Posted by: amgy | February 9, 2008

ARAH BARU PEMIKIRAN SUFISTIS

07032212164100.jpg
Oleh AdengMuchtar Ghazali

Abstrak

Sebagaimana halnya Fiqih, Kalam dan Falsafah, salah satu disiplin ilmu dalam Islam adalah tasawuf atau sufisme, dan juga merupakan bagian terpenting dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, dalam kemunculannya, tasawuf berhubungan erat dengan situasi sosio-kultural yang ada dan terjadi pada saat itu, karenanya, sejak kelahirannya, tasawuf menjadi bagian yang tetap dari ilmu-ilmu kebudayaan Islam dan menjadi sangat menarik sejak peristiwa pertikaian politik antara Ali dan Muawiyah
Kebangkitan tasawuf umumnya dan tarekat khususnya di masa belakangan ini, tidak urung lagi menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan para pengkaji sosiologi agama dan modernisasi. Mengapa dalam situasi di mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian marak, justru semakin banyak orang tertarik kepada tasawuf, salah satu jawabannya adalah karena ilmu pengetahuan dan teknologi tidak memberikan makna tentang kehidupan. Oleh sebabnya, kebangkitan agama, termasuk tasawuf, justru merupakan penolakan yang tegas terhadap kepercayaan buta kepada ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.

Kata Kunci:
Islam, Tasawuf, Pengetahuan, Teknologi,

A. Pengantar
Tasawuf atau sufisme, merupakan bagian terpenting dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, dan dipandang sebagai salah satu disiplin ilmu tersendiri dalam Islam, sebagaimana halnya Fiqih, Kalam, dan Falsafah. Menurut Fazlur Rahman bahwa awal mulanya sufisme merupakan protes moral-spiritual terhadap perkembangan-perkembangan tertentu yang bersipat doktrinal dan politis di dalam ummat Muslim. Pada tahapan selanjutnya, sufisme berubah menjadi sebuah gerakan agama populer dan dari abad-abad ke-6 dan ke-7 Hijriah (12-13 M) menyatakan dirinya “tidak hanya sebagai sebuah agama di dalam agama tetapi juga sebagai sebuah agama yang lebih tinggi daripada agama”. Perubahan orientasi dan substani sufisme dalam proses perkembangan dan pertumbuhannya, merupakan sesuatu yang tidak bisa disangkal. Sebab, setiap gerakan di dalam proses perkembangannya , pasti akan menyerap unsur-unsur yang dijumpainnya, sebagaimana yang dialami oleh sufisme. Oleh karena itu, kita akan melihat perubahan substansial yang terjadi dalam perkembangan sufisme, terutama pemunculan perpaduan yang lahiri dan batini sebagai respon terhadap keadaan zaman.

B. Latarbelakang Kemunculan
Hassan Hanafi , guru besar Kemunculan tasawuf berhubungan erat dengan situasi sosio-kultural yang ada dan terjadi pada saat itu. Sejak kelahirannya, tasawuf menjadi bagian yang tetap dari ilmu-ilmu kebudayaan Islam dan menjadi sangat menarik sejak peristiwa pertikaian politik antara Ali dan Muawiyah. Kaum radikal berpihak kepada Ali yang mencerminkan keabsahan, kebenaran, kesalehan, kejujuran, kecermatan, dan memepertahankan kepentingan-kepentingan umum (mashalih ‘ammah) masyarakat (ummah). Sementara itu, kaum realis, kompromis, pengejar karir dan petualang berpihak pada Muawiyah yang menampakkan sistem nilai yang sebaliknya.
Kekalahan radikalisme dan kemenangan karirisme menjadikan kesalehan kembali ke asalnya semula, ke dalam ruh manusia. Daripada di dunia harus menghapuskan kebaikan atau terpaksa melakukan keburukan, lebih baik keluar dari dunia. Untuk memperoleh legalitas, mereka melirik Al-Quran untuk menafsirkan asal-usulnya sebagai sumber tasawuf. Al-Quran menjadi bacaan mistik, Nabi dianggap sebagai pemimpin Sufi, sahabat-sahabatnya membentuk organisasi sufi yang pertama .
Sejarah perkembangan ummat Islam, memang banyak diwarnai dan tak terlepas dari kehidupan politik. Dalam persepsi sufistis, kehidupan politik tidak dapat memenuhi aspirasi-aspirasi batin masyarakat, maka di dalam tubuh Islam berkembanglah Mesianisme secara pesat. Doktrin “kedatangan Yesus untuk kedua kalinya” dari Kristen, diekspresikan ke dalam doktrin “Sang Mahdi” – satu figur yang di akhir masa nanti akan mewujudkan kemenangan bagi Keadilan dan Islam di atas tirani dan kezaliman. Pemunculan Mesianisme dalam pergerakan sufisme ini memiliki efek terhadap moral ummat Muslim secara keseluruhan. Sebab, Mesianisme ini sendiri muncul karena kemerosotan moral sebagaimana yang dialami oleh bangsa Yahudi di dalam pengungsian mereka.

C. Perkembangan Tasawuf
Menurut Sayyed Hossein Nasr , bahwa dalam beberapa dekade terakhir sufisme mengalami kebangkitan di dunia Islam sejak Syria, Iran, Turki, Pakistan sampai Asia Tenggara. Terdapat peningkatan signifikan dalam minat terhadap sufisme, terutama di kalangan terdidik. Kebangkitan ini berkaitan dengan meningkatnya kegiatan tarekat-tarekat sufi, disamping adanya usaha-usaha serius menggali kembali pemikiran para tokoh besar sufi, khususnya Ibn al’Arabi, dan mengaktualisasikannya guna menjawab tantangan-tantangan kemanusiaan dan kerohanian di masa modern.
Kebangkitan tasawuf umumnya dan tarekat khususnya di masa belakangan ini, tidak urung lagi menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan para pengkaji sosiologi agama dan modernisasi. Mengapa dalam situasi di mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian marak, justru semakin banyak orang tertarik kepada tasawuf? Memang ada sebuah kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Naisbitt dan Aburdene, dua orang futurolog, dalam Megatrends 2000 (1990), bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak memberikan makna tentang kehidupan. Kebangkitan agama, termasuk tasawuf, merupakan penolakan yang tegas terhadap kepercayaan buta kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, bisa difahami jika orang-orang sekarang ini ingin memperoleh suasana baru akibat ketidakpuasan terhadap kenyataan yang dihadapi. Dan pada era sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi nyaris menjadi “pseudo religion”, sehubungan kepercayaan yang sangat berlebihan terhadapnya.
Untuk masa-masa sekarang, kehidupan yang lebih bersipat batini, mendapat tempat. Oleh karena itu, yang mengalami kebangkitan pada masa sekarang ini adalah spiritualitas bukan organized religion. Sebab, ajaran spiritualitas ternyata bukan monopoli satu agama, bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. Oleh karena itu, potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersipat natural dan universal. Dihubungkan dengan tasawuf, maka tujuan kehidupan spiritualitas ini tiada lain adalah untuk membantu seseorang agar bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dirinya merasa damai dan bisa kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula.

D. Kecenderungan Baru Sufisme
Tampilnya Al-Ghazali, disamping para tokoh yang lain, dipandang paling berhasil dalam merekonsiliasi penghayatan yang batini dan lahiri. Karena usaha memadukan kedua jenis penghayatan ini, maka banyak kaum muslimin, baik sendiri-sendiri maupun kelompok (organisasi) mengikuti dan meneruskan langkah-langkah yang di tempuh Al-Ghazali , tak terkecuali di Indonesia. Organisasi Sosial Keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) misalnya, membentuk badan yang dinamakan Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah (Perkumpulan Traekat Mu’tabarah). Dan melalui muktamar NU Situbondo tahun 1984 menetapkan bahwa, salah satu ketentuan tentang faham Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah adalah di bidang tasawuf mengikuti tarekat mu’tabarah dengan berpedoman kepada ajaran Al-Ghazali . Menurut Abd al-Qadir Mahmud , sufisme al-Ghazali termasuk sufisme Sunni, bahkan ditangan al-Ghazali lah jenis sufisme ini mencapai kematangannya, sebab ia mampu menempatkan syari’at dan hakekat secara seimbang.
Perlu mengemukakan beberapa pemikiran al-Ghazali sebagai bahan pijakan dalam memecahkan problema tasawuf pada masa sekarang. Pada abad ke- 5, al-Ghazali menulis “Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama” (Ihya ‘ulumuddin) dengan membawa beberapa prinsip dasar, antara lain : Pertama; pluralisme kebenaran, pendekatan dan metode-metode berfikir melahirkan skeptisisme. Oleh karena itu, semuanya harus dikembalikan kepada sumbernya yakni pengajian-pengajian Alquran dan Hadits. Kedua; pemikiran menjadi sumber pengetahuan yang sejajar dengan wahyu dan bahkan identik dengannya. Jika terjadi perbedaan antara teks dan bukti rasional, maka teks ditafsirkan sesuai dengan pemikiran. Eskatologi hanya merupakan gambaran-gambaran untuk memperbanyak nilai spirituasl seperti bahagia, suka akan ilmu dan sejahtera. Bahaya datang dari teologi Mu’tazilah dan filsafat. Ketiga; lima rukun Islam ditransformasikan kepada bentuk-bentuk ritual murni tanpa makna, gerakan-gerakan tanpa pikiran, artikulasi-artikulasi anggota tanpa peningkatan spiritual. Keempat; dunia Muslim pada masa itu mencapai tingkat kemakmuran dan kekayaan yang tertinggi. Gaya hidup ditandai dengan kemewahan sebagai kelanjutan dan kecenderungan lama yang dimulai sejak kemenangan ketidaksalehan dan kekalahan kesalehan pada abad pertama. Untuk menghadapi kecenderungan yang bersipat duniawi dan materialistis ini, tasawuf memberikan reaksi untuk menambah bobot perimbangan dunia spiritual atau paling tidak untuk membuatnya sama.
Situasi sejarah telah berubah dan telah muncul sebuah situasi baru, antara lain : Pertama; pluralisme, yang merupakan salah satu momen gemilang dari kebudayaan Islam pada masa emasnya, mengiringi kebangunan kembali Islam klasik. Dunia muslim telah kehilangan pluralisme merosot ke unilateralisme. Pilihan tasawuf bermaksud untuk membawa kembali seluruh dunia dan kebudayaan Islam kepada sumbernya. Kedua; sebagaimana sebelumnya, wujud ritualisme dewasa ini hanya berupa bentuk-bentuk murni yang tanpa isi, apa yang kelihatan tak disertai realitas-realitas. Solusi taswuf lama adalah spiritualisasi ritual-ritual, pembenahan ke dalam gerakan-gerakan, transformasi tindakan-tindakan anggota tubuh kepada tindakan-tindakan hati. Yang diperlukan adalah tindakan sosial, yang kesemuanya tersusun dalam kesatuan hukum : kesatuan ganda ucapan dan tindakan, peniadaan la ilaha, dan penegasan illallah tercakup di dalam kesaksian (syahadah), zakat sebagai aksi sosial, haji sebagai saling konsultasi antara masyarakat dan kesatuan ummat
E. Rekonstruksi pemikiran sufistik
Tasawuf merupakan sebuah ideologi perjuangan yang diterapkan secara terbalik, ideologi kemenangan batin dan spiritual diri dalam menghadapi pihak lain dengan meninggalkan dunia kekalahan. Tasawuf merupakan suatu jalan (thariqah) yang meliputi tiga tahap; tahap moral, tahap etiko psikologi dan tahap metafisik. Dengan ketiga komponen ini, akan mengalihkan komponen-komponen tahap moral dari jiwa ke tubuh, dan dari batin ke lahir, dari etika perorangan ke politik sosial, dari meditasi menyendiri ke tindakan terbuka, dan dari organisasi-organisasi tasawuf ke gerakan-gerakan sosial politik. Jika kaum sufi dan organisasi-organisasi sufi mampu melakukan tindakan-tindakan seperti itu, maka mereka akan mampu mempertahankan masyarakat muslim pada abad sekarang.
Dalam rekonstruksi tahap moral, tasawuf muncul sebagai ilmu etika yang bertujuan untuk menyempurnakan moral individu. Jika masyarakat hilang, paling tidak individu dapat dipertahankan. Tahapan-tahapan ini meliputi :
1. Dari jiwa ke tubuh; sejak awalnya, termasuk salah satu latar belakang kemunculannya, adalah untuk pensucian jiwa yang telah dikotori oleh nafsu serakah, ambisi, perusakan nilai-nilai, kecurangan dalam perilaku, dan lain-lain melalui latihan-latihan spiritual, perbaikan moral. Pada kondisi sekarang, tubuh pun tidak kurang parahnya dibanding jiwa : penyakit-penyakit pada organ, kelaparan, kekurangan gizi, dll. Oleh karena itu, jika semua masalah masa lampau dihubungkan dengan jiwa, maka semua masalah saat ini dihubungkan dengan tubuh.
2. Dari Ruhani ke Jasmani; tasawuf lama membuka suatu dunia ruhani baru sebagai kompensasi atas dunia jasmani yang material. Jika kekuasaan sosial dan politik merampas lahiriah, maka tasawuf mempertahankan batiniah. Persis bisa diibaratkan dalam dunia peperangan : “tentara kami bisa dikalahkan, namun cita-cita kami tidak bisa; kami kalah dalam pertempuran, namun tidak kalah dalam peperangan”. Dalam era sekarang ini, yang menjadi masalah utama adalah dunia lahir, pembangunan pedesaan dan perkotaan, industrialisasi, dll. Dengan demikian, bagaimana tasawuf memberikan respon terhadap persoalan-persoalan dunia lahir ini.
3. Dari meditasi menyendiri ke tindakan terbuka; sesuai dengan perkembangan zaman, maka tindakan-tindakan menyendiri dan individual diperlukan untuk perubahan-perubahan. Sebab, partisipasi rakyat dalam pembangunan ummat sangat diperlukan. Pembangunan spiritual bukanlah sebuah alternatif bagi pembangunan sosial melainkan sebagai komplementer baginya.
4. Dari organisasi sufi ke gerakan sosial politik; organisasi-organisasi sufi adalah besar dan dekat dengan rakyat, bahkan di seluruh dunia muslim memperoleh kepercayaan dari massa. Pada masa ini, kemungkinan bisa dialihkan menjadi kelompok-kelompok sosial terbuka untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Hal seperti ini pernah dilakukan sebelumnya oleh Sanusiyah di Libia, dan Mahdiyah di Sudan.
Dalam tahapan rekonstruksi tahap etiko psikologi, tasawuf berkembang dari moralitas praktis ke psikologi individual, dari ilmu perilaku ke psikologi murni nafsu manusia. Tasawuf tidak lagi berhubungan dengan tindakan lahir perilaku, melainkan tindakan batin kesalehan. Fokusnya bukan lagi pada anggota-anggota tubuh melainkan hanya pada tindakan-tindakan hati. Lebih tepatnya adalah langkah-langkah moral seperti sabar, taubat, syukur, miskin, zuhud, tawakal, dan lain sebagainya yang selama ini bersipat pasif menjadi langkah moral yang aktif, yakni sebuah tindakan yang memberi warna terhadap kehidupan sosial.
Rekonstruksi tahap metafisik merupakan tahapan puncak dan terakhir yang tidak memerlukan semua tindakan sebelumnya. Ia telah berada pada dunia atas. Pada kondisi sekarang, ia harus mengembalikannya lagi ke dunia bawah, dunia nyata; dari tahapan moral yang tinggi ke periode sejarah. Oleh karena itu, metafisik kesatuan dalam tasawuf dapat memainkan peranan sangat penting untuk mencapai kesatuan sebagai tujuan politik. Panteisme dapat direkonstruksi sebagai kerangka konseptual bagi Pan-Islamisme.
Pada situasi keagamaan sekarang ini, kedamaian batin menjadi suatu hal yang dicari manusia. Manusia yang dihinggapi rasa putus asa, sehingga menyebabkan berduyun-duyunnya rombongan ahli yoga dan dukun-dukun kebatinan ke Barat membentuk berbagai organisiasi. Dengan demikian, secara naluriah manusia kini merasakan betapa pentingnya meditasi dan kontemplasi. Dalam hal ini, Islam memiliki semua hal yang diperlukan bagi realisasi kerohanian dalam artian yang luhur. Tasauf adalah kendaraan pilihan untuk tujuan ini. Ia merupakan dimensi esoterik dan dimensi “dalam”, yang dalam prakteknya tidak bisa dipisahkan dari Islam itu sendiri. Oleh karena itu, secara sederhana, tasawuf selalu dihubungkan dan berhubungan erat dengan taqwa dan akhlak, sejajar dengan keterkaitan antara iman dan amal, antara hubungan dengan Tuhan (habl min Allah) dan hubungan dengan manusia (habl min al-nas). Tasawuf lebih berurusan dengan masalah-maslah inti (batin), maka ia juga berarti merupakan inti keagamaan yang bersipat esoteris, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan agama . Dari sudut ini, maka “ilmu” tasawuf tidak lain adalah penjabaran secara nalar (nazar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya taqwa itu. Penjabaran tentang taqwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti tersebutkan dalam sebuah hadits, “ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) Dia melihat engkau” . Hadits ini sejalan dengan firman Allah, “Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan” .
Tasawuf tidak didasarkan atas penarikan diri secara lahir dari dunia, melainkan didasarkan atas pembebasan batin. Sebagaimana dikatakan seorang sufi masa kini mengatakan : “adalah bukan aku yang meninggalkan dunia, dunialah yang meninggalkan aku”.
Berbeda dengan, misalnya, masyarakat Kristen atau Yahudi, masyarakat Muslim klasik – yaitu yang ada di masa Nabi dan para Khalifah yang bijaksana (al-khulafa al-rasyidun) – adalah suatu keseluruhan yang homogen dengan kesadaran keagamaan (religiusitas) yang tinggi. Religiusitas mereka itu melahirkan tingkah laku lahiriah yang penuh dengan budi luhur (al-akhlaq al-karimah) yang melandasi bangunan masyarakat yang mereka dirikan. Oleh karena itu, masyarakat inilah yang menjadi teladan untuk diwujudkan kembali oleh ummat Islam sepanjang sejarah, termasuk oleh kaum sufi. Peneladanan kepada masyarakat klasik itu melahirkan konsep Salafiyah (klasisisme). Masyarakat Salaf ini mewujudkan kesatuan tak terpisahkan antara taqwa dan akhlak, atau antara religiusitas dan etika .

F. Sufisme Baru (Neo-Sufisme)
Di Indonesia, Prof Hamka telah meletakkan dasar-dasar sufisme baru melalui buku terkenalnya Tasawuf Modern. Dalam buku ini banyak memberikan apresiasi yang wajar kepada penghayatan esoteris Islam, namun sekaligus disertakan peringatan bahwa esoterisme itu harus tetap terkendalikan oleh ajaran-ajaran standar syari’ah. Dengan demikian, pemikiran Hamka masih merupakan kontinuitas pemikiran al-Ghazali. Bedanya dengan al-Ghazali, Hamkla menghendaki suatu penghayatan keagamaan esoteris yang mendalam tetapi dengan tidak melakukan pengasingan diri (‘uzlah), melainkan tetap aktif melibatkan diri dalam masyarakat. Demikian pula halnya, Hamka mengikuti jejak pemikiran Ibn Taymiyah dan Ibnu Qayyim, yang oleh Fazlur Rahman kedua tokoh klasik ini dipandang sebagai perintis yang ia namakan sebagai Neo-Sufisme.
Neo Sufisme merupakan pemikiran sufistis yang terkait erat dengan syari’ah, atau menurut wawasan Ibn Taymiyah, jenis kesufian yang merupakan kelanjutan dari ajaran Islam itu sendiri sebagaimana termaktub dalam Alquran dan As-Sunnah, dan tetap berada dalam pengawasan kedua sumber utama ajaran Islam itu, dan tetap menjaga keterlibatan dalam masyarakat secara aktif . Fazlur Rahman menjelaskan bahwa sufisme baru itu memiliki ciri utama berupa penekanan kepada motif moral dan penerapan metode dzikir serta muraqabah atau konsentrasi keruhanian guna mendekati Tuhan, tetapi sasaran dan isi konsentrasi itu disejajarkan dengan doktrin salafi (ortodoks) dan bertujuan untuk meneguhkan keimanan kepada akidah yang benar dan kemurnian moral dan jiwa. Oleh karena itu, gejala yang dapat disebut dengan neo-sufisme ini cenderung untuk menghidupkan kembali aktifisme salafi dan menanamkan kembali sikap positif kepada dunia.
Dengan demikian, “sufisme baru” menekankan perlunya pelibatan diri dalam masyarakat secara lebih kuat daripada “sufisme lama”. Misalnya, pandangan tentang zuhud atau asketisme “klasik” yang pasif dan anti dunia dapat dibandingkan dengan pandangan zuhud “modern” sebagaimana terungkap dalam risalah kecil berjudul al-Ruhaniyat al-Ijtima’iyah (Spiritualisme Sosial) . Secara ringkas isi buku ini adalah : 1) Membaca dan merenungkan makna kitab suci al-Quran; 2) Membaca dan mempelajari makna kehadiran Nabi SAW melalui sunnah dan Sirah (biografi) beliau; 3) Memelihara hubungan dengan orang-orang saleh seperti para ‘Ulama dan tokoh Islam yang zuhud; 4) Menjaga diri dari sikap dan tingkah laku tercela; 5) Mempelajari hal-hal tentang ruh dan metafisika dalam al-Quran dan al-Sunnah dengan sikap penuh percaya; 6) Melakukan ibadat-ibadat wajib dan sunnah, seperti sembahyang lima waktu dan tahajjud; 7) Memberi peringatan yang keras terhadap palsunya hidup spiritualisme pasif dan isolatif (I’tizaliyah).
Ringkasan buku kecil tersebut mengemukakan suatu nilai yang sudah secara umum telah diketahui kaum muslim, yaitu nilai kesimbangan (mizan atau tawazun), sebagai salah satu prinsif yang terdapat dalam Alquran. Prinsip keseimbangan ini merupakan hukum Allah untuk seluruh jagad raya, sehingga apabila melanggar prinsip ini merupakan suatu dosa kosmis. Dan kalau manusia disebut sebagai “jagad kecil” atau “mikrokosmos”, maka manusiapun harus memelihara prinsip keseimbangan dalam dirinya sendiri, termasuk dalam kehidupan spiritualnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: