Posted by: amgy | February 11, 2008

Islam Dan Pemikiran Sufistis

Oleh Adeng Muchtar Ghazali

    Istilah “tasawuf” (sufism), memiliki bermacam-macam arti. Secara etimologis, tasawuf berasal dari kata “sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asketik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah shafa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie, artinya ilmu ketuhanan. Yang lain menyatakan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), menunjukkan adanya sekelompok Muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.         Dengan demikian bisa disimpulkan, bahwa istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin. Sedangkan secara terminologis, ada beberapa pengertian, diantarnya bahwa tasawuf atau sufisme (تصوف) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Imam Junaid dari Baghdad mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”. Juga, Syekh Ahmad dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai ”ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata”.

        Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, dan faham-faham Islam yang lain, atau merupakan kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufistis ini muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, hingga sampai sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, bahwa istilah tasawwuf ini, pada perkembangan awalnya bukan digunakan untuk pengertian tasawwuf seperti yang diketahui sekarang, tetapi, pada awalnya digunakan untuk menunjukkan orang-orang yang berpaling dari dunia, yaitu para zahid dan ahli ibadah. Sejalan dengan pendapat ini, Fazlur Rahman mengatakan bahwa permulaan gerakan sufi berhubungan dengan satu kelompok muslim yang senang melakukan pertapaan. Mereka senang membaca al-Quran dengan cara menangis. Mereka juga senang bercerita. Cerita-cerita mereka sangat mempengaruhi para pendengarnya. Akan tetapi, yang penting di sini adalah bahwa Nabi saw. “sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya“ adalah seorang sufi. Demikian juga halnya para sahabat beliau. Hanya saja, waktu itu belum dikenal yang namanya tasawuf. Dalam perkembangan sekarang, Azyumardi Azra menyatakan, bahwa sufisme merupakan fenomena umum yang terjadi hampir di seluruh negara muslim pada masa pasca modernisme, bahkan di negara-negara yang berpenduduk minoritas muslim seperti Amerika dan Inggris sekalipun. Salah satu penyebabnya adalah, karena modernisme dianggap gagal memenuhi dan menjawab persoalan-persoalan kebutuhan spiritual masyarakat modern. Bahkan, Sayyed Hussein Nasr, tokoh dan pemikir muslim yang masyhur dalam persoalan tasawuf, mengungkap adanya kegagalan kaum modernis dalam merespon kebutuhan spiritual, sehingga yang terjadi adalah keringnya nilai-nilai spiritualitas (lemah dalam kecerdasan spiritual) sebagai ruh kehidupan manusia.
Alqur’an bisa menjadi sumber dan inspirasi kehidupan sufistis. Misalnya, dalam Alqur’an (17:1; 53 :1-12 dan 13-18; 81 : 19-25; 2 : 115 dan 186) menyiratkan kecenderungan pada kehidupan sufistis. Demikian pula dalam Hadis nabi : ”siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal pada Tuhan”. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan dan dinamika pemikiran Islam, tasawuf pun tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh luar. Beberapa ahli pemikiran banyak yang menyebutkan bahwa tasawuf banyak dipengaruhi oleh faham Kristen, Hindu dan filsafat Pythagoras, yang pada intinya memberi pengaruh terhadap cara-cara sufistis, yaitu meninggalkan kehidupan material dan dunia dan memasuki dunia kontemplasi. Demikian pula, pengaruh dari filsafat Plotinus dengan teori emanasinya, bahwa roh memancar dari zat Tuhan dan kemudian akan kembali kepadaNya. Namun, dengan masuknya roh ke alam materi, maka ia menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat yang Maha Suci, terlebih dahulu harus disucikan.
Dalam pemikiran sufistis, selalu dibedakan antara syari’at dan hakekat. Dalam menjelaskan syari’at dan hakekat, kaum sufistis menggunakan kiasan seperti ini : ”Ibarat bahtera itulah syari’at; Ibarat samudera itulah thariqat; Ibarat mutiara itulah haqiqat”. Ungkapan dari syair ini menjelaskan kedudukan tiga jalan menuju akhirat. Syari’at ”ibarat kapal”, yakni sebagai instrumen mencapai tujuan; thariqat ”ibarat lautan”, yakni sebagai wadah yang mengantar ke tempat tujuan; dan, haqiqat ”ibarat mutiara” yang sangat berharga dan banyak manfaatnya. Oleh karena itu, agama ditegakkan di atas syari’at, karena syari’at adalah peraturan dan undang-undang yang bersumber kepada wahyu Allah. Perintah dan larangannya jelas dan dijalankan untuk kesejahteraan seluruh manusia. Menurut Syaikh al-Hayyiny, syari’at dijalankan berdasarkan taklif (beban dan tanggungjawab) yang dipikul kepada orang yang telah mampu memikul beban atau tanggungjawab (mukallaf). Haqiqat adalah apa yang telah diperoleh sebagai ma’rifat. Syari’at dikukuhkan oleh haqiqat dan dibuktikan oleh syari’at. Syari’at adalah bukti pengabdian manusia yang diwujudkan berupa ibadah, melalui wahyu yang disampaikan kepada para Rasul. Haqiqat itu sendiri merupakan bukti dari penghambaan (ibadah) manusia terhadap Allah SWT, dengan tunduk kepada hukum syari’at tanpa perantaraan apapun. Haqiqat adalah akhir perjalanan mencapai tujuan. Untuk menempuh jalan menuju akhirat, haqiqat adalah tonggak terakhir. Dalam haqiqat itulah manusia yang mencari dapat menemukan ma’rifatullâh. Ia menemukan hakikat yang tajalli dari kebesaran Allah Penguasa langit dan bumi. Kaum syari’at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat, tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat, yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.
Atas dasar itu, maka mengintegrasikan syariat dengan hakekat bisa menjadi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang muslim. Syariat merupakan elaborasi dari kelima pilar Islam, sedangkan hakekat yang berpangkal pada ajaran ihsan, an-ta’budallaha ka-annaka tarah, fa-in-lam takun tarah, fainnahu yarak, (”hendaknya kalian beribadah (bersyariat) seakan-akan kamu milhat-Nya, jika tidak sesungguhnya Dia melihatmu”). Implikasinya, jika dalam syariat diwajibkan thaharah (bersuci) sebelum melaksanakan ibadah, maka untuk mampu menembus penglihatan Tuhan, tasawuf dengan hakekatnya, mewajibkan penyucian diri melalui pintu taubat. Inilah bukti ungkapan ”haqiqat tanpa syari’at menjadi batal, dan syari’at tanpa haqiqat menjadi kosong.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: