Posted by: amgy | February 8, 2008

EMANASI DALAM FILSAFAT KEJIWAAN

070328120204002.jpg
Oleh :Adeng Muchtar Ghazali

Pendahuluan
Peradaban Islam dan kebudayaan Yunani merupakan dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan. Pilar-pilar peradaban Islam yang berhasil melahirkan filsuf, dokter, astronom, ahli matematika hingga hukum berkelas dunia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jasa-jasa ilmuan yang berasal dari kebudayaan pra-Islam, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan India. Kebudayaan Yunani telah memberikan andil yang sangat besar bagi bangunan peradaban Islam klasik. Filsafat sebagai khazanah Islam telah membuktikan diri sebagai lokomotif utama bagi gerakan pengetahuan yang kemudian menjadi fondasi bagi peradaban Islam. Keterbukaan umat Islam terhadap khazanah klasik pra-Islam memberikan ruang bagi proses penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India. Proses penerjemahan ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan pengetahuan dalam dunia Islam. Filsafat dalam hal ini menjadi bidang yang cukup digandrungi oleh sebagian intelektual Islam pada masa itu. Dalam diskusi kali ini, bagian penting dari sejumlah pemikiran filsafat Islam akan kita bicarakan, yaitu teori emanasi dan filsafat jiwa.
Dalam pemikiran filsafat, pembahasan tentang jiwa menjadi obyek kajian tersendiri dan menarik, sebagaimana halnya ketertarikan para filosof khususnya, dan pemikiran para ahli pada umumnya tentang manusia. Manusia yang terdiri dari unsure fisik dan psikisnya, serta dengan segala tingkah lakunya, banyak menarik perhatian para ahli.
Bermula dari pemikiran filsafat Yunani yang diwarisi oleh Plato dan Aristoteles yang memberikan perhatian kepada jiwa lebih banyak daripada perhatian kepada badan. Sebab, menurut pandangan kedua filosof ini, hakekat manusia pada dasarnya adalah hewan yang berfikir dan berakal, dan yang membedakan manusia dengan hewan adalah bagian dari jiwa ini, yakni pikiran dan akal. Atas dasar ini pula, dalam filsafat manusia, manusia digolongkan dalam dua kelompok, yaitu orang-orang khusus (al-khashah) dan orang-orang kebanyakan (al-ammah). Orang-orang khusus ialah mereka yang mengasah akal dengan ilmu-ilmu teoritis, bukan dengan kepandaian-kepandaian praktis.
Atas dasar pemikiran filsafat itu, maka timbul pertanyaan klasik, Apakah manusia itu bisa dikatakan sebagai hewan yang berfikir ? Ternyata, Aristoteles adalah filosof Yunani yang berpandangan demikian, jika kita memahami pandangannya bahwa menurut tingkatan benda-benda yang hidup, jiwa itu terbagi dalam tiga bagian, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewan, dan jiwa yang berakal. Nampak jelas, bahwa manusia adalah salah satu dari species yang termasuk dalam genus yang disebut hewan itu. Sebaliknya, Plato berpendapat lain, yang membagi jiwa manusia kedalam tiga bagian, yaitu keinginan (al-syahwah), emosi (al-ghadhab), dan berfikir (al-ta’aqqul). Akal menguasai keinginan nafsu dan emosi, sehingga dengan demikian tercapailah keutamaan yang pokok bagi manusia.
Dalam diskusi kali ini, penulis ingin membahas beberapa pemikiran filosof Muslim, seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi tentang jiwa dalam hubungannya dengan konsep jiwa yang dibawa oleh Aristoteles dan Plato. Sebab, kehadiran pemikiran muslim awal tidak terlepas dari pengaruh filsafat Yunani. Sudah barang tentu, teori emanasi secara langsung akan terbahas pula dalam teori atau filsafat jiwa.
1. Konsep Jiwa menurutAl-Kindi (815 H/801 M-252 H/865 M)
Alkindi adalah orang yang pertama kali memasukan filsafat sebagai salahsatu ilmu keislaman, setelah ia menyesuaikannya dengan Islam. Ia lebih cenderung mengikuti pemikiran Aristoteles dan Neoplatonisme terutama tentang metafisika. Menurutnya, agama dan filsafat sama-sama mencari kebenaran. Agama menempuh jalan syara, sedangkan filsafat melalui argumentasi (burhan). Filsafat adalah produk manusia paling tinggi dan paling mulia. Yang paling tinggi itu adalah filsafat utama (metafisika), yakni mengetahui Kebenaran Pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.

2. Al-Farabi (259/870 M-339/950)
Al-Farabi menyatukan ajaran Aristoteles dan Plato, kemudian dari masing-masing pendapat diambil sesuai dengan pemikirannya. Al-Farabi mampu mengemukakan konsepsi bahwa Allah itu ialah Yang Ada (Al-maujud) dan Yang Esa (al-wahid) dalam waktu yang sama. Yang Ada adalah suatu bentuk sifat dalam konsepsi Yunani yang merupakan inti dari filsafat Aristoteles; sedangkan Yang Esa adalah titik sentral filsafat Plotinus. Oleh karena itulah, al-farabi memahami filsafat sebagai ilmu tentang segala yang maujud sebagai maujud, mengikuti definisi Aristoteles.
3. Ibnu Sina (370/980-428/1036)
Jika Al-Kindi orang Arab, Al-Farabi orang Turki, dan Ibnu Sina adalah orang Parsi, suatu hal yang menunjukkan ciri modalnya kebudayaan Islam. Tujuan yang ingin dicapai dalam filsafatnya adalah mengenal hakekat-hakekat dari segala sesuatu dalam kadar yang mungkin dapat dicapai manusia. Baik para ahli pikir dan argumentasi maupun para ahli yang menggunakan cara intuisi (kaum Sufi) sama-sama dapat memperoleh hakekat yang tinggi. Puncak dari semua hakekat adalah mengenal Allah. Cara yang ditempuh ahli pikir adalah melalui logika, seperti yang dilakukan dalam hal mengisbatkan bahwa Allah adalah Wujud Wajib, sedangkan para ahli intuisi, yaitu jalan yang ditempuh oleh para Sufi, seperti : ” apabila iradah dan latihan kerohanian (riadhah) itu telah mencapai batas tertentu, datanglah kilasan-kilasan dan nur Al-Hak yang memberikan kelezatan, seakan-akan hal itu adalah kilasan-kilasan kilat yang memancar kepadanya kemudian menghilang “. Menurut Ibn Thufail, dalam mengomentari pembicaraan ini, bahwa pengalaman-pengalaman kerohanian yang dituangkannya ini maksudnya ialah pengalaman-pengalaman yang dicapai melalui intuisi, bukan yang diperoleh melalui pengetahuan intelektual yang dicapai dengan silogisme, menyusun premis-premis dan mengambil kesimpulan-kesimpulan. Inilah yang membedakan para filosof di bagian Barat dunia Islam lebih cenderung kepada pemikiran intelektual daripada kepada pengetahuan intuitif.
Ibn Sina meninggalkan beberapa Syair yang mengungkapkan filsafatnya. Syair yang paling terkenal adalah syair mengenai jiwa (nafs) yang pembukaannya, antara lain berbunyi :
Ia turun kepadamu dari tempat yang tinggi,
Sangat halus, tetapi manja dan sulit.
Syair itu mengisyaratkan bahwa jiwa itu lain dari badan, dan adalah abadi ; ia mendiami badan ” untuk dapat mendengar apa yang belum didengarnya “; ” dan ia akan kembali membawa pengetahuan tentang semua yang tersembunyi “. Setelah ia menggunakan teori baru bahwa secara rasional semua yang maujud menjadi ” wujud wajib, wujud mungkin, dan wujud tidak mungkin (mustahil), maka ia membuktikan adanya Allah, bahwa Allah adalah wujud wajib. Alam semesta dengan seluruh bagiannya, dari wujud wajib sampai kealam elemen-elemen dan substansi pertama (hayuli). Pandangannya ini membuktikan bahwa Ibnu Sina telah menyatukan pendapat Aristoteles dan Plato.
Teori Jiwa dan Emanasi
Dari beberapa contoh pemikiran di atas, nampak jelas bahwa para filosof Muslim telah mewarisi dari orang Yunani dua teori mengenai Tuhan :
Pertama, teori Aristoteles, bahwa Tuhan adalah ” Penggerak yang tidak bergerak “, yakni sebab pertama dari gerak alam. Berkaitan dengan teori ini, Tuhan itu adalah ” maujud “, karena, metafisika Aristoteles adalah metafisika wujud, yaitu bahwa pembahasan tentang yang maujud sebagai yang maujud; maujud yang paling mulia adalah Maujud Mutlak : Allah. Menurut Aristoteles, Tuhan adalah maujud, tetapi sifat ini tidak termasuk dalam Asma al-husna yang tersebut dalam Al-Quran.
Kedua, yaitu teori Plotinus dan Neoplatonisme, yang memandang Tuhan sebagai Yang Esa (al-wahid) dan dari Yang Esa itu mengalir Akal Pertama (Nous), kemudian Jiwa Universal (Soul), lalu Alam Benda (Matters). Yang Esa (al-Wahid) dan Yang pertama (al-Awwal) termasuk asma al-husna.
Dalam teori Aristoteles, alam adalah kadim, sehingga akibatnya penciptaan (dari tidak ada) itu dinapikan; Tuhan hanya menggerakkan alam sebagai penggerak pertama saja. Ia adalah Penggerak Yang Tidak Bergerak. Sedangkan teori Plotinus adalah teori emanasi, yang memandang bahwa alam semesta terbit dengan sendirinya dari Tuhan, seperti cahaya terbit dari matahari, atau seperti air terbit dari mata air. Dengan demikian, Tuhan tidak berperan sebagai pecipta.
Ajaran Islam memisahkan antara Allah dan alam, dan pada dasarnya adalah teori creation ex nihilo, yakni bahwa alam pada mulanya tidak ada, kemudian ada dengan perintah Allah. Oleh karena itu, semua ulama berpendapat sama bahwa Allah adalah Pencipta. Dilingkungan para filosof Muslim, khususnya Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina mempunyai pendapat yang berbeda. Kesimpulan pendapat Al-Kindi adalah bahwa Yang Esa ialah Yang Sebenarnya (al-wahid al-haq). Segala sesuatu yang dikatakan Esa (satu), baik satu matematik maupun satu benda alam, hanya satu dalam arti majazi. Satu yang sebenarnya adalah ” Maha Satu yang sama sekali tidak berbilang dari segi apapun dan tidak terbagi dalam sesuatu macam pembagian, baik dari segi zat-Nya maupun dari segi yang lain… “. Hubungan Allah dengan alam adalah ibda, suatu sifat yang menyerupai penciptaan (al-khalq), tetapi pengertian ibda lebih mengesankan penciptaan sesuatu yang tidak ada (creation exnihilo), disamping mengandung arti pengaturan dan penyusunan. Oleh karena itu, kesimpulan Al-Kindi, bahwa Yang Esa yang sebenarnya (al-wahid al-haq) itu adalahh Yang Pertama, yang menciptakan dan menggenggam semua ciptaan-Nya. Sekalipun alam langit yang tertinggi semuanya diciptakan Tuhan, tetapi Tuhan sendiri berada di atas ketentuan hukum alam.
Sedangkan menurut Al-Farabi, karena filosof muslim pertama yang menyesuaikan antara filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme, atau antara filsafat wujud dan filsafat Yang Esa, maka dia berpendapat bahwa Allah adalah ” Maujud Yang Pertama “. Pengertian Yang Pertama adalah dasar pertama dari semua yang maujud dan sebab pertama bagi wujudnya. Maujud pertama itu adalah sebab pertama dari wujud semua yang maujud. Adapun Ibn Sina menempuh jalan lain. Ia mengikuti Aristoteles dalam mendefinisikan metafisika sebagai ilmu mengenai yang maujud sebagai yang maujud, maujud pertama yang merupakan wujud wajib ialah Allah. Ibnu Sina menyebut Allah ” Yang Wajib “, sedangkan Al-Farabi memilih sebutan ” Yang Pertama “. Oleh karena itu, sama halnya dengan Al-Kindi, Al-Farabi berpendapat bahwa alam ini adalah ” baharu “. Keduanya pun menyetujui teori emanasi Neoplatonisme tentang kejadian alam dan hubungan Khalik dengan makhluk. Dalam prinsip Aristoteles, Tuhan itu adalah Akal yang Berpikir, yang dinamakan Al-Farabi dengan sebutan Akal Murni. Prinsip ini dikembangkan dengan teori emanasi Neoplatoniosme dan Plotinus. Akal murni itu esa adanya, dalam arti bahwa akal itu berisi satu fikiran saja, yakni senantiasa memikirkan dirinya sendiri. Jadi, Tuhan itu adalah akal yang aqik (berfikir) dan maqul (difikirkan). Dengasn ta’aqqul ini mulailah ciptaan Tuhan. Tatkala Tuhan memikirkan itu, timbullah suatu wujud baru atau terciptalah suatu akal baru yang dinamakan al-Farabi Al-aqlul awwal (akal pertama), begitu seterusnya sampai al-aqlul asyir (akal kesepuluh) tentang langit dan bulan.
Ibnu Sina dalam teori emanasinya (nadhariatul-faidl) mengadakan sintesis antara teori filsafat dengan teori ilmu kalam. Misalnya, teori Aristoteles yang berpendapat bahwa alam dunia adalah azali dan tidak ada dalil akal yang dapat membuktikan bahwa dunia kita ini ada permulaannya. Alam dunia dianggap abadi dan tidak akan binasa. Sebaliknya, menurut Islam, alam ini adalah baharu, fana, dan akan binasa. Oleh karena itu, Ibnu Sina berpendapat, bahwa terjadinya alam ini adalah dengan cara melimpah, seperti melimpahnya cahaya dari matahari atau melimpahnya panas dari api, hal mana sudah menjadi tabi’atnya. Berbeda dengan Aristoteles, Ibnu berpendapat bahwa alam ini bukan azali, tetapi didahului oleh keadaan tidak ada, yang berarti baharu. Teori emanasi yang digunakan Ibnu Sina adalah proses kejadian alam itu. Menurut Ibnu Sina, alam semesta (selain Tuhan) sepenuhnya terdiri dari pelbagai peristiwa yang ditentukan dan dipastikan. Hanya Tuhan sajalah satu-satunya Zat yang tidak diakibatkan oleh sesuatu di luar diri-Nya. Tuhan adalah sebab pertama yang dari serangkaian sebab-akibat yang membentuk struktur realitas. Akan tetapi menurutnya, pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan ipso facto tentang segala sesuatu di luar diri-Nya, dan dengan mengetahui diri-Nya maka tidak pelak lagi mengetahui segala maujud di luar diri-Nya. Bagi Ibnu Sina, Tuhan hanya tahu terhadap esensi-esensi (universal-universal), bukan pada maujud-maujud khusus karena yang khusus secara pasti diketahui secara inderawi.
Dalam teori emanasi, Ibn Sina berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan ada bukan adanya alam dari ketidakadaan. Dengan kata lain dipahami bahwa alam ini adalah diciptakan. Seandainya alam diciptakan dari kondisi tidak ada maka maksud untuk mengatakan alam ini diciptakan tidak akan memenuhi syarat-syarat logika. Sesuatu ada secara logika haruslah berdasarkan kepada yang sudah ada. Empat aspek yang menjadi implikasi dari konsep penciptaan alam secara emanasi yang dikemukakan oleh filosof muslim, dalam hal ini khususnya Ibn Sina dan al Farabi menjadi sasaran kritik al Ghazali. Bagi al Hujjat al Islam ini teori emanansinya Ibn Sina membawa implikasi kepada: Qadim-nya alam, menghilangkan kesan Tuhan sebagai pencipta, menempatkan Tuhan lebih rendah dari makhluk-Nya dan teori emanasi ini akan membawa kepada paham panteisme. Qadim menurut penulis maqasid al falsifah ini diartikan ada sejak zaman tak bermula, bisa mengandung arti tidak diciptakan. Kalau alam tidak diciptakan, seperti pandangan kaum filosof, maka bisa berarti alam sendiri adalah pencipta. Bagi al Ghazali, Pencipta adalah sesuatu yang berasal dari tidak ada kemudian menjadi ada. Sedangkan bagi filosof, penciptaan bagi mereka hanya sebatas perubahan dari satu bentuk kepada bentuk lain. Hal ini berakibat, menurut al Ghazali, filsafat Aristotelian yang dikembangkan oleh al Farabi dan Ibn Sina terbagi ketiga kelompok. Pertama, filsafatnya yang tidak perlu disangkal dengan arti dapat diterima, kedua, filsafatnya yang harus dipandang bid’ah (heterodoksi) dan ketiga filsafatnya yang harus dipandang kafir. Dalam bidang ketuhanan, tertulis dalam Tahafut al Falasifah, al Ghazali memandang para filosof ahli bid’ah dan kafir. Jelaslah bahwa teori emanasi Ibnu Sina mengikuti dan mengambil bahan-bahan dari teori Al-Farabi dan Neoplatonisme.
Dalam menjelaskan teori emanasi, Harun Nasution menjelaskan bahwa Yang Maha Esa berfikir tentang diri-Nya yang Esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diri-Nya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang dirinya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang Esa. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan Dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut : Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Akal X menghasilkan hanya Bumi. Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.
Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini, tetapi melalui Akal I yang esa, dan Akal I melalui Akal II, Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X.
Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui Akal atau malaikat. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak, dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi, Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi.
Konsep Jiwa
Sedangkan tentang konsep jiwa, pada umumnya para filosof Muslim mengikuti aliran Aristoteles dalam hal jiwa manusia, yaitu berupa daya makan, daya indra, dan daya pikir, yang berbeda dengan Plato, bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu keinginan, emosi dan berfikir; akal menguasai keinginan nafsu dan emosi, sehingga dengan demikian tercapailah keutamaan yang pokok bagi manusia. Menurut Ibnu Sina, manusia terdiri dari dua unsur : badan dan jiwa; jiwa berbeda dari badan dan terpisah darinya, lebih-lebih lagi setelah mati. Jiwa itu adalah substansi rohani, dengan argumentasi ” orang terbang ” di angkasa tanpa berjejak ke bumi, orang itu tidak akan merasakan sesuatu selain dirinya. Atas dasar argumentasi ini, jiwa itu adalah substansi immaterial.
Sama dengan al-Farabi, Ibnu Sina membagi jiwa kepada tiga bagian:
1. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan berkembang biak.
2. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak, pindah dari satu tempat ke tempat, dan daya menangkap dengan panca indra, yang terbagi dua: (a) Indra luar, yaitu pendengaran, penglihatan, rasa dan raba. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra; ii. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi; iii. Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini; iv. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut; v. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu.
3. Jiwa manusia, yang mempunyai hanya satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua: a. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. b. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.
Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini, dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1) Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. 2) Akal bakat, yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. 3) Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. 4) Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi.
Kesimpulan
Dari apa yang telah penulis paparkan diatas, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya :
1. mxckszfhisk
2. jksdzflz
3. lszdjfszd
4. lzsdjfoz

Daftar Pustaka

Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Proyek Pembinaan Prasarana Dan Sarana PTA, Jakarta, 1983/1984
Happy Susanto, ” Geliat Baru Pemikiran Islam Kontemporer “, dalam http://www. geocities.com/jurnal_iiitindonesia/pemikiran_islam_kontemporer.htm 25 oktober 2007
Harun Nasution, Filsafat Islam, dalam Artikel Yayasan Paramadina, http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/FilsafatIslam1.html, 25 Oktober 2007
Hasbullah Bakry, Disekitar Filsafat Skolastik Islam, Tintamas, Jakarta, 1984
Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003, International Institute of Islamic Thought Indonesia
Teguh Santosa, Membincangkan Filosof Dan Teolog, dalam Suplemen Pikiran Rakyat, Teropong, tanggal 6 Juni 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: