasuk golongan yang rugi (Q.S.3:85).

Komarudin Hidayat menambahkan bahwa, sekalipun sikap eksklusif merasa dirinya yang paling baik dan paling benar, sementara yang lainnya tidak masuk hitungan, tidaklah selamanya salah dalam beragama. Sebab, jika eksklusivisme berarti sikap agnostik, tidak toleran, dan mau menang sendiri, maka tidak ada etika agama mana pun yang membenarkannya. Tetapi, jika yang dimaksud dengan eksklusif berkenaan dengan kualitas, mutu, atau unggulan mengenai suatu produk atau ajaran yang didukung dengan bukti-bukti dan argumen yang fair, maka setiap manusia sesungguhnya mencari agama yang eksklusif dalam arti excellent, sesuai dengan selera dan keyakinanya.[7]

Dalam jargon hidup politik modern, bersikap hidup seperti itu adalah beragama yang eksklusif atau sikap hidup yang kafir. Yang tentu saja mengabaikan sikap hidup yang pluralistik yaitu suatu sikap hidup yang benar, dan oleh sebab itu, juga sikap hidup yang beriman.[8]

Pada sisi yang lain, sikap ini menimbulkan kesukaran-kesukaran.

Pertama, sikap ini membawa bahaya yang nyata akan intoleransi, kesombongan, dan penghinaan bagi yang lain.

Kedua, sikap ini pun mengandung kelemahan intrinsik karena mengandaikan konsepsi kebenaran yang seolah logis secara murni dan sikap yang tidak kritis dari kenaifan epistimologis.[9]

Menurut Friedrich Heiler, seorang ahli Ilmu Perbandingan Agama dari Marburg menyatakan bahwa, secara tradisional tradisi agama Barat adalah eksklusif dalam sikap mereka terhadap agama-agama lain dengan memberikan kepada agama mereka sendiri validitas mutlak.[10]

Terlepas dari adanya kelemahan sikap eksklusivitas itu, biasanya komitmen dan sikap tegas dalam memelihara dan mempertahankan kebenaran agamanya adalah bisa dipandang positif. Sebab, sikap eksklusivitas itu tidak selamanya bisa disalahkan atau dipandang negatif, tetapi sikap demikian lebih banyak kepada faktor kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang agamanya, atau, bahkan lingkungan sosial dan kultural dimana ia hidup, sangat mempengaruhi dalam beragamnya.

2. Inklusivisme

Sikap inklusivisme berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama yang dianutnya. Di sini masih didapatkan toleransi teologis dan iman. Menurut Nurcholish Madjid, sikap inklusif adalah yang memandang bahwa agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita.[11]

Paradigma itu membedakan antara kehadiran penyelamatan (the salvific presence) dan aktifitas Tuhan dalam tradisi-tradisi agama lain, dengan penyelamatan dan aktifitas Tuhan sepenuhnya dalam Yesus Kristus. Menjadi “inklusif” berarti percaya bahwa seluruh kebenaran agama non-Kristiani mengacu kepada Kristus. Paradigma ini, membaca agama orang lain dengan kacamata sendiri. Sikap beragama inklusif pun bisa berarti memasukkan orang lain dalam kelompok kita.[12]

Pandangan yang paling ekspresif dari paradigma inklusif ini tampak pada dokumen Konsili Vatikan II, mempengaruhi seluruh komunitas Katolik sejak 1965. Dokumen yang berkaitan dengan pernyataan inklusif berkaitan dengan agama lain, ada pada “Deklarasi tentang Hubungan Gereja dan Agama-agama Non-Kristiani”.

Teolog terkemuka yang menganut aliran ini adalah Karl Rehner, yang pandangan-pandangannya termuat dalam karya terbesarnya the Theological Investigation yang berjilid 20, dalam “Christianity and the Non-Christian Religions”, jilid 5. Problem yang diberikannya adalah, bagaimana terhadap orang-orang yang hidup sebelum karya penyelamatan itu hadir, atau orang-orang sesudahnya tetapi tidak pernah tersentuh oleh Injil? Di sini, Rahner memunculkan istilah inklusif, the Anonymous Christian (Kristen anonim), yaitu orang-orang non-Kristen. Menurut pandangannya, Kristen anonim juga akan selamat, sejauh mereka hidup dalam ketulusan hati terhadap Tuhan, karena karya Tuhan pun ada pada mereka, walaupun mereka belum pernah mendengar Kabar Baik.[13]

Dalam contoh Islam juga sering dikemukakan misalnya istilah dari seorang filsuf Muslim abad XIV, Ibn Taymiyah, yang membedakan antara orang-orang dan agama Islam umum (yang non-Muslim par exellance), dan orang-orang dan agama Islam khusus (Muslim par exellance). Kata Islam sendiri di sini diartikan sebagai “sikap pasrah kepada Tuhan”. Mengutip Ibn Taymiyah, “semua nabi dan pengikut mereka seluruhnya disebut oleh Allah adalah orang-orang Muslim”.

Hal itu sebagaimana dalam Alquran (S.3:85), “Barangsiapa yang menganut suatu din selain al-Islam maka tidak akan diterima daripadanya al-din dan di akhirat ia termasuk yang merugi”. Dan firman-Nya, “sesungguhnya al-din di sisi Allah ialah al-Islam” (Q.S.3:19). Dalam tafsiran penganut “Islam Inklusif”, bahwa sekalipun para nabi mengajarkan pandangan hidup yang disebut al-Islam, itu tidaklah berarti bahwa mereka dan kaumnya menyebut secara harfiah agama mereka al-Islam dan mereka sendiri sebagai orang-orang Muslim. Itu semua hanyalah peristilahan Arab. Para nabi dan rasul, dalam da’wah mereka pada dasarnya menggunakan bahasa kaumnya masing-masing. Alquran (S.14:4) menegaskan, bahwa “Kami tidak mengutus seorang Rasul; kecuali dengan bahasa kaumnya”.[14] Dengan demikian, kalangan Islam inklusif menganut suatu pandangan bahwa agama semua nabi adalah satu.

Sikap inklusivistik akan cenderung untuk menginterpretasikan kembali hal-hal dengan cara sedemikian, sehingga hal-hal itu tidak saja cocok tetapi juga dapat diterima. Sikap demikian akan membawa ke arah universalisme dari ciri eksistensial atau formal daripada isi esensialnya. Suatu kebenaran doktrinal hampir tidak dapat diterima sebagai yang universal jika ia sangat berkeras mempertahankan isinya yang spesifik, karena pencerapan isi selalu mengandaikan perlunya suatu ‘forma mentis’ yang khusus. Sikap menerima yang toleran akan adanya tataran-tataran yang berbeda, sebaliknya, akan lebih mudah dicapai. Sementara, suatu pola payung atau struktur formal dapat dengan mudah mencakup sistem-sistem pemikiran yang berbeda.[15]

Sikap inklusivitas memuat kualitas keluhuran budi dan kemuliaan tertentu. Anda dapat mengikuti jalan anda sendiri tanpa perlu mengutuk yang lain. Ibadah anda dapat menjadi konkrit dan pandangan anda dapat menjadi universal. Tetapi, pada sisi lain, sikap inklusivitas pun membawa beberapa kesulitan.

Pertama, ia juga menimbulkan bahaya kesombongan, karena hanya andalah yang mempunyai privilese atas penglihatan yang mencakup semua dan sikap toleran; andalah yang menentukan bagi yang lain tempat yang harus mereka ambil dalam alam semesta.

Kedua, jika sikap ini menerima ekspresi ‘kebenaran agama’ yang beraneka ragam sehingga dapat merengkuh sistem-sistem pemikiran yang paling berlawanan pun, ia terpaksa membuat kebenaran bersipat relatif murni. Kebenaran dalam arti ini tidak mungkin mempunyai isi intelektual yang independen, karena berbeda atau berlainan dengan orang lain.[16]

3. Pluralisme Atau Paralelisme

Dalam pandangan Panikkar dan Budhy Munawar Rachman, masing-masing menyebutkan istilah pluralisme dan paralelisme. Sikap teologis paralelisme adalah bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya : “agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai Kebenaran yang Sama”; agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan Kebenaran-kebenaran yang sama sah”; atau “setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran”.[17]

Paradigma itu percaya bahwa setiap agama mempunyai jalan keselamatan sendiri. Karena itu, klaim kristianitas bahwa ia adalah satu-satunya jalan (eksklusif), atau yang melengkapi atau mengisi jalan yang lain (inklusif), harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis.[18]

Menurut Komarudin Hidayat, sikap pluralisme lebih moderat dari sikap inklusivisme, atau bahkan dari eksklusivisme. Ia berpandangan bahwa  secara teologis pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas niscaya yang masing-masing berdiri sejajar (paralel) sehingga semangat misionaris atas dakwah dianggap tidak relevan.[19]

Sikap paralelistis memberikan keuntungan yang sangat positif; toleran dan hormat terhadap yang lain serta tidak mengadili mereka. Sikap ini pun menghindari sinkretisme dan eklektisisme yang keruh yang membuat suatu agama mengikuti selera pribadi; sikap ini pun menjaga batas-batas tetap jelas dan merintis pembaharuan yang ajeg pada jalan-jalan orang itu sendiri. Namun demikian, sikap paralelisme ini pun tidak lepas dari kesulitan-kesulitan.

Yang pertama, sikap ini  tampaknya berlawanan dengan pengalaman historis bahwa tradisi-tradisi keagamaan dan manusiawi yang berbeda biasanya muncul dari saling campur tangan, pengaruh dan fertilisasi.

Kedua, sikap ini dengan tergesa-gesa menganggap seolah-olah setiap tradisi manusia sudah memuat dalam dirinya sendiri semua unsur untuk pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut; singkatnya, sikap ini mengandaikan kecukupan diri dari setiap tradisi dan sepertinya menyangkal adanya kebutuhan atau kesenangan untuk saling belajar.[20]

Di lingkungan Islam, tafsir Islam pluralis merupakan pengembangan secara lebih liberal dari Islam inklusif. Misalnya, perbedaan antara Islam dan Kristen (dan antaragama secara umum) diterima sebagai perbedaan dalam meletakkan prioritas antara “perumusan iman” dan “pengalaman iman”. Menurut para penganut Islam pluralis (misalnya Schuon dan Hossein Nasr), setiap agama pada dasarnya distruktur oleh dua hal: “perumusan iman” dan “pengalaman iman”. Hanya saja, setiap agama selalu menanggap yang satu mendahului yang kedua. Islam, misalnya, mendahulukan “perumusan iman” (tauhid) dan “pengalaman iman” mengikuti perumusan iman tersebut. Sebaliknya agama Kristen, mendahulukan “pengalaman iman” (dalam hal ini pengalaman akan Tuhan yang menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan dalam sakramen misa dan ekaristi), dan “perumusan iman” mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis mengenai trinitas. Perbedaan dalam struktur perumusan dan pengalaman iman ini hanyalah ekspresi kedua agama ini dalam merumuskan dan mengalami Tuhan yang sama.[21]

Sekalipun demikian, sikap paralelistis, pada sisi yang lain, menjanjikan lebih banyak kemungkinan untuk suatu hipotesis kerja awal. Sikap ini sekaligus  membawa amanat akan pengharapan dan kesabaran; pengharapan bahwa kita akan berjumpa pada akhirnya, dan kesabaran karena sementara ini masih harus menanggung perbedaan-perbedaan kita.

4. Eklektivisme

Eklektivisme adalah suatu sikap keberagamaan yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk dirinya sehingga format akhir dari sebuah agama menjadi semacam mosaik yang bersipat eklektik.[22]

5. Universalisme

Universalisme beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama. Hanya saja, karena faktor historis-antropologis, agama lalu tampil dalam format plural.[23]

Menurut Raimundo Panikkar, jika suatu perjumpaan agama terjadi, baik dalam fakta yang nyata maupun dalam suatu dialog yang disadari, maka orang membutuhkan metafora dasar untuk mengutarakan masalah-masalah yang berbeda. Oleh karena itu, tiga macam model perjumpaan agama bisa berguna, yakni model fisika : pelangi, model geomteri : invarian topologis, dan model antropologis : bahasa.[24]

Paradigma atau sikap beragama yang berkembang di dunia Kristen tersebut, ada hubungannya dengan teori W.C. Smith dalam mengkaji agama orang lain. Ada beberapa tahapan dalam hubungan antar agama yang akhirnya memunculkan dialog harmonis antar umat beragama. Tahapan-tahapan ini dianalogkan dalam bentuk : I, You dan We. “I” menunjukkan eksklusif. “You”, menunjukkan inklusif, dan “we” menunjukkan keterbukaan.

Para penganut agama memberikan tanggapan atau respon terhadap doktrin agamanya. Dalam memberikan respon ini, para penganut agama, paling tidak, memiliki tiga kecenderungan yang bisa diamati. Komarudin Hidayat memberikan ketiga kecenderungan itu, yang menurutnya bukan sebagai suatu pemisahan, yakni kecendeungan “mistikal”(solitary),“profetik-ideologikal” (solidarity), dan “humanis-fungsional”.[25]

Respon keberagamaan mistikal, antara lain, ditandai dengan penekanannya pada penghayatan individual terhadap kehadiran Tuhan. Dalam tradisi mistik, puncak kebahagiaan hidup adalah apabila seseorang telah berhasil menghilangkan segala kotoran hati, pikiran, dan perilaku sehingga antara dia dan Tuhan terjalin hubungan yang intim yang dijalin dengan cinta kasih.

Tipologi kedua adalah profetis ideologikal. Kecenderungan beragama model ini, antara lain, ditandai dengan penekanannya pada misi sosial keagamaan dengan menggalang solidaritas dan kekuatan. Oleh karenanya, kegiatan penyebaran agama dengan tujuan menambah pengikut dinilai memiliki keutamaan teologis dan memperkuat kekuatan ideologis.

Yang ketiga,humanis fungsional, adalah kecenderungan beragama dengan titik tekan pada penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang dianjurkan oleh agama. Pada tipe ini, apa yang disebut kebijakan hidup beragama adalah bila seseorang telah beriman pada Tuhan dan lalu berbuat baik terhadap sesamanya. Sikap toleran dan eklektisisme pemikiran beragama merupakan salah satu ciri tipe ini.

Kecenderungan keberagamaan di atas hanyalah merupakan respon aksentuasi dan tidak identik dengan totalitas doktrin agama itu sendiri. Partisipasi dan pelaksanaan seseorang ke dalam agama biasanya bersipat parsial, dibatasi oleh kemampuan, pilihan, serta kuat lemahnya komitmen iman seseorang. Namun demikian, dalam konteks hidup bermasyarakat dan bernegara, tipologi keberagamaan ketiga, yang menekankan orientasi kemanusiaan, perlu mendapat apresiasi dan penekanan. Hikmah hidup keberagamaan haruslah bermuara pada komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa harus dihambat oleh sentimen kelompok keagamaan.[26]

Saya melihat bahwa, kelima tipologi beragama itu harus menjadi ciri dan karakter manusia beragama secara bersamaan. Sebab, tanpa kecenderungan beragama yang pertama, kedua,dst. tidak akan memunculkan kesadaran dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kalaupun terjadi, akan nampak kehampaan spiritual, yang akan muncul adalah keinginan timbal balik berupa penghargaan sosial atau penghormatan atas jasa.

Komaruddin Hidayat lebih cenderung pada pandangan inklusivisme beragama yang barangkali lebih mudah diterima ketimbang keempat faham yang lain, karena dalam faham inklusivisme seseorang masih tetap meyakini bahwa agamanya paling baik dan benar. Namun, dalam waktu yang sama, mereka memiliki sikap toleran dan bersahabat dengan pemuluk agama lain. Sejarah membuktikan bahwa semua pendiri agama besar selalu bersikap inklusif. Sementara itu, ketika eksklusivisme menjadi pandangan hidup atau ideologi beragama yang dianut para pemuka agama dan penguasa negara, maka biasanya agama bukannya menjadi sumber perdamaian, melainkan sumber konflik. Sedangkan pluralisme agama sebagai suatu keniscayaam teologis dan historis, sikap kedewasaan memeluk suatu agama akan tumbuh kebenarannya. Bisa jadi orang yang menganggap semua agama sama saja menunjukkan bahwa dia kurang taat dalam beragama serta tidak serius mendalami ajaran suatu agama.[27]

Inklusivitas beragama memang sangat diperlukan dalam memelihara perdamaian. Jika agama memang menyumbang perdamaian, maka agama – melalui para pengikutnya – harus belajar meninggalkan absolutisme dan menerima pluralisme. Kita boleh melihat agama sebagai absolut, karena mungkin inilah makna kepenganutan kepada suatu agama. Namun, pemahaman kita, baik pribadi maupun kelompok melalui indera akal dan batin, menyimpan kualitas kemanusiaan yang relatif. Karena itulah, tidak ada tempat bagi seseorang untuk mengabsolutkan faham keagamaan sendiri.[28]

Ibn al-‘Arabi telah pula meletakkan prinsip-prinsip fundamental spiritualitas agama yang mengungkai persoalan kebahagiaan (diferensiasi) agama dalam apa yang dia sebut sebagai “lingkaran keberbagaian religius” (the circle of religious diversity).

Prinsip-prinsip fundamental itu adalah, diferensiasi agama-agama wahyu (revealed religions) semata-mata karena diferensiasi hubungan-hubungan keahlian; diferensiasi hubungan-hubungan keilahian (divine relationships) semata-mata karena diferensiasi keadaan-keadaan (states); diferensiasi keadaan-keadaan semata-mata karena diferensiasi waktu; diferensiasi waktu semata-mata karena diferensiasi gerakan-gerakan; diferensiasi gerakan-gerakan semata-mata karena diferensiasi perhatian-perhatian; diferensiasi perhatian-perhatian semata-mata karena diferensiasi tujuan-tujuan; diferensiasi tujuan-tujuan semata-mata karena diferensiasi penyingkapan-penyingkapan diri; dan diferensiasi penyingkapan-penyingkapan diri semata-mata karena diferensiasi agama-agama wahyu; dan seterusnya.[29]

Inilah yang barangkali disebut sebagai pesan universal spiritualitas agama yang menjadi fokus perhatian sufisme – spiritualitas yang lebih menitikberatkan keserupaan (similarity) peran agama-agama sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia, dan bahwa untuk meraih kesempurnaan itu terdapat banyak pintu menuju Tuhan sebagai tujuan ultima manusia yang bergerak meraih kesempurnaan religius tanpa harus terperangkap pada bentuk-bentuk formalisme dan pragmatisme ritual agama. Sebab, pada dasarnya manusia itu adalah beragama (“homo religiosus”).[30]

Tidak diragukan lagi bahwa pada masa-masa kontemporer terjadi pergeseran-pergeseran teologis tertentu yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa silam. Untuk konteks masyarakat Islam Indonesia, pergeseran pandangan teologis tertentu itu terlihat jelas sejak tahun 1970-an, berbarengan dengan dimulainya program modernisasi ekonomi dan sosial oleh pemerintah orde baru.[31]

Atas dasar itu, Azyumardi Azra menyebutkan adanya beberapa sikap berteologi umat Islam pada masa kontemporer. Tentu saja, sikap teologis ini bisa juga berlaku bagi agama-agama lain, dan sangat mempengaruhi pula terhadap proses dan dinamika kerukunan hidup antarumat beragama di Indonesia. Sikap-sikap berteologi itu adalah, teologi modernisme, teologi transformatif, teologi inklusivisme, teologi fundamentalisme, dan teologi neotradisionalisme.[32]

Teologi modernisme pada intinya berargumen bahwa modernisasi dan pembangunan umat Islam Indonesia harus dimulai dari pembaruan teologis dan aspek-aspek pemikiran lainnya. Tokoh teologi modernisme ini antara lain, Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Bagi Harun Nasution, teologi Asy’ariyah, yang disebutnya sebagai teologi tradisional,  tidak cocok dengan semangat kemajuan. Teologi yang cocok pada  saat sekarang adalah teologi yang rasional yakni teologi Mu’tazilah. Sedangkan Nurcholish Madjid bertitik tolak dari apa yang disebutnya sebagai “pembaharuan pemikiran”, yang mencakup sekularisasi, kebebasan intelektual, gagasan kemajuan, dan sikap terbuka.[33]

Teologi transformatif, dalam batas tertentu, merupakan bagian dari teologi modernisme, yang sama-sama ingin memajukan masyarakat Muslim, tetapi tidak menekankan pembaruan teologi. Sebaliknya, teologi transformatif memandang bahwa pembaruan itu harus dimulai dari masyarakat paling bawah (grassroots). Para protagonis teologi ini antara lain M.Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Mansour Fakih, dan banyak aktivis LSM lainnya.

Teologi Inklusivisme, dapat pula disebut sebagai “teologi kerukunan keagamaan”, baik di dalam satu agama tertentu maupun antara satu agama dengan agama lainnya. Para pendukung teologi ini adalah A. Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Djohan Effendi.

Teologi fundamentalisme,dalam banyak hal muncul sebagai reaksi terhadap teologi modernisme yang dipandang telah “mengorbankan” Islam untuk kepentingan modernisasi yang oleh kalangan fundamentalis dianggap nyaris identik dengan westernisasi. Tema pokok teologi ini adalah kembali kepada “Islam yang murni” sebagaimana dipraktikkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.Juga, tema lain yang cukup dominan adalah islamisasi pemikiran dan kelembagaan masyarakat Muslim.

Teologi Neotradisionalisme, muncul dan berkembang sedikit banyak sebagai reaksi terhadap teologi modernisme yang dipandang telah mendorong terjadinya “despiritualisasi” Islam dalam proses modernisasi. Salah satu tema pokok  teologi neotradisionalisme ialah kembali kepada kekayaan warisan spiritual Islam tradisional, khususnya tasawuf (dan tarekat), dan syariah.[34]




[1] Dalam tulisannya : “Ragam Beragama”, Andito (ed), Op.Cit, hal. 119

[2] Komarudin Hidayat, dalam Andito (ed), Ibid,  hal. 119

[3] Budhi  M.Rachman, Op.Cit, hal. 44

[4] Nurcholish Madjid, Dalam Kata Pengantar : Grose & Hubbard,  Op.Cit, hal. xix

[5] Budhy M. Rachman, Op.Cit, hal. 44

[6] Ibid, hal. 45

[7] Komaruddin Hidayat, dalam Andito (ed), Op.Cit, hal;. 120

[8] Viktor Tanja dalam Andito (ed), Ibid, hal. 76

[9] Raimundo Panikkar, Op.Cit, hal. 21

[10] Dikutip A. Mukti Ali, “IPA…”, Op.Cit, hal.85

[11] Grose & Hubbard, Loc.Cit

[12] Victor Tanja dalam Andito (ed), Op.Cit, hal. 76

[13] Budhy Munawar Rachman, Op.Cit, hal. 46

[14] Ibid, hal. 47

[15] Raimundo Panikkar,Op.Cit,  hal. 20

[16] Ibid, hal. 21

[17] Nurcholish Madjid dalam Kata Pengantar Grose & Hubbard (ed), Op.Cit, hal. xix

[18] Budhy Munawar Rachman, Op.Cit, hal. 48

[19] Komarudin Hidayat, dalam Andito (ed),Op.Cit,  hal. 119

[20] Raimundo Panikkar, Op.Cit, hal. 23

[21] Budhy Munawar Rachman, Op.Cit, hal. 49

[22] Komarudin Hidayat, dalam Andito (ed),Op.Cit,  hal. 120

[23] Ibid.

[24] Raimundo Panikkar, Op.Cit, hal. 24

[25] Lihat, Andito (ed), Op.Cit, hal. 43-44

[26] Ibid, hal. 45

[27] Komaruddin Hidayat dalam Andito (ed), Ibid, hal. 121

[28] Nurcholish Madjid, dalam Andito (ed), Ibid, hal. 161

[29]Ibid, hal. 71

[30] Mircea Eliade, the Sacred and the Profane, the Nature of Religion, A Harvest Book, Harcourt, Brace & World, Inc, New York, 1959, hal. 203.

[31] Azyumardi Azra, “Konteks…”, Op.Cit,  hal. 31

[32] Ibid, hal. 52-53

[33] Ibid, hal. 52

[34]Ibid, hal. 53

Posted by: amgy | February 22, 2008

TAQWA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN


Adeng Muchtar Ghazali

A. Langkah-langkah Metodologis

Untuk bisa menjelaskan implikasi taqwa terhadap pendidikan, penulis menempuhnya melalui tiga cara, yaitu : Pertama; mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an yang berkenaan dengan taqwa, mengelompokkan dan memberi makna berdasarkan tema, kemudian mengambil inti sari (essensi) makna taqwa. Kedua; memahami landasan filosofis, teoritis, dan hakekat pendidikan; dan ketiga, menjelaskan hubungan makna taqwa yang dimaksud dalam Alqur’an dengan yang menjadi prinsip dasar atau hakekat pendidikan. Berdasarkan tiga langkah dan alur pikir inilah penulis menyusun makalah ini. Read More…

Posted by: amgy | February 12, 2008

ORIENTASI BARU PEMIKIRAN KALAM

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

Aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan juga Syi’ah, tak dipungkiri sebagai aliran-aliran besar dalam sejarah pemikiran Kalam. Disebut sebagai “aliran-aliran besar”, paling tidak, saya dapat mengemukakan beberapa alasan akademis berikut : Read More…

Posted by: amgy | February 11, 2008

Renungan TAFAKKUR DAN TADZAKKUR

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

Tafakkur dan tadzakkur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks pengabdian kepada Allah SWT. Tafakkur merupakan aktifitas akal dalam merenung, berfikir, dan menyadarkan manusia ttg dirinya sendiri, bahwa dia tidak sendiri, tidak jadi dengan sendirinya, punya fitrah moral dan kebaikan, yang didatangkan dari Penciptanya, yaitu Allah SWT. Itulah essensi tafakkur dalam Alqur’an. Sedangkan tadzakkur adalah kesadaran yang diperoleh melalui proses berfikir, untuk menggugah dan menyadarkan fitrahnya, yaitu segala tindakannya senantiasa didasari dan disadari atas perintah Allah. Read More…

Posted by: amgy | February 11, 2008

Sepakbola Profesional, Penonton pun harus profesional!

Adeng Muchtar Ghazali

    Sejak kecil saya suka ’maen bola’, sekaligus sebagai penonton fanatik olahraga paling populer sejagat ini. Pada saat Jepang maupun Korea tidak ada apa-apanya dalam sepakbola, Indonesia sudah maju selangkah ketimbang mereka, pernah maen dalam sepakbola Olympiade melawan Soviet, dan prestasi terahir Indonesia adalah juara 4 dalam salah satu Asian Games. Tapi, sejak masuknya sepakbola dengan sistem pembinaan profesional, sampai sekarang belum ada prestasi yang bisa dibanggakan dalam sejarah sepakbola kita. Read More…

Posted by: amgy | February 11, 2008

Islam Dan Pemikiran Sufistis

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

    Istilah “tasawuf” (sufism), memiliki bermacam-macam arti. Secara etimologis, tasawuf berasal dari kata “sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asketik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah shafa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie, artinya ilmu ketuhanan. Yang lain menyatakan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), menunjukkan adanya sekelompok Muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa. Read More…

070328120204003.jpg

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

Dinamika Pemikiran Islam

Adanya dinamika dan perkembangan Islam mengidentifikasikan pula adanya dinamika dan perkembangan pemikiran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, pemikiran Islam merupakan refleksi teologis seseorang dalam memahami situasi sosial, kultural, politik, ekonomi, dan lain sebagainya, sebagai aktualisasi pemahaman keislamannya. Lebih tepatnya, pemikiran Islam itu merupakan upaya ijtihadi seseorang atau sekelompok orang dalam memahami teks suci Alqur’an dan As-Sunnah sejalan dengan perkembangan dan situasi sosial kultural, ekonomi, dan politik dimana Islam itu berkembang. Tentu saja, kapasitas intelektual dan persyaratan ‘akademik’ yang harus dimiliki seseorang dalam berijtihad, adalah mutlak diperlukan. Read More…

image026.jpg

Oleh : Ratnanengsih
Pendahuluan
Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi. Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.