Posted by: amgy | February 9, 2008

Budaya dan Spiritualitas Keagamaan

070325112937001.jpg

Oleh Adeng Muchtar Ghazali
Pengantar
Makalah ini untuk menganalisis hubungan budaya dan agama pada masyarakat. Apakah agama mempengaruhi terhadap budaya, begitu pula sebaliknya, apakah budaya mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian sosiologis, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang di anut oleh masyarakat yang bersangkutan. Dari sudut pandang ini, agama di satu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya setempat, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Di sinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya. Persoalannya adalah, apakah nilai-nilai agama lebih dominan dalam mempengaruhi budaya setempat, atau sebaliknya, budaya lebih dominan dalam kehidupan masyarakat itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan kita bahasa dalam diskusi sekarang ini.

Kebudayaan dan Tradisi
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain. Demikian pula, Edward B. Tylor berpendapat, bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Sejalan dengan pengertian tersebut di atas, Parsudi Suparlan secara lebih spesifik menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan cetak biru bagi kehidupan, atau pedoman bagi kehidupan masyarakat, yaitu merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan para warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Dari pengertian kebudayaan itu, dapat diperoleh kesimpulan bahwa kebudayaan itu merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut., Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, tampaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Tradisi merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Pada umumnya, pada masyarakat pedesaan, tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama. Mitos lahir dari tradisi yang sudah mengakar kuat di suatu masyarakat, sementara agama dipahami berdasarkan kultur setempat sehingga mempengaruhi tradisi.
Dari sudut pandang sosiologis, tradisi merupakan suatu pranata sosial, karena tradisi dijadikan kerangka acuan norma dalam masyarakat Kerangka acuan norma ini ada yang bersipat sekunder dan primer. Yang sekunder, pranata itu bercorak rasional, terbuka dan umum, kompetitif dan konflik yang menekankan legalitas, seperti pranata politik, pranata pemerintahan, ekonomi dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Pranata ini dapat diubah struktur dan peranan hubungan antar peranannya maupun norma-norma yang berkaitan dengan itu. Tampaknya, pranata sekunder ini bersipat fleksibel, mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pendukungnya. Sedangkan pranata primer berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakatrnya, karena, pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pranata ini tidak dengan mudah dapat berubah begitu saja.
Mengacu kepada penjelasan di atas, tradisi keagamaan termasuk ke dalam pranata primer. Karena pranata keagamaan ini mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan Ketuhanan atau keyakinan, tindakan keagamaan, perasaan-perasaan yang bersifat mistik, penyembahan kepada yang suci, dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang hakiki. Dalam hubungan dengan masalah kebudayaan yang sudah menjadi tradisi inilah, maka tradisi keagamaan sulit berubah, karena selain didukung oleh masyarakat, juga memuat sejumlah unsur-unsur yang memiliki nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat. Demikian juga, tradisi keagamaan mengandung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan dengan agama yang dianut oleh masyarakat atau pribadi-pribadi pemeluk agama tersebut
Agama Sebagai fakta sosial
Untuk melihat hubungan kebudayaan dan agama, terlebih dahulu kita fahami tentang agama. Tentu saja agama dalam kontek sosiologis maupun budaya. Sebab, dalam konteks ini agama dipandang sebagai realitas dan fakta sosial sekaligus juga sebagai sumber nilai dalam tindakan-tindakan sosial maupun budaya. Agama, dan juga sistem kepercayaan lainnya, seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama – yang dalam bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”- adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
… sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.
Para sosiolog memiliki fokus yang khusus, dengan mempertimbangkan terhadap data empiris, seperti tingkah laku, dan terutama terhadap struktur sosial atau prilaku kelompok. Agama merupakan fenomena manusia yang berfungsi untuk menyatukan kesatuan ritual, sosial dan individu-individu kedalam suatu lingkungan yang berarti, termasuk didalamnya komunitas para pengikut (jama’ah); mitos-mitos umum yang menafsirkan abstraksi dari nilai-nilai kultural kedalam realitas history;. tingkah laku ritual; dan suatu dimensi dari pengalaman yang diakui karena mencakup sesuatu yang lebih daripada realitas sehari-hari, yakni ‘The Sacred’ –Yang Suci.
Elizabeth K. Nottingham, seorang sosiolog, berpendapat bahwa karena agama dan keanekaragamannya yang hampir tidak dapat dibayangkan itu memerlukan deskripsi (penggambaran) dan bukan definisi (batasan), maka tidak ada definisi agama yang benar-benar memuaskan, Hal ini disebabkan bahwa agama merupakan “gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana, sehingga sedikit membantu kita untuk membuat abstraksi ilmiah”. Disamping itu pula, agama “berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta”.
Kesulitan dalam memahami agama, sebagaimana disebutkan oleh Nottingham di atas, salah satunya adalah, karena didalam agama itu mengandung aspek-aspek, dimensi-dimensi atau variabel-variabel yang memang beragam, dan definisi tentang agama sudah tentu mendasarkan diri pada salahsatu atau lebih dari aspek-aspek, dimensi-dimensi atau variabel-variabel itu. Aspek-aspek, dimensi-dimensi atau variabel-variabel yang dimaksudkan adalah sebagaimana dikemukakan oleh L.B Brown, dengan lima variabel dibawah ini :
1. Behaviour (tingkah laku) atau praktek-praktek yang menggambarkan keadaan agama. Biasanya dikembangkan melalui sering tidaknya pergi ke gereja, membaca injil dan lain-lain.
2. Beliefs (keimanan); biasanya dihubungkan dengan kerangka kepercayaan yang umum dan yang khusus dari agama tertentu.
3. Experience (pengalaman); yaitu perasaan, pengalaman, atau kesadaran keagamaan tentang sesuatu yang transenden yang dapat memberikan dasar yang kokoh bagi kehidupan keagamaan.
4. Involvement, keterikatan terhadap suatu jamaah yang menyatakan diri sebagai suatu institusi nilai, sikap atau kepercayaan-kepercayaan.
5. Consequential effects, yakni konsekuensi logis sebagai akibat dari pandangan-pandangan keagamaan dalam tingkah laku yang non-agama dan dalam tingkah laku moral.
Aspek-aspek yang serupa, dirumuskan oleh Prof. Sartono Kartodirdjo kedalam dimensi-dimensi religiositas sebagai berikut :
1. Dimensi pengalaman mencakup semua perasaan persepsi dan sensasi yang dialami waktu berkomunikasi dengan realitas supernatural.
2. Dimensi ideologis mencakup satu set kepercayaan.
3. Dimensi ritual mencakup semua aktivitas seperti upacara, berdoa, dan partisipasi dalam berbagai kewajiban agama.
4. Dimensi intelektual ideal berhubungan dengan pengetahuan tentang ajaran agama.
5. Dimensi ‘konsekuential’ mencakup semua efek dari kepercayaan, praktek, pengetahuan dari orang yang menjalankan agama, dengan perkataan lain semua perbuatan dan sikap sebagai konsekuensi beragama.
Disamping itu, Prof. Kuntjaraningrat menganut konsepsi religi yang terdiri dari empat komponen. Dasar pendiriannya karena, bahwa religi adalah bagian dari kebudayaan, yang menunjuk kepada konsep E. Durkheim tentang dasar-dasar religi. Adapun konsep Kuntjaraningrat tersebut adalah bahwa tiap religi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen yakni :
1. Emosi keagamaan, yang menyebabkan manusia menjadi religius.
2. Sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia tentang sipat-sipat tuhan, serta tentang wujud dari alam gaib (supernatural).
3. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan antara manusia dengan tuhan, dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam ghaib.
4. Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan tersebut dalam sub 2, dan yang melakukan sistem upacara-upacara tersebut dalam sub 3.
Berdasarkan pengertian agama serta beberapa aspek yang terkandung didalamnya, maka agama dapat disederhanakan kepada dua bagian, yaitu agama sebagai doktrin dengan seperangkat keyakinannya, dan agama sebagai “praktek”, yaitu berupa tindakan-tindakan ritual (ibadah) sebagai perwujudan atau pengamalan doktrin. Dari seluruh aspek yang ada dalam agama itu, bagaimanapun akan berhadapan dengan nilai-nilai budaya lokal yang akan menghasilkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, bahwa agama, melalui tindakan-tindakan keagamaan para pemeluknya, mempengaruhi atau bahkan menghasilkan budaya, yang bissa dilaksanakan secara terus menerus dan establish (mapan), akan melahirkan tradisi. Kemungkinan kedua, tindakan keagamaan dipengaruhi oleh nilai budaya lokal melalui pemahaman atau pola pikir para penganut agama yang menghasilkan tradisi pula. Oleh karena itu, kita akan melihat hubungan antara kebudayaan dan agama di bawah ini
Hubungan Agama dan Kebudayaan
Atas dasar pembahasan tentang agama, kebudayaan dan tradisi di atas, tampaklah bahwa ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat. Bila kebudayaan sebagai cetak biru bagi kehidupan atau sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, maka dalam masyarakat pemeluk agama perangkat-perangkat yang berlaku umum dan menyeluruh sebagai norma-norma kehidupan akan cenderung mengandung muatan keagamaan. Dengan demikian, hubungan antara tradisi keagamaan dengan kebudayaan terjalin sebagai hubungan timbal balik. Makin kuat tradisi keagamaan dalam suatu masyarakat, maka akan makin terlihat peran atau makin dominan pengaruhnya terhadap kebudayaan. Sebalikmya, makin sekuler suatu masyarakat, maka pengaruh tradisi keagamaan dalam kehidupan masyarakat akan kian memudar.
Sebagai kenyataan sosial dan duniawi, agama mempunyai jalinan erat dengan masyarakat. Setiap agama dalam segala seginya pasti mempengaruhi masyarakat. Pengaruh ini muncul dari manusia yang menyakini dan mengekspresikan agamanya. Persoalannya adalah, sejauhmana pengaruh itu positif atau negatif. Adanya dua sisi pengaruh yang berbeda dari ekspresi manusia beragama ini, menarik perhatian para peserta “Kongres Nasional I Agama-agama di Indonesia” yang diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 1993, yang dirumuskan (pada alinea ke I) menjadi “Deklarasi Kongres Nasional”, sebagai berikut
“Agama disatu pihak menjadi kekuatan bagi gerakan-gerakan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian. Namun di pihak lain, semangat keagamaan dapat menyebabkan dan melegetimasikan perpecahan, bahkan kekerasan”
Budaya dan agama ada dan hidup dalam masyarakat, oleh karenanya dalam sejarah kehidupan manusia, agama dan budaya (sebagai produk manusia) selalu berdampingan. Hal ini sebagaimana dipertegas oleh Max Muller bahwa, sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah agama, karena disadari bahwa agama merupakan jalan menuju kepada pengetahuan yang benar, dan oleh karena itu, agama mendasari sejarah kehidupan manusia, agama merupakan sinar dan nyawa sejarah, dan tanpa agama sejarah apapun menjadi tidak suci.
Dalam kontek sosial kultural, agama bisa menjadi pembentuk dinamika, struktur, sikap dan perilaku masyarakat, sehingga dalam batas-batas tertentu, agama merupakan suatu fenomena kultural. Dikatakan demikian, karena persepsi manusia ikut memainkan peran dalam melihat apa sesungguhnya agama itu, dan orang berupaya mencari relevansi agama dengan kebutuhan zaman dan masyarakat yang senantiasa berubah. Oleh karena itu, secara fenomenologis, konsep dan system agama itu dapat dipilah-pilah kedalam beberapa komponen, seperti emosi keagamaan, system keyakinan, system ritus dan upacara, serta umat. Komponen-komponen ini dapat dirangkum dalam tiga pokok pikiran berikut, yakni :
Pertama agama sebagai doktrin, yang dikaji antara lain, apakah substansi dari keyakinan religius itu ? Apakah yang diyakini sebagai kebenaran hakiki ? Apakah makna ajaran agama bagi para pemeluknya ? Dan lain-lain
Kedua, struktur dan dinamika masyarakat yang ‘dibentuk’ oleh agama. Kategori kedua ini untuk melihat peran agama sebagai landasan dari terbentuknya suatu komunitas atau jama’ah. Sebagai suatu masyarakat, komunitas ini pun mempunyai tatanan struktural. Bagaimanakah corak dan bentuk tatanan itu ? Sejauh manakah tatanan tersebut merupakan pantulan dari keharusan doktrin agama ?
Ketiga , sikap pemeluk agama terhadap doktrinnya Kategori ini untuk melihat keterkaitan keyakinan agama dengan perbuatan kesehariannya. Kategori ini bisa menjadi ukuran seberapa tinggi keterlibatan dirinya dengan ajaran agamanya. Kajian-kajian psikologis dan fenomenologis dapat memahami simbolisme dan sikap seseorang dalam beragama.
Dari ketiga komponen keagamaan di atas itulah, maka adanya hubungan agama dan budaya bisa kelihatan. Sikap dan keberagamaan seseorang atau sekelompok orang bisa berubah dan berkembang sejalan dengan perkembangan budaya dimana agama itu hidup dan berkembang. Demikian pula budaya mengalami perkembangan dan transformasi. Transformasi budaya merupakan perubahan yang menyangkut nilai-nilai dan struktur sosial. Proses perubahan struktur sosial akan menyangkut masalah-masalah disiplin sosial, solidaritas sosial, keadilan sosial, system sosial, mobilitas sosial, dan tindakan-tindakan keagamaan. Transformasi budaya yang tidak berakar pada nilai budaya bangsa yang beragama akan mengendorkan disiplin sosial dan solidaritas sosial. Dan pada gilirannya unsur keadilan sosial akan sukar diwujudkan.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa
1. Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang di anut oleh masyarakat.
2. Agama dapat memberikan pengaruh terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya.
3. Agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, oleh karena itu, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
4. Agama sebagai wahyu memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara Hargrove, the Sociology of Religion, Classical and Temporary Approaches, Harlan Davidson, Illinois USA,1979

Burhanudin Daya, ed, Ilmu Perbandingan Agama Di Indonesia Dan Belanda, INIS, Jakarta, 1992

Elizabeth K. Nottingham, Agama Dan Masyarakat, terjemahan, Rajawali, Jakarta, 1985

Hans J. Daeng, “Agama, Kebudayaan, Dan Pembangunan”, salah satu tulisan yang terdapat dalam Tantangan Kemanusiaan Universal, G. Moedjanto, dkk (ed), Kanisius, Yogyakarta, 1994

Jalaluddin, Psikologi Agama, Rajawali Pers, 1996

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitet Dan Pembangunan, Gramedias, Jakarta, 1974

L.B. Brown, the Psychology of Religion, Penguin Books, New York, 1973

Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama Di Indonesia, IAIN Suka, Yogyakarta, 1992
Sartono Kartodirdjo, Ilmu Perbandingan Agama I, Depag RI, 1981

Suyatno Kartodirdjo, “Transformasi Budaya Dalam Pembangunan”, G. Moedjanto dkk (ed)

Taufiq Abdullah, Metodologi Penelitian Agama, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1989

Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.http://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan, 30 okt 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: