Posted by: amgy | February 9, 2008

DIALOG KERUKUNAN, Upaya menuju saling pengertian dan menghormati antar pemeluk agama

070325112937002.jpg

Oleh: Adeng Muchtar Ghazali

Abstrak

Agama merupakan sesuatu yang diyakini dan dipahami oleh manusia.Suatu keyakinan bisa tampak manakala diekspresikan dalam berbagai tindakan. Tindakan manusia beragama itu merupakan penerapan konkrit dari nilai-nilai yang dimiliki manusia. Oleh karena itulah, Smith mencoba memahami dan sekaligus “mempersoalkan” agama berdasarkan apa yang diyakini dan diperbuat oleh manusia beragama, sebab, kebenaran itu justru muncul berdasarkan apa yang dipahami dan dilakukan oleh manusia.
Atas dasar itu, keberagamaan seseorang bagaimanapun akan di-pengaruhi oleh struktur sosial, po-litik dan kultural setempat dimana agama itu hidup dan berkembang. Dalam konteks ini, misalnya, kenapa “perwujudan” Islam di Indonesia bisa dibedakan dengan Islam di Arab Saudi, Pakistan, Mesir, atau di tempat lainnya ? Demikian juga, kenapa Hindu di India berbeda dengan Hindu di Bali ? Dari sinilah, maka setiap agama tidak dapat dipisahkan dari cirinya yang “kompromistis” atau “akomodatif”. Sifat akomodatif terletak pada penghampiran manusia terhadap agamanya yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, kultur dan politis dimana ia hidup. Tentu saja, pandangan itu lebih bersipat sosial antropologis. Sebaliknya, sebagai sistem keyakinan, agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan suatu masyarakat dan menjadi pendorong tindakan-tindakan anggota masyarakat supaya tetap berjalan sesuai dengan niali-nilai kebudayaan dan ajaran agamanya.
Berdasarkan fakta historis, bahwa tindakan-tindakan beragama akan berhadapan dengan realitas-realitas keyakinan yang beragam. Oleh karena itu, maka, bagaimana keyakinan seseorang mendefinisikan diri di tengah-tengah agama-agama lain. Dan, semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralisme agama, maka berkembang pula suatu paham teologia religionum, yaitu suatu faham yang menekankan pentingnya dewasa ini untuk berteologi dalam konteks agama-agama.
Dalam konteks itulah, penelitian ini berusaha untuk memahami dan mendeskripsikan landasan etis dan normatif dialog kerukunan. Termasuk didalamnya mendeskripsikan seperangkat persyaratan dan perlengkapan dialog; serta mengungkapkan berbagai peluang dan hambatan dalam proses dialog sehingga diharapkan dapat menghasilkan sebuah model dialog kerukunan antar agama, khususnya di Indonesia.

A. Pendahuluan

Dalam bahasa sehari-hari, sering kita menemukan dua istilah ‘agama’ dan ‘keberagamaan’. Dalam pandangan saya, juga para penstudi agama pada umumnya, agama ada-lah seperangkat doktrin, keperca-yaan, atau sekumpulan norma-norma dan ajaran-ajaran Tuhan yang bersipat universal dan mutlak kebenarannya. Sedangkan keber-agamaan, adalah penyikapan atau pemahaman para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan atau ajaran-ajaran Tuhan, yang tentu saja karena penyikapannya itu men-jadi bersipat relatif, termasuk kebe-narannya pun menjadi bernilai rela-tif pula. Sebab, setiap penyikapan terikat oleh sosio-kultural; dan seti-ap lingkungan sosio-kultural terten-tu ini sangat mempengaruhi terha-dap pemahaman seseorang tentang agamanya. Maka, dari sinilah akan muncul keragaman pandangan dan faham keagamaan, sekalipun dalam kepenganutan agama yang sama.
Penyikapan dan pandangan yang bermacam ragam itu, sebagai-mana secara intuitif ditangkap oleh Scheilermacher, sebenarnya sema-kin menunjukkan adanya kesatuan di antara (para penganut) agama-agama. Ia mengatakan, bahwa “semakin pesat kemajuan dalam agama, akan semakin nampak bah-wa dunia keagamaan adalah satu kesatuan yang tak terbagi”. Demi-kian pula, Max Muller, seorang perintis Ilmu Perbandingan Aga-ma, yang mengatakan bahwa : “ha-nya ada satu agama universal dan abadi yang melingkupi, mendasari dan melampaui semua agama-agama yang di situ mereka ter-masuk atau dapat dimasukkan”.
Dengan demikian, agama adalah “sesuatu yang diyakini dan dipahami manusia”. Keyakinan ini bisa nampak manakala diekspre-sikan oleh manusia atau sebagai penerapan konkrit nilai-nilai yang dimiliki manusia . Smith mencoba “mempersoalkan” agama berdasar-kan apa yang diyakini dan diper-buat manusia, karena kebenaran itu muncul berdasarkan yang dipa-hami oleh manusia. Keberagamaan seseorang, bagaimanapun akan di-pengaruhi oleh struktur sosial, po-litik dan kultural setempat dimana agama itu hidup dan berkembang. Dalam konteks ini, kenapa “per-wujudan” Islam di Indonesia bisa dibedakan dengan Islam di Arab Saudi, Pakistan atau Mesir ? Juga, kenapa Hindu di India berbeda dengan Hindu di Bali ? Maka, seti-ap agama tidak dapat dipisahkan dari cirinya yang “kompromistis” atau “akomodatif”. Sifat akomo-datif terletak pada penghampiran manusia terhadap agamanya yang dipengaruhi oleh lingkungan so-sial, kultur dan politis dimana ia hidup. Tentu saja, pandangan itu lebih bersipat sosial antropologis. Sebaliknya, sebagai sistem keya-kinan, agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan suatu masyarakat dan menjadi pendo-rong tindakan-tindakan anggota masyarakat supaya tetap berjalan sesuai dengan niali-nilai kebuda-yaan dan ajaran agamanya .
Berdasarkan fakta historis, bahwa sistem nilai plural adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah, di ubah, di lawan, dan diingkari. Barangsiapa yang mencoba me-ngingkari hukum kemajemukan budaya, maka akan timbul feno-mena pergolakan yang tidak ber-kesudahan. Boleh dikatakan bahwa memahami pluraritas agama dan budaya merupakan bagian dari memahami agama. Sebab, mema-hami agama pada dasarnya adalah juga memahami kebudayaan ma-syarakat secara menyeluruh. Dan, jika agama dipahami secara integral dengan kondisi sosial kulturalnya, pada saat itu pula akan tampak dengan sendirinya mana aspek budaya yang selaras dengan misi agama dan mana yang tidak.
Sejalan dengan pluralitas da-lam beragama itu, problem paling besar dalam kehidupan beragama dewasa ini – yang ditandai oleh kenyataan plura-lisme – adalah “bagaimana teologi dari suatu agama mendefinisikan diri di te-ngah agama-agama lain . Semakin berkembangnya pemahaman me-ngenai pluralisme agama, berkem-bang pula suatu paham teologia religionum, yaitu suatu faham yang menekankan pentingnya dewasa ini untuk berteologi dalam konteks agama-agama.
Oleh karena itu, dalam konteks kehidupan beragama yang pluralistis diperlukan suasana saling pengertian dan saling menghormati di antara berbagai penganut agama. Salah satu cara untuk sampai pada suasana “rukun”, saling pengertian dan menghormati itu adalah melalui upaya “dialog antaragama”. Masing-masing agama memiliki prinsip dasar dan cara tersendiri dalam berdialog. Prinsip ini bisa berasal dari norma-norma masing-masing agama, bisa juga berasal dari pengalaman-pengalaman pri-badi manusia beragama, baik pe-ngalaman langsung maupun penga-laman atas dasar memahami feno-mena beragama.
Atas dasar itu, masalah yang akan diteliti adalah : (1) bagaimana latarbelakang, maksud, dan tujuan dialog antaragama; (2) bagaimana persyaratan dan kelengkapan dia-log; (3) bagaimana norma dan etika dalam berdialog; (4) bagaimana bentuk-bentuk dialog; dan (5) ba-gaimana peluang dan hambatan dialog itu.
Adapun tujuan yang diha-rapkan dari penelitian ini adalah : (1) untuk memahami dan mendes-kripsikan landasan etis dan norma-tif dialog kerukunan; (2) untuk memahami dan mendeskripsikan seperangkat persyaratan dan per-lengkapan dialog; (3) untuk mema-hami dan mendeskripsikan ber-bagai peluang dan hambatan dalam proses dialog; (4) diharapkan menghasilkan sebuah model dialog kerukunan antar agama.
Sedangkan kegunaan atau tujuan khusus dari penelitian ini adalah : (1) diperolehnya data ten-tang landasan etisnormatif dan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli yang terkait dengan ga-gasan dialog kerukunan; (2) ter-bangunnya rumusan dan rancangan yang jelas dan sistematis tentang prinsip-prinsip dasar dan norma-norma dalam dialog kerukunan; (3) diperolehnya segi-segi yang produktif dan positifrekonstruktif dari kehadiran model dialog keru-kunan; (4) sebagai pengkayaan tra-disi intelektualisme yang bisa mem-berikan konstribusi bagi dunia akademik, khususnya di lingkungan IAIN, dan masyarakat yang cinta akan kerukunan.

B. Kerangka Pemikiran

Dalam studi keagamaan, seringkali dibedakan antara ‘reli-gion’ dengan ‘religiosity’. Religion biasa dialih bahasakan menjadi “agama” yaitu himpunan doktrin, ajaran, serta hukum-hukum yang telah baku, yang diyakini sebagai kodifikasi perintah Tuhan untuk manusia. Sedangkan religiositas, isti-lah ini lebih mengarah pada kuali-tas penghayatan dan sikap hidup seseorang berdasarkan pada nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Dalam kehidupan para penganut agama, antara doktrin dan peng-hayatannya tidak bisa dipisahkan. Keduanya menunjukkan dinamika kehidupan dalam beragama. Pada sisi lain, pengungkapan keyakinan agama seseorang atau sekelompok orang, akan berhadapan dengan berbagai keyakinan agama yang beragam. Oleh karena itu, beberapa pandangan, teori, dan berbagai pe-ngalaman telah muncul berkaitan dengan, bagaimana keyakinan seseo-rang atau sekelompok orang bisa hidup berdampingan secara aman, damai, dan rukun dengan berbagai keyakinan lain yang berbeda.
Berbagai pandangan dan teori dalam mempelajari dan me-mahami keragaman dalam ber-agama itu banyak ditemukan. Seti-daknya, tiga pendekatan yang se-ring digunakan : pendekatan teologis, politis, dan sosial kultural. Untuk pendekatan kedua dan ketiga, bia-sanya dikelompokkan pada pende-katan teoritis. Pendekatan teologis tiada lain adalah mengkaji hubu-ngan antar agama berdasarkan su-dut pandang ajaran agamanya ma-sing-masing. Bagaimana dok-trin-doktrin agama “menyikapi” dan “berbicara” tentang agamanya dan agama orang lain. Sedangkan pendekatan teoritis melalui analisis politis dilihat dalam konteks “keru-kunan” dengan maksud untuk melihat, bagaimana masing-masing (penganut) agama memelihara ke-tertiban, kerukunan dan stabilitas suatu masyarakat yang multi agama. Sedangkan pendekatan kultur atau budaya adalah untuk melihat dan memahami karakteristik suatu ma-syarakat yang lebih menitik-berat-kan pada aspek tradisi yang ber-kembang dan mapan, dimana agama dihormati sebagai sesuatu yang luhur dan sakral yang dimiliki oleh setiap manusia atau masyara-kat. Tradisi “rukun”, menjadi sim-bol dan sekaligus sebagai karak-teristik sebuah masyarakat yang telah berjalan sejak lama dan turun temurun. Konsep “kerukunan hi-dup antarumat beragama”, misal-nya, bisa dianalisis melalui pende-katan politis maupun kultural. Konsep itu, lebih menitik beratkan pada muatan politis dan kultural-nya ketimbang teologis, karena aga-ma begitu nyata terlibat dalam dunia manusia yang tidak lepas dari kecenderungan politis dan kultural-nya.
Melalui kajian teologis, kita bisa memahami teks-teks masing-masing agama berkenaan dengan penyikapan agamanya dengan aga-ma orang lain. Oleh karena itu, bukubuku yang di tulis oleh para ulama dan cendekiawan agama ber-kenaan dengan penyikapan agama masing-masing itu, sangat mem-bantu kita dalam memahami dok-trin-doktrin agama berkenaan de-ngan hubungan antar agama. Apakah aspek ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain sebagainya. Sedangkan, dari pandangan politis, kita bisa melihat dari ideologi sebuah masyarakat atau negara yang dimilikinya. Ideologi ini sa-ngat mempengaruhi terhadap hu-bungan masing-masing agama. Pa-da sebuah negara yang bertipe “demokratis” (umumnya di Barat), misalnya, maka hubungan antar agama akan bersipat demokratis pula, tetapi lebih memiliki kecen-derungan bahwa agama itu hanya milik individu dan bersipat internal. Sebaliknya, pada sebuah masyara-kat yang tidak atau semi demok-ratis (umumnya di Timur), cende-rung sosok agama bersipat eksklusif, masing-masing umat beragama ingin menampakkan dan menon-jolkan agamanya sebagai satu-sa-tunya sumber semua aspek kehi-dupan manusia, tetapi sulit diwu-judkan dalam praktek-praktek ber-bangsa dan bernegara, karena ber-benturan dengan agama-agama lain dan tradisi atau budaya lainnya yang telah berkembang cukup la-ma.
Di Indonesia, teori yang diajukan oleh para agamawan (juga cendekiawan) terbatas pada dua aspek : pertama, dari sisi ‘konsep kerukunan’, yakni pemaparan teo-logis masing-masing agama. Kedua, pada aspek ‘dialog’ antar cende-kiawan yang diwujudkan dalam bentuk hubungan antar lembaga formal. Tetapi, hubungan antar lembaga formal ini baru bersipat seremonial, belum pada tataran konsepsional. Munculnya “orde re-formasi”, menampakkan kelema-han pada konsep kerukunan umat beragama yang sudah di buat dan dipublikasikan. Ternyata, konsep itu bisa berjalan lebih bersipat pendekatan “keamanan” diban-dingkan “kesadaran”. Maka, secara praktis, dialog keagamaan harus be-rangkat dari kesadaran beragama. Sebab, kesadaran beragama lahir dari pengetahuan dan pengalaman beragama.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap agama memili-ki kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Dalam tataran sosio-logis, klaim kebenaran berubah menjadi simbol agama yang dipa-hami secara subyektif oleh setiap pemeluk agama. Ia tidak lagi utuh dan absolut. Pluralitas manusia me-nyebabkan wajah kebenaran itu tampil beda ketika akan dimaknai dan dibahasakan. Sebab keperbeda-an ini tidak dapat dilepaskan begi-tu saja dari berbagai referensi dan latar belakang yang diambil peyakin – dari konsepsi ideal turun ke bentuk-bentuk normatif yang ber-sipat kultural. Dan ini yang biasa-nya di gugat oleh berbagai gerakan keagamaan (harakah) pada umum-nya. Sebab mereka mengklaim telah memahami, memiliki, dan bahkan menjalankan secara murni dan konsekuen nilai-nilai suci itu. Keyakinan tersebut menjadi legiti-masi dari semua perilaku pemak-saan konsep-konsep gerakannya kepada manusia lain yang berbeda keyakinan dan pemahaman dengan mereka. Armahedi Mahzar menye-butkan bahwa absolutisme, eksklu-sivisme, fanatisme, ekstrimise, dan agresivisme adalah “penyait” yang biasanya menghinggapi aktifis gera-kan keagaman. Absolutisme adalah kesombongan intelektual; ekslusivis-me adalah kesombongan sosial; fanatisme adalah kesombongan e-mosional; ekstremisme adalah ber-lebih-lebihan dalam bersikap; dan agresivisme adalah berlebih-lebihan dalam melakukan tindakan fisik. Tiga penyakit pertama adalah wakil resmi kesombongan (‘ujub). Dua penyakit terakhir adalah wakil resmi sipat berlebih-lebihan.
Kita memang sulit melepas-kan kerangka (frame) subyektivitas ketika keyakinan pribadi berhada-pan dengan keyakinan lain yang berbeda. Sekalipun ada yang ber-pendapat bahwa kerangkan sub-yektif adalah cermin eksistensi yang alamiah. Lagi pula, setiap manusia mustahil menempatkan dua hal yang saling berkontradiksi satu sama lain dalam hatinya. Dengan begitu, kita tidak harus memak-sakan inklusivisme “gaya kita” pada orang lain, yang menurut kita eksklusif. Sebab, bila hal ini terjadi, pemahaman kita pun sebenarnya masih terkungkung pada jeratjerat eksklusivisme, tetapi dengan meng-gunakan nama inklusivisme.
Dari sisi lain, yang nampak ke permukaan adalah, bahwa ter-jadinya konflik antar agama muncul bisa sebagai akibat kesenjangan ekonomi (kesejahteraan), perbeda-an kepentingan politik, ataupun perbedaan etnis. Akhirnya konsep kebenaran dan kebaikan yang berakar dari ideologi politik atau wahyu Tuhan sering menjadi alasan pembenar penindasan kemanusia-an. Hal ini pun bisa terjadi ketika kepentingan pembagunan dan eko-nomi atas nama kepentingan umum sering menjadi pembenar tindak kekerasan. Ditambah pula dengan klaim kebenaran (truth claim) dan watak misioner dari setiap agama, peluang terjadinya benturan dan kesalah pengertian antar penganut agama pun terbuka lebar, sehingga menyebabkan re-taknya hubungan antar umat ber-agama. Untuk hubungan eksternal agama-agama, maka penting dila-kukan dialog antar agama. Sedang-kan untuk internal agama, diperlu-kan reinterpretasi pesan-pesan aga-ma yang lebih menyentuh kemanu-siaan yang universali. Dalam hal ini, peran para tokoh agama lebih dikedepankan.
Dengan demikian, pluralis-me bisa muncul pada masyarakat dimanapun ia berada. Ia selalu me-ngikuti perkembangan masyarakat yang semakin cerdas dan tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat sek-tarianisme. Pluralisme harus di-maknai sebagai konsekuensi logis dari Keadilan Ilahi – bahwa keya-kinan seseorang tidak dapat dikla-im benar dan salah tanpa menge-tahui dan memahami terlebih da-hulu latar belakang pembentukan-nya, seperti lingkungan sosial bu-daya, referensi atau informasi yang diterima, tingkat hubungan komu-nikasi, dan klaim-klaim kebenaran yang dibawa dengan kendaraan e-konomi-politik dan kemudian dire-kayasa sedemikian rupa demi ke-pentingan sesaat, tidak akan dite-rima oleh seluruh komunitas ma-nusia manapun. Maka, tema pokok penelitian ‘dialog kerukunan dalam beragama’, atau kepenganutan aga-ma dalam konteks pluralisme keya-kinan agama menjadi sangat pen-ting untuk dipahami, diluruskan, dan ditindaklanjuti dalam aktifitas kehidupan beragama, sehingga se-cara esensial dapat diketahui, dipa-hami, dan diamalkan oleh para pe-nganut agama ketika bersinggu-ngan dan berhadapan dengan para penganut yang berbeda keyakinan. Dialog menjadi salah satu media penting bagi terwujudnya kehar-monisan antaragama, karena ber-pijak dari nilai akademis (intelek-tual), pengalaman dan kesadaran dalam beragama.

C. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Wilayah Studi

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dan sepenuhnya bersipat kepustakaan (library research) dengan mengguna-kan pendekatan historis fenomeno-logis. Pendekatan ini memandang realitas kesejarahan sebagai sistem sosial dan kultural yang dinamis, dan hal ini bisa dipahami melalui pemahaman terhadap esensi reali-tas sebagai perwujudan dari doktrin agama. Oleh karena itulah, pende-katan sejarah dan fenomenologi dijadikan sebagai satu bidang kajian dalam mendekati dan memahami pluralitas kehidupan beragama. Adapun wilayah kajian penelitian ini adalah meliputi landasan etis-normatif dan landasan teoritis ten-tang dialog keagamaan dari para penstudi agama.

2. Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

Sehubungan yang menjadi pokok permasalahan dalam peneli-tian ini adalah pemikiran, maka be-berapa data yang akan ditelaah adalah yang memiliki relevansi dan mendukung terhadap pokok masa-lah, yaitu pemikiran yang dipilih dari para ahli dan tema bahasan yang terkait. Ada dua sumber data yang bisa dikumpulkan dalam pe-nelitian ini, yaitu sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari beberapa pemikiran atau teori yang berhubungan de-ngan pluralisme agama dan dialog keagamaan. Sedangkan data sekun-der didapat dari beberapa pemiki-ran atau teori yang memiliki rele-vansi sekaligus mendukung terha-dap gagasan dan pemikiran dialog kerukunan. Adapun dalam proses pengumpulan datanya langkah awal yang ditempuh adalah studi kon-septual, yaitu mengkaji data-data primer yang dilengkapi pula de-ngan telaah atas data-data sekun-der tentang dialog kerukunan.

3. Teknik dan Analisis Data

Terhadap data-data yang terkumpul, peneliti membagi ke dalam dua tahap, yaitu tahap proses dan analisis. Pada tahap proses ditempuh dengan cara mengor-ganisir, menyusun kategori dan tipologi, dan mengedit data-data yang terkumpul. Sedangkan pada tahap analisis ditempuh dengan menggunakan deskripsianalitis, de-ngan tujuan untuk menemukan pokok permasalahan dari rincian-rincian data sehingga dapat dipero-leh pemahaman yang tepat dan menyeluruh.

D. Hasil dan Analisis
1. Pengertian dan latar-belakang per-lunya dialog

Dialog selalu bermakna me-nemukan bahasa yang sama, tapi bahasa bersama ini diekspresikan dengan katakata yang berbeda. Dialog bisa didefinisikan sebagai pertukaran ide yang diformulasikan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap usaha men-dominasi pihak lain harus dicegah; kebenaran satu pihak tidak berarti ketidakbenaran di pihak lain. Baha-sa bersama lebih dari sekedar kemi-ripan pembahasan; dia berdasarkan kesadaran akan masalah bersama, kita butuh alat demi mencapai landasan bersama. Demikian pula, bahwa dialog antaragama bukan hanya sekedar memberi informasi, mana yang sama dan mana yang berbeda, antara ajaran satu agama dengan lainnya. Juga, dialog antar-agama bukan merupakan suatu usaha agar orang yang berbicara menjadi yakin akan kepercayaan-nya, dan menjadikan orang lain mengubah agamanya kepada agama yang ia peluk. Dialog bukanlah suatu studi akademis terhadap aga-ma, juga bukan merupakan usaha untuk menyatukan semua ajaran agama menjadi satu, atau, dialog antaragama bukan suatu usaha untuk membentuk agama baru yang dapat diterima oleh semua pihak. Bukan pula berdebat adu argumentasi antara pelbagai kelom-pok pemeluk agama, hingga ada yang menang dan ada yang kalah. Tetapi, dialog antaragama adalah “pertemuan hati dan pikiran antar pemeluk pelbagai agama”. Dialog adalah “komunikasi antara orang-orang yang percaya pada tingkat agama”. Dialog adalah “jalan bersa-ma untuk mencapai kebenaran dan kerjasama dalam proyek-proyek yang menyangkut kepentingan ber-sama”. Ia merupakan perjumpaan antar pemeluk agama, tanpa merasa rendah dan tanpa merasa tinggi, dan tanpa agenda atau tujuan yang dirahasiakan.
Dialog keagamaan muncul, ketika hubungan antar umat ber-agama mengalami keretakan dan ketegangan. Mungkin saja, kete-gangan itu bukan didasarkan atas perbedaan keyakinan, karena, jika dasar teologis dan doktrinal dari agama-agama mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati dan mencintai, maka penyebab gese-kan-gesekan dan keretakan itu bisa saja terjadi sebagai akibat : pertama, sebagai bias dari kepentingan po-litik, ekonomi, dan kedangkalan beragama manusia; dan kedua, kemungkinan konflik antar umat beragama terjadi karena kurangnya masyarakat dalam memahami aja-ran-ajaran dan pesan-pesan moral dari agama membuat masyarakat menyikapi “klaim kebenaran” dalam agama secara berlebihan.
Berdasarkan analisis Hugh Goddard, dapat disimpulkan bah-wa akar dan sumber konflik adalah: Pertama, karena “ketidaktahuan”. Diantara penganut agama, khusus-nya Kristen-Islam, saling tidak tahu-menahu jauh lebih besar di-bandingkan saling pengertian. Sa-ling ketidaktahuan ini, menjadi rin-tangan di tengah jalan untuk men-capai saling pengertian di antara penganut agama yang berbeda. Kedua, ada hubungannya dengan yang pertama, bahwa akibat keti-dak-tahuan itu, maka hubungan antara umat beragama yang ber-beda, khususnya Muslim dengan Kristen, adalah penerapan ‘standar ganda’. Dengan kata lain, kaum Muslim dan Kristen masing-ma-sing menerapkan serangkaian stan-dar atau kriteria untuk keyakinan-nya sendiri dan serangkaian standar yang sama sekali berbeda untuk kepercayaan orang lain.

2. Perlengkapan Dialog

Terjadinya dialog, atau pro-ses dialog ada hubungannya de-ngan pemahaman agama orang lain yang bukan hanya memahami aga-ma kita sendiri. Oleh karena itu, memahami agama orang lain ada-lah penting bagi para pelaku dialog, sehingga tidak terjadi salah penger-tian dan dialog berjalan secara har-monis, dan saling menjunjung ting-gi nilai-nilai moral dan nilai-nilai universal yang ada pada masing-masing agama. Sebab, kedua nilai itu merupakan ‘esensi kemanusia-an’ yang diajarkan semua agama. Untuk memahami agama orang lain itu haruslah pemahaman yang bersipat integral bukan parsial. Oleh karena itu, diperlukan beberapa persyaratan dan kelengkapan, anta-ra lain : kelengkapan yang pertama, sipatnya intelektual. Untuk supaya dapat memahami agama atau feno-mena agama secara menyeluruh, informasi yang penuh perlu dimili-ki. Salah satu kelengkapan intelek-tual yang sangat penting adalah mempelajari dan memahami baha-sa agama. Kelengkapan kedua, di-perlukan kondisi emosional yang cukup. Dalam memahami agama orang lain, harus ada “feeling”, perhatian, matexis atau partisipasi. Salah satu cara untuk menimbulkan rasa simpati adalah melalui penga-laman bergaul dengan mereka yang berbeda agama. Dan, kelengkapan ketiga adalah kemauan. Kemauan orang yang ingin mempelajari aga-ma orang lain harus diorientasikan ke arah tujuan yang konstruktif.
Kriteria atau persyaratan lain dalam proses menuju dialog itu, sebagaimana dikemukakan oleh Husein Shahab , adalah kriteria-kriteria filosofis tanpa terjebak oleh simbolsimbol agama. Bila seorang penganut keyakinan mengukur ke-yakinan agama lain melalui kaca-matanya sendiri, maka penilaiannya mengandung banyak unsur subjek-tivisme, dan hal demikian pasti akan menimbulkan kontradiksi. Bila Realitas Tertinggi pada hake-katnya adalah Satu, maka secara otomatis prinsip-prinsip filosofis yang digunakan semua agama ada-lah satu juga. Inilah yang harus dijadikan kriteria. Yang seharusnya dipertahankan bukan simbol aga-ma, melainkan Kebenaran yang se-benarnya dikejar oleh setiap (pe-nganut) agama. Bila fenomena beragama komunitas manusia se-perti ini, maka konflik beragama mustahil ada. Kalaupun terjadi, konflik tidak timbul karena miskon-sepsi penganut tentang Kebenaran, melainkan pada faktor-faktor ke-pentingan eksternal seperti politik dan ekonomi. Kalau seorang pastor duduk dengan seorang ulama, bila keduanya benar-benar memahami prinsip-prinsip universal, maka konflik agama tidak akan ada. Sebab, yang dikejar oleh kedua pihak adalah Kebenaran sejati. Jadi, tidak perlu ada seorang Kristiani berjiwa Muslim atau seorang Mus-lim berjiwa Kristiani agar tercipta hubungan harmonis antar umat beragama.
Menurut Ignas Kleden bahwa, dialog antar agama nam-paknya hanya bisa dimulai dengan adanya keterbukaan sebuah agama terhadap agama lainnya. Keterbu-kaan ini bisa di lihat dari : Pertama, segi-segi mana dari suatu agama yang memungkinkannya terbuka terhadap agama yang lain, pada tingkat mana keterbukaan itu dapat ditolerir, dan juga dalam modus yang bagaimana keterbukaan itu dapat dilaksanakan. Kedua, bagai-mana agama menjadi jalan dan sebab seseorang atau sekelompok orang terbuka kepada kelompok orang yang bergama lain. Oleh karena itu, dalam suatu proses dialog, tujuannya tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena ini adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tra-disi suatu agama. Yang dicari ada-lah mendapatkan titik-titik perte-muan yang dimungkinkan secara teologis oleh agama kita sendiri.

3. Prinsip dasar dan norma dalam Dialog

Dalam Islam, misalnya, se-bagaimana dikemukakan oleh Ismail R Faruqi , memiliki norma-norma tersendiri supaya bisa ber-langsung dialog antaragama. Dialog yang bukan hanya sekedar per-tukaran informasi, seremonial, dan basabasi, tetapi dialog itu harus mempunyai sebuah norma keaga-maan yang dapat mendamaikan berbagai perbedaan di antara aga-ma-agama. Menurutnya, Islam me-nemukan norma ini di dalam din al fitrah. Atas dasar norma ini, Islam memiliki teori yang sangat kuat sehubungan dengan agama Yahudi dan Kristen yang tidak dianggap-nya sebagai “agama-agama lain”, tetapi sebagai dirinya sendiri. Per-satuan agama Ibrahim: agama Ya-hudi, Kristen dan Islam adalah ber-dasarkan konsep hanifi, din alfirah, adalah suatu kemungkinan yang nyata. Demikian pula dalam Kris-ten, sebagaimana dikemukakan o-leh Raimundo Panikkar , bahwa norma-norma keagamaan yang bi-sa dijadikan pijakan dalam dialog, atau, menurut pemahamannya, a-dalah “perjumpaan agama harus benar-benar bersipat keagamaan”, adalah : (1) “harus bebas dari apo-logi khusus”; (2) “berani mengha-dapi tantangan pertobatan”; Supa-ya perjumpaan itu bersipat kea-gamaan, ia harus taat secara penuh pada kebenaran dan terbuka pada realitas. Ia harus sadar bahwa ke-mungkinan akan kehilangan sesu-atu keyakinan khusus atau bahkan agamanya sendiri; (3) “dimensi his-toris penting tetapi tidak mencuku-pi”; perjumpaan agama bukanlah perjumpaan para ahli sejarah, melainkan suatu dialog yang hidup, suatu medan untuk pemikiran kre-atif dan jalan-jalan baru yang ima-jinatif, yang tidak memutuskan hubungan dengan masa lampau melainkan meneruskan dan mem-perkembangkannya; (4) “bukan se-kedar Simposium Teologis”; Per-jumpaan agama bukanlah sekedar usaha untuk membuat orang luar memahami maksud kita. Tetapi yang lebih penting adalah meresapi lebih dahulu apa yang akan ditaf-sirkan mendahului setiap penje-lasan (yang kurang lebih masuk akal). Misalnya, menyamakan kon-sep Brahman dalam Upanisad de-ngan ide Yahweh dalam Alkitab, jelas keliru; (5) “perjumpaan agama dalam iman, harapan dan kasih”; Sekalipun peristilahan ini bernada Kristiani tetapi maknanya bersipat universal.
Pada tingkat praktis perjum-paan agama atau dialog dibutuh-kan, paling tidak, tiga hal: (1) “per-siapan yang sama”, yang berarti persiapan kultural dan teological. Setiap dialog, termasuk dialog aga-ma, tergantung pada panggung budaya dari pelakupelaku dialog. Mengabaikan perbedaan budaya yang melahirkan kepercayaan aga-ma berbeda-beda, sama dengan menghendaki kesalah pahaman yang tak terelakkan; (2) ada “keper-cayaan timbal balik” yang nyata antara mereka yang terlibat dalam perjumpaan, tak ada satu pihak pun “menyembunyikan” keyakinan pri-badinya; (3) “permasalahan yang berbeda-beda” (teologis, praktis, institusional, dsb.) harus secara cer-mat dibeda-bedakan, kalau tidak akan terjadi kekacauan.
A. Mukti Ali memberikan petunjuk praktis pula berkenaan dengan rencana atau persiapan dialog antar pemeluk agama, se-hingga bisa tercapai sasaran dan tujuan berdialog, yakni : (1) mema-hami elemen-elemen yang sama dan berada dalam setiap agama, sejarah dan peradaban-nya; (2) menghormati integritas agama dan kebudayaan orang lain; (3) membe-rikan sumbangan yang nyata untuk kehidupan antar agama yang har-monis; (4) mengukuhkan komit-men bersama untuk berusaha men-ciptakan kehidupan yang adil dan sejahtera; (5) berusaha bersama untuk memperkaya kehidupan spi-ritual dan agamis.
Selain itu, setiap peserta dia-log harus menjauhi : (1) perban-dingan yang tidak wajar terhadap ajaran suatu agama dengan yang lainnya, atau membuat karikatur terhadap ajaran agama lain; (2) usaha apa pun untuk memaksakan penyelesaian yang sinkretik; (3) usaha terselubung untuk saling me-mindahkan agama orang lain dari agama yang dipeluk; (4) merasa puas dengan koeksistensi yang sta-tis; (5) sikap permusuhan terhadap tetangga yang bukan seagama dengan kita.

4. Tujuan dialog

Ada beberapa alasan dan tu-juan perlu dilakukan dialog antar agama, antara lain ada alasan-alasan sosiologis dan teologis. Alasan-alasana sosiologis antara lain :
1. Pluralisme agama di dunia ada-lah suatu kenyataan yang ma-kin lama makin jelas kelihatan, karena makin mudahnya ber-komunikasi.
2. Semakin tinggi keinginan un-tuk mengadakan hubungan de-ngan lainnya. Isolasionisme selain ditinggalkan, juga tidak mung-kin dilakukan. Apalagi aspek kesamaan antar kelompok u-mat manusia dan agama yang satu dengan yang lain semakin diakui dan dirasakan daripada apa yang memisahkannya.
3. Dialog antaragama membantu kepada setiap peserta untuk tumbuh dalam kepercayaannya sendiri, manakala ia berjumpa dengan orang yang berlainan a-gama dan bertukar pikiran ten-tang berbagai keyakinan dan amalan yang diyakini dan dia-malkan oleh masing-masing pemeluk agama.
4. Selain nilai positif bagi individu dalam dialog, terdapat pula sa-ling memperkaya antara aga-ma-agama yang dipeluk oleh orang-orang yang mengambil bagian dalam dialog. Misalnya, dalam dialog antaragama, Is-lam dapat menyumbangkan pada agama lain peningkatan inspirasi dan universalitas.
5. Dialog antaragama dapat membantu untuk meningkat-kan kerjasama di antara para penduduk suatu negeri, hingga dengan demikian, dalam kon-disi saling menghargai, keadi-lan, perdamaian dan kerjasama yang bersahabat, dapat mem-bangun negeri mereka.

Adapun alasan-alasan teologis, antara lain :
1. Bahwa seluruh umat manusia hanya mempunyai satu asal, yaitu Tuhan, dan diciptakan untuk tujuan akhir yang sama, yaitu Tuhan sendiri. Oleh kare-na itu, hanya ada satu rencana Tuhan bagi setiap manusia ini, satu asal dan satu tujuan. Per-bedaan itu ada, tetapi diban-dingkan dengan persamaan-persamaan yang begitu banyak dan fundamental, maka per-bedaan-perbedaan itu tidak begitu penting
2. Semua umat manusia adalah satu, dan kesatuan inilah yang mendorong manusia untuk me-ningkatkan perdamaian univer-sal.
3. Karena alasan-alasan teologis inilah, maka agama-agama me-ngambil sikap positif terhadap agama-agama yang bukan aga-manya sendiri. Dan hal ini bisa dilakukan dengan dialog dan kerjasama dengan para pengikut agama lain untuk bersamasama mengenal, memelihara, dan me-ningkatkan perbuatan-perbua-tan spiritual dan moral yang terdapat pada orang-orang yang beragama lain, juga nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat dan kebudayaan mereka.
4. Dengan demikian, dialog antar agama bukan merupakan tin-dakan akademis saja, ia bukan merupakan diskusi filosofis dan teologis; ia merupakan perbu-atan agama.
5. Dialog adalah usaha untuk keselamatan, dan itu adalah ba-gian dari tujuan total dari agama.

5. Bentuk-bentuk Dialog

A.Mukti Ali memberikan bentuk-bentuk umum dialog antar agama yang bisa dan biasa dila-kukan, diantaranya : (1) dialog ke-hidupan; pada bentuk ini, orang dari pelbagai macam agama dan keyakinan hidup bersama, dan ker-jasama untuk saling memperkaya kepercayaan dan keyakinannya ma-sing-masing, dengan perantaraan melakukan nilai-nilai dari agama masing-masing tanpa diskusi for-mal. Hal ini terjadi pada keluarga, sekolah, angkatan bersenjata, ru-mah sakit, industri, kantor, dan negara. Juga, dialog antar kebuda-yaan, karena kebudayaan itu dipe-ngaruhi oleh agama; (2) dialog da-lam kegiatan sosial; dalam bentuk ini bertujuan untuk meningkatkan harkat umat manusia dan pembe-basan integral dari umat manusia. Pelbagai macam pemeluk agama dapat mengadakan kerja sama da-lam melaksanakan proyek-proyek pembangunan, dalam meningkat-kan kehidupan keluarga, dalam proyek bersama untuk membantu rakyat yang menderita dari keke-ringan, kemiskinan, kekurangan makan, dan terutama meningkat-kan keadilan dan perdamaian; (3) dialog komunikasi pengalaman agama; adalah mengambil bentuk komunikasi pengalaman agama, doa dan meditasi. Dialog semacam ini hanya bisa dilakukan (intermo-nastik) oleh para pemimpin agama saja, atau oleh orang yang ingin mengetahui kehidupan pemimpin-pemimpin agama lain; (4) dialog untuk doa bersama, yaitu suatu bentuk dialog yang sering dila-kukan dalam pertemuan-perte-muan agama internasional, yang didatangi oleh pelbagai kelompok agama yang beraneka ragam. Setiap orang bisa berdoa dengan cara dan menurut keyakinannya masing-ma-sing. Misalnya tentang doa per-damaian dunia, sebagaimana telah dilakukan dialog seperti ini pada tanggal 27 Oktober 1986 di Assisi, yakni “Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian”; (5) dialog diskusi te-ologis, dimana para ahli agama tukar menukar informasi tentang keyakinan, kepercayaan, dan ama-lan-amalan agama masing-masing, dan berusaha untuk mencari saling pengertian dengan perantaraan diskusi itu.
Bentuk atau model dialog tersebut hampir sama dengan yang diajukan Azyumardi Azra, yakni dialog parlementer, dialog kelem-bagaan, dialog teologi, dialog dalam masyarakat dan kehidupan, dan dialog kerohanian. Dalam dialog parlementer melibatkan ratusan pe-serta, seperti telah dilakukan di Chicago pada tahun 1893: World’s Parliament of Religions. Pada tahun 1980an dan 1990an, dialog sema-cam ini sering dilakukan dibawah pengawasan organisasi-organisasi multiagama, seperti World Conference on Religion and Peace (WCRP), dan the World Congress of Faiths (WCP). Inti dan tujuan dialog parlementer ini adalah untuk menggalang kerja-sama dan perdamaian di antara berbagai kelompok agama. Adapun dialog kelembagaan adalah seperti yang telah dilakukan oleh pemerin-tah Indonesia yang melibatkan majlismajlis agama seperti Majlis Ulama Indonesia (MUI), Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Konperensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisadha Hindu Dharma, dan Perwalian Umat Buddha Indonesia. Sedangkan dia-log kerohanian bertujuan untuk me-nyuburkan dan memperdalam kehidupan spiritual di antara ber-bagai agama. Bentuk dialog seperti ini adalah melalui aspek esoteris agama, seperti ditawarkan oleh Schuon (1975), Schimmel & Fala-turi (1979), dan Sayyed Hossein Nasr dalam berbagai bukunya.
Raimundo Pannikar , me-nyebutkan adanya “dialog yang dialektis” dan “dialog yang dialogis”. Dialog yang dialektis mengandaikan bahwa kita adalah makhluk rasional dan bahwa pengetahuan kita teru-tama diatur oleh prinsip non-kon-tradiksi. Kita akan menyodorkan sudut pandang kita masing-masing kepada Pengadilan Rasio, terlepas dari apa pun keyakinan kita ter-hadap hakekat rasio tersebut. Dia-log yang dialektis mempercayai kebe-naran rasio. Dialog yang dialektis adalah sebuah dialog tentang ob-jek-objek yang dalam bahasa Inggris dinamakan “subjectmatter” (pokok bahasan). Sedangkan dialog yang dialogis, adalah sebuah dialog antara subjeksubjek yang memang bertujuan menjadi sebuah dialog mengenai subjeksubjek. Mereka berdialog bukan mengenai sesuatu, melainkan mengenai diri mereka sendiri, mereka mendialogkan diri sendiri. Singkatnya, jika semua pemikiran adalah dialog, maka ti-dak semua dialog bersipat dialogis. Dialog yang dialogis dapat mentran-sendensikan realitas dialektis mela-lui hubungan I/Thou, tidaklah dapat direduksi dalam hubungan I/It apa pun atau I/nonI, untuk dapat dikatakan samasama bersipat ultim.
Agar komunikatif dan ter-hindar dari perdebatan teologis antar pemeluk (tokoh) agama, ma-ka pesan-pesan agama yang sudah direinterpretasi selaras dengan uni-versalitas kemanusiaan menjadi modal terciptanya dialog yang har-monis. Jika tidak, maka proses dialog akan berisi perdebatan dan adu argumentasi antara berbagai pemeluk agama sehingga ada yang menang dan ada yang kalah. Dialog antar agama, justru membiarkan hak setiap orang untuk mengamal-kan keyakinannya dan menyampai-kannya kepada orang lain. Dialog antar agama adalah pertemuan hati dan pikiran antar pemeluk berbagai agama yang bertujuan mencapai kebenaran dan kerja sama dalam masalah-masalah yang dihadapi bersama. Tentu saja, tuntutan pe-ran negara yang positif dalam memperlakukan agama. Agama bukan hanya dipandang sebagai instrumen mobilisasi politik, tetapi yang lebih penting adalah memper-lakukannya sebagai sumber etika dalam interaksi, baik di antara se-sama penguasa maupun antara pe-nguasa dengan rakyat. Kalau etika pluralisme ini dapat ditegakkan, maka tidak perlu terjadi rangkaian kerusuhan, pertikaian, dan perusa-kan tempat-tempat ibadah. Jika orang melakukannya, berarti ia ti-dak memahami ideologi pluralisme, atau tidak memahami agamanya sendiri. Kalau sikap pemeluk aga-ma seperti demikian, maka konflik antar agama akan menjadi tonto-nan sehari-hari.
Dialog kultural dan struktural belum terlihat jelas dalam praktek kehidupan, khususnya di Indone-sia. Dialog kultural berangkat dari pemahaman bahwa sejak awal agenda agama-agama diwahyukan-nya adalah berdialog dengan buda-ya umat manusia. Mendialogkan agama dengan budaya merupakan tugas yang dibebankan pada kaum “elite agama”, sebab, merekalah yang banyak tahu tentang norma-norma agama. Sedangkan dialog struktural berangkat dari pemaha-man bahwa hubungan antara aga-ma dengan institusi-institusi agama sosial lainnya berlangsung setengah hati. Persoalan sosial ekonomi, se-perti kesenjangan, telah ikut me-mancing emosi keberagamaan masyarakat. Demikian pula, politik yang penuh limbah telah ikut mengeruhkan suasana keagamaan yang telah terjalin begitu lama. Agama sebagai sebuah institusi tidak diposisikan secara otonom dan diferensial, ia hanya didekati sebatas kepentingan legitimasi belaka.

6. Hambatan dialog dan kerukunan
a. Problem Penafsiran

Seringkali persoalan keaga-maan yang muncul adalah terletak pada problem penafsiran, atau pe-mahaman, bukan pada benar tidak-nya agama dan wahyu Tuhan itu sendiri . Sehingga, masalah keru-kunan keagamaan termasuk dida-lamnya dialog antar umat beragama harus menjadi wacana sosiologis dengan menempatkan doktrin kea-gamaan sebagai dasar pengemba-ngan pemuliaan kemanusiaan. Me-nurut Ninian Smart, bertambahnya pengetahuan atau pemahaman a-kan berakibat melunakkan permu-suhan, dan dalam tahap ini berarti meningkatkan kesepakatan.
Sementara itu, melihat kon-disi kehidupan beragama sekarang ini, konflik antar umat beragama, menjadi bagian yang tak terpi-sahkan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kejadi-an tersebut tidak hanya atas dasar perbedaan agama tetapi juga terjadi antara orang atau kelompok-ke-lompok dengan agama yang sama. Maka, kerukunan yang perlu di-bangun bukan hanya kerukunan antar agama, melainkan juga keru-kunan antar orang atau kelompok dalam agama yang sama. Oleh ka-rena itu, kiranya konflik berwajah agama perlu dilihat dalam kaitan-kaitan politis, ekonomi, ataupun sosal budayanya. Apabila benar bahwa konflik itu murni konflik agama, maka masalah kerukunan sejati tetap hanya dapat dibangun atas dasar nilai-nilai keadilan, kebe-basan, dan hak asasi manusia, yang menyentuh keluhuran martabat manusia. Makin mendalam rasa ke-agamaan, makin mendalam pula rasa keadilan dan kemanusiaan. Se-andainya tidak demikian, agama tidak mengangkat keluhuruan mar-tabat manusia.

b. Klaim Kebenaran (truth claim)

Setiap agama memiliki kebe-naran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebe-naran. Dalam tataran sosiologis, klaim kebenaran berubah menjadi simbol agama yang dipahami seca-ra subyektif personal oleh setiap pemeluk agama. Nampaknya, seti-ap orang memang sulit melepaskan kerangka (frame) subyektivitas keti-ka keyakinan pribadi berhadapan dengan keyakinan lain yang ber-beda. Sekalipun alamiah, namun setiap manusia mustahil menem-patkan dua hal yang saling berkon-tradiksi satu sama lain dalam hati-nya. Oleh karena itu, setiap penga-nut agama tidak harus memaksakan inklusivismenya pada orang lain, yang menurut kita eksklusif.
c. Standar Ganda

Hugh Godard , seorang Kristiani yang ahli teologi Islam di Nottingham University, Inggris, memberikan contoh bahwa “hubu-ngan Kristen dan Islam kemudian berkembang menjadi kesalah-pa-haman, bahkan menimbulkan sua-sana saling menjadi ancaman di antara keduanya, adalah suatu kon-disi berlakunya “standar ganda” (double standars). Orang-orang Kris-ten maupun Islam selalu menerap-kan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, sedangkan terhadap agama lain mereka memakai stan-dar lain yang lebih bersipat realistis dan historis. Misalnya, dalam masa-lah teologi, ada standar yang me-nimbulkan masalah klaim kebena-ran : “agama kita adalah agama yang paling sejati karena berasal dari tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia. Aga-ma lain mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah dirusak, dipalsu-kan oleh manusia”. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain da-lam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya. Lewat standar ganda inilah, kita menyaksikan munculnya prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memper-keruh suasana hubungan antar umat beragama.
Dalam hubungannya dengan itu, Arthur J. D’Adamo, seorang ilmuwan sekuler (ahli Matematika abad 20 ini), menyatakan bahwa “berbagai kompleksitas hubungan antar umat beragama ini, dengan berbagai standar ganda, sering dianggap sebagai tanda ketidak-kritisan cara berfikir agama, atau dalam istilahnya disebut sebagai religion’s way of knowing. Oleh karena itu, “cara mengetahui agama” ini dianggap sebagai akar konflik-kon-flik teologis, yang menurutnya berawal dari sebuah standar ten-tang agamanya sendiri – bahwa kitab sucinya itu yang merupakan sumber kebenaran – yang sepe-nuhnya diyakini. Sehingga, standar-standar : (1) bersipat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran, tanpa kesalahan sama sekali; (2) bersipat lengkap dan final – dan karenanya memang tidak diperlukan kebena-ran dari agama lain; (3) meyakini kebenaran agamanya sendiri di-anggap sebagai satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan ataupun pembebasan; dan (4) meyakini bah-wa seluruh kebenaran itu diyakini orisinal berasal dari Tuhan, tanpa konstruksi manusia. Keempat stan-dar itu semuanya diterapkan kepa-da agamanya sendiri sebagai “stan-dar ideal”. Sebaliknya, standar lain yang sepenuhnya terbalik, lebih realistis dan historis, diterapkan ke-pada agama lain. Sebagai konse-kuensinya, melalui religion’s way of knowing ini, jadilah agama kita sebagai “agama yang paling sem-purna di dunia ini”.
Menurut Nurcholish Ma-djid , bahwa untuk menghindar-kan diri dari penilaian standar gan-da dalam melihat agama lain, yaitu dengan cara kita membaca agama kita dengan sisisisi ideal dan mem-bandingkan agama lain dengan sisisisi real. Pada dasarnya setiap agama memiliki sisi-sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang sangat dibanggakan oleh pe-nganut suatu agama jika mereka mulai mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Namun demi-kian, setiap agama pun memiliki sisi real, yaitu suatu agama menye-jarah dengan keagungannya atau kesalahankesalahan sejarah yang bisa dinilai dari sudut pandangan sekarang sebagai memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog selalu me-ngandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal lain agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas suatu agama – baik yang agung maupun yang memalukan – dengan realitas agama lain yang agung dan mema-lukan itu.
Berdasarkan perkembangan dewasa ini, maka yang perlu dikem-bangkan adalah suatu teologi dan dialog inklusif sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan sikap-sikap pluralistis di antara agama. Tanpa sikap inklusivitas tidak mungkin berkembang sikap-sikap pluralis. Salah satu sikap pluralistis adalah bersedianya berdialog, dan sebagai tujuan dari dialog antar agama adalah, salah satunya, “kesa-ling-pahaman”. Misinya adalah mengkomunikasikan pandangan masing-masing dalam rangka men-jembatani ketidaktahuan dan kesa-lah-pahaman antara satu dan lain agama. Membiarkan setiap penga-nut agama mengungkapkan panda-ngan teologis mereka dengan eks-presi bahasa mereka sendiri.

d. Tantangan Agama-agama De-wasa ini

Tantangan agama-agama dewasa ini, adalah menjadi prob-lema atau hambatan bagi suasana dan perkembangan dialog dan ke-rukunan antar umat beragama. Dalam melihat dan memahami perkembangan kehidupan agama dan keberagamaan sekarang, pada umumnya cenderung melihat perbedaannya ketimbang persama-annya. Namun demikian, kecende-rungan melihat perbedaan itu pun tidak perlu disalahkan karena setiap orang beriman senantiasa ingin mencari, menggenggam dan mem-bela kebenaran yang diyakininya berdasarkan pengetahuan dan tra-disi yang dimilikinya. Sikap demi-kian sangat terpuji selama tidak menimbulkan situasi sosial yang destruktif. Secara empiris adalah suatu kemustahilan jika kita meng-idealisasikan munculnya kebenaran tunggal yang tampil dengan format dan bungkus tunggal, lalu ditang-kap oleh manusia dengan pema-haman serta keyakinan yang sera-gam dan tunggal pula. Oleh karena itu, tantangan yang selalu kita hada-pi antara lain adalah bagaimana merumuskan langkah konstruktif yang bersipat operasional untuk mendamaikan berbagai agama yang cenderung mendatangkan pertikai-an antar manusia dengan mengatas namakan kebenaran Tuhan.
Usaha itu tidak hanya dia-rahkan pada hubungan antar peme-luk agama secara eksternal, melain-kan terlebih dahulu diarahkan pa-da hubungan intra umat beragama. Seseorang akan sulit bersikap to-leran terhadap agama lain jika ter-hadap sesama pemeluk agama yang sama saja sulit untuk menghargai perbedaan paham yang muncul. Pada sisi lain, seringkali kita jumpai pula, konflik antara pemeluk agama semakin tidak jelas manakala ke-pentingan agama sudah berbaur dengan kepentingan etnis, politis dan ekonomis . Lihat, misalnya berbagai kasus, seperti di Maluku, Sampit, dan peristiwa-peristiwa “yang berbau” konflik agama lain-nya.
Tantangan lain yang diha-dapi sekarang ini berkaitan dengan munculnya “ketidak percayaan” manusia kepada agama formal (organized religions). Akhirakhir ini muncul istilah New Age, zaman Ba-ru, dimana ada usaha meninggalkan agama-agama yang terorganisasi (organized religions) yang dipandang-nya cenderung miskin akan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Muncul dalil dari John Naisbitt dan istrinya Aburdene untuk menyim-pulkan dalam satu statemen: spiri-tuality, yes; organizes religion, no!. Bagi mereka, penganut New Age, agama-agama formal (organized reli-gions) tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal, se-hingga ritusritus formal dan label-label yang membungkusnya akan semakin ditinggalkan orang. Tho-mas Jefferson dan Albert Ein-stein adalah dua tokoh terkemuka sebagai penganut aliran semacam deisme alami ini.
Kemunculan New Age, ber-awal dari penilaiannya bahwa kebangkitan peradaban Barat ko-song dari nilai-nilai spiritualitas dan lepas dari tuntunan ajaran-ajaran keagamaan Kristen, yang menjadi agama resmi saat itu. Karena itu, gerakan New Age berpaling dari agama-agama Barat untuk kemu-dian mengarahkan kepada agama-agama Timur semisal Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, agama asli Amerika, dll. Namun demikian, karena agama-agama Timur yang formal itu juga terkadang cende-rung tidak toleran terhadap keya-kinan yang dipegang oleh pemeluk agama yang berbeda, maka gerakan New Age tidak terbatas hanya pada satu keyakinan saja, tetapi men-campur adukkan pemikiran-pemi-kiran esoteris agama-agama formal itu. Salah satu fenomena New Age yang paling ekspresif, adalah men-jadikan istilah “Tao” sebagai istilah kepustakaannya, suatu istilah yang mencoba melakukan perpaduan rasionalitas Barat dengan kearifan Timur. Seolaholah Tao menjadi bagian dari bahasa Inggris untuk menunjukkan “kearifan”. Tidak heran muncul judul-judul buku yang berparadigama Tao, seperti The Tao of management, the Tao of Leadershif, dll. Dalam refleksi kea-gamaan kita menemukan the Tao of Jesus (1994), the Tao of Islam (1993) tulisan seorang ahli sufi Sachiko Murata.
Bagi kita, penting untuk mernghadirkan ajaran-ajaran agama kepada mereka untuk bisa mem-buktikan bahwa betapa pentingnya peran keyakinan akan ketuhanan (menanamkan nilai-nilai ilahiyah, sebab kehidupan manusia yang otentik adalah yang tetap dan men-jaga terus “tali” yang menghu-bungkan kemanusiaannya dengan nilai-nilai ketuhanan. Demikian juga halnya, agama dituntut mela-hirkan ajaran-ajaran yang lebih menyentuh nilai-nilai kemanusiaan tidak bersipat artifisial, bombastis dan verbalisme, yang sebenarnya hanya “di langit” saja. Demikian pula sebaliknya, ajaran agama tidak bisa hanya mewajibkan para penga-nutnya untuk secara formal men-jalankan ritusritus yang diwajibkan, yang jika dilakukan diberi ganjaran (reward) dan jika diabaikan diberi siksa (punishment). Agama justru harus dihadirkan sebagai suatu kesadaran yang menjadi bagian dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sebab, pada dasarnya ajaran itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan.
Untuk itu, kenyataan dan tantangan yang kita hadapi adalah terjadinya kesenjangan antara aja-ran dan pelaksanaan. Banyak orang yang mengaku dan menganut aga-ma tetapi tidak beragama, dalam pengertian lain, banyak yang me-ngakui kewajiban dan pelarangan agama, tetapi tidak melaksanakan dan melanggarnya. Persoalannya, apakah “kesalahan” itu ada pada agama atau penganutnya? Nurcho-lish Madjid mempertegas, bahwa “jika agama tidak dapat mem-pengaruhi tingkah laku pemeluk-nya, maka apalah arti pemelukan itu?” Kenyataannya, banyak orang yang sangat serius memeluk aga-manya tanpa peduli tuntutan nyata keyakinannya itu dalam amal per-buatan dan tingkah laku. Semen-tara, kita menemukan adanya o-rang-orang yang memiliki komit-men positif pada masalah sosial, tanpa memperdulikan pada keya-kinannya “kesalehan tanpa iman” (piety without faith).

E. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat di-simpulkan bahwa dialog antar aga-ma merupakan pertemuan hati, pi-kiran, dan komunikasi antar peme-luk pelbagai agama, sebagai jalan bersama untuk mencapai kebena-ran dan kerjasama dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan bersama. Kemunculan dialog antar agama atau dialog keagamaan ini, berawal ketika hubungan antar umat beragama mengalami kere-takan dan ketegangan, sekalipun, ketegangan itu bukan semata hanya didasarkan atas perbedaan keyaki-nan, tetapi bisa juga disebabkan sebagai bias dari kepentingan poli-tik, ekonomi, dan kedangkalan ber-agama, terutama kurangnya masya-rakat dalam memahami ajaran-ajaran dan pesan-pesan moral dari agama serta kekurang-pahaman terhadap agama atau faham keaga-maan orang lain. Dalam perkem-bangan selanjutnya, dialog keaga-maan diperlukan guna memelihara dan meningkatkan kerukunan an-tar umat beragama.
Berbagai bentuk dialog kea-gamaan bisa dilakukan. Dua dian-taranya yang memungkinkan bisa dilakukan secara kontinuitas dan berkesinambungan adalah dialog kelembagaan dan dialog “real” da-lam kehidupan. Dialog kelembaga-an merupakan dialog dalam bentuk formal yang dilakukan dan diupa-yakan oleh berbagai tokoh dan pemuka agama untuk membica-rakan berbagai hal menyangkut kepentingan dan kerukunan umat beragama. Sedangkan dialog “real” dalam kehidupan sosial merupakan dialog pergaulan keseharian antar umat beragama dalam suasana sa-ling memahami, pengertian, dan saling menghormati. Dialog kese-harian ini bisa dilakukan manakala kesadaran beragama sudah tumbuh dan berkembang dikalangan para penganut agama. Sebab, kesadaran beragama merupakan kesiapan un-tuk memahami dan mengamalkan ajaran agamanya, serta, pada saat yang bersamaan kesiapan untuk ‘mengetahui’ agama orang lain.

Kepustakaan

Ahmad Norma Permata (ed), Metodologi Studi Agama, Pus-taka Pelajar, Yogyakarta, 2000

F.J. Moreno, Agama Dan Akal Fikiran, terjemahan, Rajawa-li, Jakarta, 1985

Roland Robertson, Sosiologi Agama, terjemahan, Tonis, Bandung 1985

Sandra Kartika dan M. Mahendra (editor), Dari Keseragaman Menuju Keberagaman, Wacana Multikultural Dalam Media, Lembaga Studi Pers & Pem-bangunan, Jakarta, 1999

Andito (ed), Atas Nama Agama, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998

R. Garaudy, Islam Fundamentalis dan Fundamentalis lainnya, Pusta-ka, Bandung, 1993

Frithjof Schuon, Islam & Filsafat Perenial, terjemahan Rahma-ni Astuti, Mizan, Ban-dung,1993

M.Nasir Tamara (ed), Agama Dan Dialog Antar Peradaban, Para-madina, Jakarta, 1996

Burhanuddin Daya & Herman L. Beck (Redaktur), Ilmu Per-bandingan Agama di Indonesia dan Belanda, INIS, Jakarta, 1992

Hugh Goddard, Menepis Standar Ganda, Membangun Saling Pe-ngertian Muslim-Kristen, Terje-mahan Ali Noer Zaman, Qalam, Yogyakarta, 2000

A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Mizan, Bandung, Cetakan XI, 1999

Altaf Gauhar (ed), Tantangan Islam, terjemahan Anas Mahyudin, Pustaka, Bandung, 1983

Raimundo Panikkar, Dialog Intra Religius, Terjemahan “Ke-lompok Studi Filsafat Dri-yarkara, Kanisius, Yogyakar-ta, 1994

Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia, Pengalaman Islam, Paramadina, Jakarta, 1999

Pilihan Artikel Prisma 19751984, Agama Dan Tantangan Za-man, LP3ES, Jakarta, 1985

Grose & Hubbard (ed), Tiga Agama Satu Tuhan, Terjemahan San-ti Indra Astuti, Mizan, Ban-dung, 1998

Budhy Munawar Rahman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Paramadina, Jakarta, 2001

Muhammad Wahyuni Nafis (edi-tor), Rekonstruksi dan Renu-ngan : Religius Islam, Parama-dina, Jakarta, 1996

Nurcholish Madjid, Tradisi Islam, Peran Dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, Pa-ramadina, Jakarta, 1997


Responses

  1. KANG ADENG, SEKIRANYA AKANG MEMBACA EMAIL INI, MOHON SEGERA MENGHUBUNGI SAYA SEBELUM 1 JULI 2010 DI NOMOR TELP.
    021-87794220
    KARENA ADA ARTIKEL YANG PERLU SAYA KONFORMASI UNTUK JURNAL LEKTUR KEAGAMAAN DI BADAN LITBANG KEMENETERIAN AGAMA.

    NUHUN

    • Juragan, punten, tiasa dikintun jurnal lektur keagamaan anu memuat tulisan abdi…Htr nhn.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: