Posted by: amgy | February 9, 2008

ISLAM AGAMA KEMANUSIAAN

image00.gif

Adeng Muchtar Ghazali

Abstrak

Kebenaran ajaran Islam yang selama ini kita yakini sebagai Rahmatan lil alamin, mungkin hanya berlaku bagi sekelompok orang yang benar-benar meyakini secara menyeluruh tentang keagungan Islam itu sendiri sehingga bisa mengikat semua niat, ucapan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tauhid secara kontinyu dan konsekwen, dengan ruh yang bernafaskan Asma Allah. Seharusnya hati dipenuhi dengan pikiran dan makna Al-Qur’an, sedangkan tingkah laku penuh dengan makna Hadist Nabi, akan tetapi justru tidak semua orang yang beragama Islam itu mengetahui secara hakiki semua nilai kebenaran ajarannya Islam itu sendiri.
Kata Kunci:
Islam, Truth Claim, Inklusivisme, Keagamaan,

A. Islam dan Kehadiran Agama-agama Lain
Masing-masing agama memiliki klaim-klaim eksklusif, atau truth claim, sebaliknya, masing-masing agama pun memiliki pesan-pesan inklusif (inklusivisme keagamaan). Segi eksklusifitas ini, nampak pada masing-masing agama melakukan penyebaran misinya. Dalam Islam, penyebaran misi ini melalui “tugas” atau “panggilan” dakwah. Islam mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam melalui dakwah, suatu panggilan kepada kebenaran agar manusia yang bersngkutan dapat mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Karena dakwah merupakan “panggilan”, konsekuensinya adalah bahwa ia tidak harus melibatkan pemaksaan – la ikraha fi al-din.
Dengan demikian, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain, dan membenarkan para pemeluk agama lain tersebut untuk menjalankan ajaran agama masing-masing. Di sini terdapat dasar ajaran Islam mengenai toleransi beragama. Toleransi yang saya pahamai adalah tidak diartikan sebagai sikap masa bodoh terhadap agamanya, atau bahkan tidak perlu mendakwahkan ajaran kebenaran yang diyakininya itu. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman senantiasa terpanggil untuk menyampaikan kebenaran yang diketahui dan diyakininya, tetapi harus berpegang teguh pada etika dan tatakrama sosial serta tetap menghargai hak-hak individu untuk menentukan pilihan hidupnya masing-masing secara sukarela. Sebab, pada hakekatnya hanya di tangan Tuhanlah pengadilan atau penilaian sejati akan dilaksanakan. Pengakuan akan adanya kebenaran yang dianut memang harus dipertahankan. Tetapi, pengakuan itu harus memberi tempat pula pada agama lain sebagai sebuah kebenaran yang diakui secara mutlak oleh para pemeluknya.
Berkaitan dengan toleransi beragama itu, dalam perspektif teologi Islam, kerukanan hidup antar agama – dan konsekuensinya, antara umat beragama – tentu saja berkaitan erat dengan doktrin Islam tentang hubungan antara sesama manusia dan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Setiap agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup bukan saja antar manusia, tetapi juga antar sesama makhluk Tuhan penghuni semesta ini. Di dalam terminologi al-Qur’an misi suci itu disebut rahmah li al-‘alamin (rahmat dan kedamaian bagi semesta). Perspektif Islam tersebut tidak hanya berangkat dari kerangka-kerangka teologis Islam itu sendiri, tetapi juga berpijak dari perspektif Islam mengenai pengalaman historis manusia sendiri dalam hubungannya dengan agama-agama yang di anut oleh umat manusia. Oleh karena itulah, Islam mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan, atau mengatur hubungan antar manusia. Prinsip-prinsip itu antara lain :
Pertama, Islam pada essensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara sangat positif dan optimis. Menurut Islam, manusia berasal dari satu asal yang sama; keturunan Adam dan Hawa. Tetapi kemudian manusia menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum atau berbangsa-bangsa lengkap dengan kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan ini mendorong manusia untuk saling kenal-mengenal dan menumbuhkan apresiasi dan respek satu sama lain. Dalam pandangan Islam, perbedaan itu, bukanlah warna kulit dan bangsa, tetapi hanyalah tergantung pada tingkat ketaqwaan masing-masing. Inilah yang menjadi dasar perspektif Islam tentang “kesatuan umat manusia” (universal humanity), yang pada gilirannya akan mendorong berkembangnya solidaritas antar manusia (ukhuwah insaniyah).
Kedua, dalam perspektif Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Dengan fitrahnya setiap manusia dianugerahi kemampuan dan kecenderungan bawaan untuk mencari, mempertimbangkan dan memahami kebenaran, yang pada gilirannya akan membuatnya mampu mengakui Tuhan sebagai sumber kebenaran tersebut. Kemampuan dan kecenderungan inilah disebut sebagai “sikap hanif”. Atas dasar prinsip ini, Islam menegaskan prinsipnya bahwa setiap manusia adalah homo religious. Di dalam al-Qur’an, manusia hanif itu diidentifikasikan dengan Nabi Ibrahim yang dalam pencarian kebenaran pada akhirnya menemukan Tuhan yang sejati. Menurut yang saya ketahui, Ibrahim dipandang sebagai tiga panutan agama: Yahudi, Kristen dan Islam, sehingga dikalangan ahli Ilmu Perbandingan Agama disebut sebagai “agama Abrahamik” (Abrahamic Religions).
Menurut yang saya pahami, bahwa pluralisme keagamaan di antara umat manusia tidak bisa dihindari lagi, bahkan pluralisme ini merupakan hukum Tuhan (sunnatullah). Karena itu, agama (dalam hal ini Islam) tidak boleh dipaksakan oleh siapapun kepada siapapun, karena jika Tuhan menghendaki, dalam keyakinan Islam, maka semua manusia akan beriman. Dengan demikian, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain; dan membenarkan para pemeluk agama lain untuk menjalankan ajaran agama masing-masing, sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Muhammad ketika hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Pembentukan negara-kota Madinah merupakan momen historis sejauh menyangkut implementasi kerangka teologis, doktrin dan gagasan kerukunan keagamaan Islam terhadap penganut agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani berupa Piagam Madinah atau sering disebut Konstitusi Madinah. Oleh karena itu, dalam konteks sekarang, dimana pemahaman mengenai pluralisme agama semakin berkembang,, berkembang pulalah suatu faham teologia religionum, suatu faham yang menekankan pentingnya berteologi dalam konteks keragaman agama. Pada tingkat pribadi, hubungan antar tokoh agama di Indonesia mungkin tidak menjadi persoalan. Tetapi pada tingkat teologis, yang merupakan dasar dari agama itu, muncul kebingungan-kebingungan, khususnya mengenai bagaimana kita harus mendefinisikan diri di tengah-tengah agama-agama lain yang juga eksis.
Kerukunan beragama adalah suatu sikap dalam pergaulan antar umat berama, tentu memerlukan etika atau norma-norma tertentu, sehingga secara bertahap, kerukunan hidup antar umat beragama menjadi etika dalam pergaulan kehidupan beragama. Hugh Goddard (1999 : 130), seorang Kristiani Inggris yang ahli teologi Islam, mengingatkan tentang etika pergaulan itu, bahwa demi kerukunan antar umat beragama, maka harus dihindari penggunaan “standar ganda” (double standars). Orang-orang Kristen maupun Islam, misalnya, selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, yang biasanya standar yang bersipat ideal dan normatif. Sedangkan terhadap agama lain mereka memakai standar lain yang lebih bersipat realistis dan historis. Melalui standar ganda inilah muncul prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh suasana hubungan antar umat beragama.
B. Tantangan Agama-agama Dewasa Ini
Yang sering kita hadapi tentang keberagaman agama, pada umumnya cenderung melihat perbedaannya ketimbang persamaannya. Namun demikian, kecenderungan melihat perbedaan itu pun tidak perlu disalahkan karena setiap orang beriman senantiasa ingin mencari, menggenggam dan membela kebenaran yang diyakininya berdasarkan pengetahuan dan tradisi yang dimilikinya. Sikap demikian sangat terpuji selama tidak menimbulkan situasi sosial yang destruktif.
Secara empiris adalah suatu kemustahilan jika kita mengidealisasikan munculnmya kebenaran tunggal yang tampil dengan format dan bungkus tunggal, lalu ditangkap oleh manusia dengan pemahaman serta keyakinan yang seragam dan tunggal pula. Oleh karena itu, tantangan yang selalu kita hadapi antara lain adalah bagaimana merumuskan langkah konstruktif yang bersipat operasional untuk mendamaikan berbagai agama yang cenderung mendatangkan pertikaian antar manusia dengan mengatasnamakan kebenaran Tuhan. Usaha ini tidak hanya diarahkan pada hubungan antar pemeluk agama secara eksternal, melainkan terlebih dahulu diarahkan pada hubungan intra umat beragama. Seseorang akan sulit bersikap toleran terhadap agama lain jika terhadap sesama pemeluk agama yang sama saja sulit untuk menghargai perbedaan paham yang muncul. Pada sisi lain, seringkali kita jumpai pula, konflik antara pemeluk agama semakin tidak jelas manakala kepentingan agama sudah berbaur dengan kepentingan etnis, politis dan ekonomis . (lihat kasus, Maluku, Sampit, dan peristiwa-peristiwa “yang berbau” konflik agama lainnya).
Tantangan lain yang dihadapi sekarang ini berkaitan dengan munculnya “ketidakpercayaan” manusia kepada agama formal (organized religions). Akhir-akhir ini muncul istilah New Age, zaman Baru, dimana ada usaha meninggalkan agama-agama yang terorganisasi (organized religions) yang dipandangnya cenderung miskin akan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Muncul dalil dari John Naisbitt dan istrinya Aburdene untuk menyimpulkan dalam satu statemen : spirituality, yes; organizes religion, no!. Bagi mereka, penganut New Age, agama-agama formal (organized religions) tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal, sehingga ritus-ritus formal dan label-label yang membungkusnya akan semakin ditinggalkan orang. Thomas Jefferson dan Albert Einstein adalah dua tokoh terkemuka sebagai penganut aliran semacam deisme alami ini.
Kemunculan New Age, berawal dari penilaiannya bahwa kebangkitan peradaban Barat kosong dari nilai-nilai spiritualitas dan lepas dari tuntunan ajaran-ajaran keagamaan Kristen, yang menjadi agama resmi saat itu. Karena itu, gerakan New Age berpaling dari agama-agama Barat untuk kemudian mengarahkan kepada agama-agama Timur semisal Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, agama asli Amereika, dll. Namun demikian, karena agama-agama Timur yang formal itu juga terkadang cenderung tidak toleran terhadap keyakinan yang dipegang oleh pemeluk agama yang berbeda, maka gerakan New Age tidak terbatas hanya pada satu keyakinan saja, tetapi mencampuradukkan pemikiran-pemikiran esoteris agama-agama formal itu. Salah satu fenomena New Age yang paling ekspresif, adalah menjadikan istilah “Tao” sebagai istilah kepustakaannya, suatu istilah yang mencoba melakukan perpaduan rasionalitas Barat dengan kearifan Timur. Seolah-olah Tao menjadi bagian dari bahasa Inggris untuk menunjukkan “kearifan”. Tidak heran muncul judul-judul buku yang berparadigama Tao, seperti The Tao of management, the Tao of Leadershif, dll. Dalam refleksi keagamaan kita menemukan the Tao of Jesus (1994), the Tao of Islam (1993) tulisan seorang ahli sufi Sachiko Murata.
Bagi kita penting untuk mernghadirkan ajaran-ajaran agama kepada mereka untuk bisa membuktikan bahwa betapa pentingnya peran keyakinan akan ketuhanan (menanamkan nilai-nilai ilahiyah, sebab kehidupan manusia yang otentik adalah yang tetap dan menjaga terus “tali” yang menghubungkan kemanusiaannya dengan nilai-nilai ketuhanan. Demikian juga halnya, agama dituntut melahirkan ajaran-ajaran yang lebih menyentuh nilai-nilai kemanusiaan tidak bersipat artifisial, bombastis dan verbalisme, yang sebenarnya hanya “di langit” saja. Demikian pula sebaliknya, ajaran agama tidak bisa hanya mewajibkan para penganutnya untuk secara formal menjalankan ritus-ritus yang diwajibkan, yang jika dilakukan diberi ganjaran (reward) dan jika diabaikan diberi siksa (punishment). Agama justru harus dihadirkan sebagai suatu kesadaran yang menjadi bagian dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sebab, pada dasarnya ajaran itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan.
Untuk itu, kenyataan dan tantangan yang kita hadapi adalah terjadinya kesenjangan antara ajaran dan pelaksanaan. Banyak orang yang mengaku dan menganut agama tetapi tidak beragama, dalam pengertian lain, banyak yang mengakui kewajiban dan pelarangan agama, tetapi tidak melaksanakan dan melanggarnya. Persoalannya, apakah “kesalahan” itu ada pada agama atau penganutnya? Nurcholish Madjid mempertegas, bahwa “jika agama tidak dapat mempengaruhi tingkah laku pemeluknya, maka apalah arti pemelukan itu?” Kenyataannya, banyak orang yang sangat serius memeluk agamanya tanpa peduli tuntutan nyata keyakinannya itu dalam amal perbuatan dan tingkah laku. Sementara, kita menemukan adanya orang-orang yang memiliki komitmen positif pada masalah sosial, tanpa memperdulikan pada keyakinannya – “kesalehan tanpa iman” (piety without faith).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: