Posted by: amgy | February 11, 2008

Sepakbola Profesional, Penonton pun harus profesional!

Adeng Muchtar Ghazali

    Sejak kecil saya suka ’maen bola’, sekaligus sebagai penonton fanatik olahraga paling populer sejagat ini. Pada saat Jepang maupun Korea tidak ada apa-apanya dalam sepakbola, Indonesia sudah maju selangkah ketimbang mereka, pernah maen dalam sepakbola Olympiade melawan Soviet, dan prestasi terahir Indonesia adalah juara 4 dalam salah satu Asian Games. Tapi, sejak masuknya sepakbola dengan sistem pembinaan profesional, sampai sekarang belum ada prestasi yang bisa dibanggakan dalam sejarah sepakbola kita.     Sekarang ini, berapa tingkat sepakbola kita di bawah Jepang dan Korea. Jangankan dengan mereka, dengan Vietnam dan Kamboja saja yang sepakbolanya dipandang masih terbelakang  dibanding Malaysia, Singapura dan Indonesia di wilayah  Asia Tenggara, susah mengalahkannya, bahkan Indonesia pernah dikalahkannya. Pertanyaannya, apakah perubahan dari pola pembinaan amatiran (perserikatan) kepada profesional menjadi penyebab semakin terpuruknya sepakbola kita? Ata, ada penyebab lain?

    Dari satu sisi, perubahan pola pembinaan sepakbola ‘amatiran’ (perserikatan) kepada profesional yang dilakukan PSSI adalah menggembirakan, jika memang niatnya untuk bagaimana sepakbola Indonesia bisa tampil di pentas dunia kelak, bukan hanya sekedar aspek bisnis semata, sebab yang namanya ”profesional” tidak lepas dari unsur ”bisnis”. Tapi pada sisi lain, perubahan pola pembinaan itu lebih banyak kelemhannya dibanding kelebihannya, jika dilihat dari beberapa aspek diantaranya ’kultur’ sepakbola kita, baik dari sisi pengurus dan pemain, maupun para penonton.

    Kultur sepakbola Indonesia sangat kental dengan semangat kedaerahannya, mulai dari soal manajemen, pemain, sampai penonton, ketiga-tiganya harus sejalan dalam semangat kedaerahannya. Jika ada pemain yang bukan asli daerahnya, maka pemain tersebut kemampuannya di atas pemain ’asli’ daerah, dan yang lebih penting lagi, rasa memiliki ’daerah baru’nya harus  mendekati atau sama dengan pemain asli. Mekanisme perekrutan pemain seperti inilah yang terjadi di era sepakbola perserikatan. Bukan semata-mata uang yang dikejar, tetapi kebanggaan sebagai pemain yang dimiliki daerah dan dicintai para pendukungnya. Uang, dan bentuk-bentuk materi lainnya, mengikuti sejalan dengan prestasi dan loyalitas yang diraihnya. Jika berprestasi, disamping gajih, bonus, dan rumah, setiap pemain memperoleh pekerjaan dan popularitas. Ketika dia terpilih jadi pemain nasional, kebanggaan dan semangat daerah dibawa menjadi semangat dan kebanggaan nasional. Setiap pemain yang berasal dari daerah-daerah yang ada di Indonesia, masing-masing telah memiliki modal semangat kedaerahan yang sipatnya lokal kemudian menyatu dengan pemain daerah lainnya menjadi semangat nasional. Lihatlah semangat bemain para pemain perserikatan ketika mewakili Indonesia pada event internasional, kita bisa sebut pemain sekelas Iswadi Idris, Ronny Pattinasarane, Hery Kiswanto, Rony Paslah, Robby Darwis, Hadi Ismanto, dan lain-lain, begitu piawai dan senantiasa memiliki semangat nasionalisme yang tinggi; dan  Indonesia menjadi ’macan’ Asia bukan isapan jempol.

    Tampaknya, di era profesionalisme sepakbola sekarang ini, semangat nasionalisme yang berawal dari semangat kedaerahan (masing-masing klub), melemah, seolah-olah menjadi pemain nasional tidak lagi menjadi kebanggaan. Saya kira, salah satu faktornya adalah ”uang”. Para pemain dikontrak rata-rata hanya satu musim dengan gaji besar. Semangat uang lebih didahului ketimbang semangat klub. Kalaupun tidak terpake lagi, bisa mencari klub lain! Faktor pelatih dan manajemen pun sangat menentukan lahir tidaknya pemain bermental ’sepakbola’. Apalagi disinyalir adanya praktek mafia dan manipulasi kontrak para pemain yang tidak sesuai dengan yang diterima pemain. Jangan-jangan pemain yang tidak berkualitas pun bisa menjadi pemain klub atau pemain nasional, asal kontrak maupun gajinya bisa dibagi-bagi dengan pelatih maupun manajemen.

    Bagaimana dengan penonton? Semangat kedaerahan penonton memang menjadi sisi negatif. Betapa tidak, perang antar pendukung selalu melahirkan korban luka bahkan kematian! Tuntutan profesional para penonton pun mutlak diperlukan, dalam hal ini keterlibatan manajemen dalam mengorganisir para pendukung harus segera dilakukan. Salah satunya, para pendukung setiap klub adalah yang sudah terdaftar di masing-masing klub, termasuk salah satu persyaratan dalam membeli tiket apabila mau nonton ke stadion. Kalaupun sudah terbentuk klub-klub pendukung, seperti Aremania, JackMania, Viking, dan lain sebagainya, keberadaannya di bawah manajemen masing-masing klub. Sehingga, ada tugas baru manajemen, yaitu mengorganisir dan membina para pendukung setianya.

Bravo PSSI, Bravo Klub-klub, dan Bravo pula pecinta sepakbola Indonesia, dan selamat pula kepada klub Sriwijaya F.C menjadi Juara Liga dan Copa Indonesia 2007.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: